Pulau Berdarah #16

0
321
views

“REDIAZ PELAKUNYA!”

Kami saling tatap satu sama lain, saling menukar pikiran. Benarkah Rediaz yang melakukan ini semua tapi kenapa?.
Apa yang membuat dia melakukan hal keji ini terhadap kami?
Bukankah kami adalah teman dia juga.

Menyadari itu aku hanya bisa menangis. Mungkinkah benar kamu yang melakukannya Rediaz?
Pertanyaanku hanya mengambang terbang di bawa angin, tidak terjawab sama sekali.

“Ayo Ra, kita harus pergi. Mungkin saja Rediaz masih ada di sekitar sini. Dia bisa saja membunuh kita semua!”

Ku melirik ke arah Velira yang barusan bicara, entah mengapa aku tidak suka saat dia mengatakan Rediaz akan membunuh kami semua. Namun aku hanya diam.
Perasaan kecilku menuntut untuk tidak percaya kalau Rediaz yang melakukan hal ini, namun sebuah sapu tangan miliknya yang tergeletak di sisi mayat Kiara memaksaku untuk percaya.

“Kenapa kita gak menyadarinya dari awal?” tanya Jimmy dengan berurai air mata.

“Ayo kita pergi!”

Aku hanya membiarkan tubuhku di peluk Ivoy, dia yang menompangku untuk kuat berjalan. Aku tidak tahu kami akan pergi kemana, yang jelas kami harus segera pergi dari sini.

Belum ada beberapa langkah kami menjauhi Resort, kami dibuat kaget dengan kemunculan sosok bertopeng dengan jubah hitam yang begitu tiba-tiba. Dia mengenggam samurai penuh darah di tangan kanannya, dengan tatapan membunuh ke arah kami semua.

“Buka topeng lo itu, gue tau lo Rediazkan. Gak usah sok misterius deh. Dasar gak punya otak lo ya, teman sendiri mau lo bunuh!”

Itu suara Kafka.

Dia memaki manusia bertopeng yang di anggapnya Rediaz itu penuh amarah dan juga air mata, ia menangis karena harus berbicara kasar pada teman sendiri.

Huhuhu..

“Apa motif lo menghabisi nyawa kami semua?”

Itu Jimmy yang mengatakannya.

Ku lihat manusia bertopeng itu tak berganjak sama sekali dari tempatnya berdiri. Dia hanya diam tanpa berniat membalas setiap kata demi kata yang di lontarkan padanya.

Namun itu tak bertahan lama saat dengan gerakan tiba-tiba dia melempar samurainya ke arah kami.

Tentu saja kami terpaku dengan pemandangan di depan kami, sesuatu yang tajam dan menjijikan sedang meluncur ke arah kami.

Istingku mengatakan aku harus menghindar.

Seperkian detik…

Sreeeeeeeettttttt……

Tuk…

Tukk…

Aku berjengit saat darah muncrat di wajahku, darah siapa aku tidak tahu. Tahu-tahu aku merasakan sesuatu di bawah kaki ku, sesuatu itu seperti…,

Kepala?

Ya tuhan, itu kepala Kafka.

Rasa terkejut membuat aku menoleh kesampingku dimana disana tergeletak tubuh Kafka dengan kepala yang terpeggal, darah mengucur deras dari lehernya menciptkan genangan darah disana.

Aku hanya menggeleng-geleng tak percaya, lagi-lagi harus menerima kenyataan. Kedua temanku sudah mati secara mengenaskan dan pelakunya adalah lelaki keparat didepanku. Siapa sebenarnya dia?

“Kau kejam!”

Jimmy lagi-lagi berteriak ke arah manusia bertopeng yang kini melangkah mendekati kami.

“Lari, kita harus lari!”

Tahu-tahu aku sudah merasakan tubuhku bergerak dengan sendirinya mengikuti langkah kaki Ivoy membawaku pergi, kemudian ku dengar kedua temanku yang masih tersisa juga ikut menyusul.

Ya Tuhan selamatkanlah kami.

Kami berlari kembali masuk ke dalam hutan, berharap bisa menemukan tempat berlindung. Kami terus berlari tak peduli keadaan kami yang semakin lelah, rasa sakit akibat goresan semak-semak ku tahan sebisa mungkin.

“Aku sudah lelah!” teriak Velira kesal, seketika menghentikan langkahnya.

Ku lihat pancaran kemarahan di bola matanya, apa yang terjadi?
Untuk siapa tatapan itu?

Ku lihat dia berjalan mendekati Ivoy yang kebetulan berada di sampingku, dia menatap Ivoy dengan tatapan yang sama. Kemudian ku lihat dia mengangkat tangannya lalu…..,

PLAKKKK….

Velira, dia menampar Ivoy.

“Ini semua gara-gara Kakak kalau saja Kakak gak ngajak kami liburan disini. Tentu kita gak bakalan ngalami hal semengerikan ini. Kenapa Kak? Kenapa kakak memilih tempat ini?”

Ku lihay Ivoy hanya berdiri mematung, sama sekali tak menatap ke arah Velira yang terus-terusan menangis di hadapannya, meminta Ivoy agar menjawabnya.

Huhuhuhu…

“Kenapa Kak?”

Tak terima disalahkan Ivoy mendorong Velira hingga gadis itu mundur beberapa langkah menjauhinya.

“Jangan nyalahin gue aja dong, salah lo juga kenapa lo ikut. Gue gak ada ngajak lo Vel!”

“Tapi lo yang milih tempat ini, masa lo gak tahu imformasi apapun tentang pulau ini!”

Ku lihat Ivoy menoleh ke arah Jimmy yang barusan bersuara, dapat ku lihat ke kacauan di wajah tampan Ivoy.

“Gue gak tau kalau pulau ini begitu menyeramkan!”

“Bodoh!”

“Kau…!”

“Stoppp…, tidak ada gunanya kalian berdebat seperti ini. Itu percuma saja!”

Aku mengatakan hal yang sebenarnya, tidak ada gunanya berdebat lagi. Hal ini sudah terjadi yang lalu biarlah berlalu. Tidak ada gunanya saling menyalahkan di situasi seperti ini.

“Kita harus segera pergi dari sini sebelum Rediaz kembali mengejar kita!” ajakku

“Gue gak akan lari lagi, gue bakalan lawan tuh anak. Mungkin otaknya udah geser kali ya, temen sendiri kok mau di bunuh!”

Ku lihat kemarahan di wajah Ivoy.

“Jangan bodoh deh, dia itu pake Samurai dan kamu mau lawan pake apa!”

“Aku jago bela diri kok Rei!”

Srakkkk…

Srakkk…

Seketika kami berhenti bicara saat telinga kami mendengar gemerisik di balik sema-semak, aku dan yang lainnya menatap kedepan penuh kewaspadaan.

Hanya terdengar deru nafas dan detak jantung yang saling bersahutan.

Ku akui aku takut sekali.

Srakkkk…

Sraakkk….

Aku menatap ketiga temanku yang juga menatap ke arah yang sama, menanti sesuatu itu muncul dibalik semak-semak.

Deg!

Deg!

“Ah, sialan cuma tikus hutan!”

Dapat ku lihat kelegaan di wajah Ivoy yang barusan mengumpat, ada senyum di bibirnya. Mungkin merasa lucu sudah di kerjai oleh seekor tikus.

Aku pun ingin tertawa menyadari ketegangan yang sempat kami alami tadi. Dasar tikus..

Namun memang nasib kami malang, lagi-lagi keadaan memaksa kami harus berlari saat dengan tiba-tibanya sosok bertopeng itu sudah berada di hadapan kami.

Keterkejutan membuat kami berlari memisahkan diri, aku dan Jimmy ke kanan sedangkan Ivoy dan Velira ke kiri.

Aku tidak tahu sosok itu pergi ke arah mana tetapi saat aku menoleh sosok itu tak ada di belakang kami, aku mengambil kesimpulan bahwa dia mengejar ke arah kiri lebih tepatnya mengejar Ivoy dan Velira.

Aku hanya bisa berharap mereka baik-baik saja dan bisa kabur dari kejaran manusia bertopeng.

“Aku takut Ra, aku takut!”

“Aku juga takut Jim, makanya ayo kita terus lari!”

“Tapi aku sudah sangat lelah Ra!”

“Kamu pikir hanya kamu saja yang lelah, aku juga!” teriakku kesal.

“Jangan hanya menangis aja dari tadi, kamu itu cowok Jim. Tunjukan kalau kamu itu memang cowok!”

Hening.

Tidak ada lagi suara rengekan Jimmy.

Kini laki-laki itu sudah diam tak lagi menangis, tatatapannya lurus kearah ku.

“Baiklah, aku akan tunjukan padamu Ra, kalau aku ini benar-benar cowok sejati!”

Heh, kenapa tiba-tiba?

“Apapun yang terjadi tolong pergilah segera, cari tempat persembunyian yang aman untuk mu!”

Aku makin tak mengerti apa yang sedang Jimmy katakan, apa dia tersinggung dengan ucapanku barusan. Perubahannya sungguh tiba-tiba. Kemana perginya Jimmy yang cengeng tadi, yang terus mengeluh ini dan itu.

Belum sempat aku berpikir lebih jauh mengenai perubahan yang dialami Jimmy, tubuh ku terasa di dorong dengan keras hingga jatuh ke samping.

“Lariiii!”

Itu suara Jimmy.

Aku menoleh ke arahnya dan mendapati kini Jimmy sedang berhadapan dengan manusia bertopeng, dia sudah kembali?

Secepat itukah?

Atau mungkin dia sudah berhasil membunuh Azam dan Velira, lalu berbalik mengejar kami.

Aku masih berada disana menatap terpaku pada kedua tangan Jimmy yang sedang menahan samurai itu agar tidak menusuknya. Tangannya sudah penuh dengan darah akibat tergores karena menahan samurai itu tanpa perlindungan apapun.

“Ku mohon pergilah lari Clara, selamatkan dirimu!”

“Tapi Jim…”

“PERGIII…”

Mungkin yang Jimmy inginkan aku secepatnya pergi dari tempat ini, baiklah aku akan pergi walaupun sebenarnya hatiku tidak mampu meninggalkan Jimmy sendirian di sini. Dia bisa saja mati di tangan manusia bertopeng itu.

Memaksakan diri aku segera beranjak meninggalkan tempat itu dengan air mata yang semakin laju mengalir.

Aku tidak benar-benar pergi, aku memutuskan untuk tetap di sini namun aku bersembunyi berharap kegelapan hutan dan malam yang semakin pekat mampu menyembunyikan aku dari penglihatan si manusia bertopeng.

Sreeeeeeeettttttt…

Aku hampir saja berteriak saat ku lihat samurai itu berhasil meberobos dinding pertahanan Jimmy, darah keluar dari mulutnya. Aku tak bisa bayangkan gimana rasanya jadi Jimmy, pasti itu sakit sekali.

Brrruuukkk…

Tubuh Jimmy ambruk ke tanah dengan tancapan samurai di dadanya, aku hanya bisa menangis tertahan menyaksikan pemandangan di depanku.
Sungguh mengerikan.

Sreeeeeeeettttttt……

Crrrrrraaaassahhhh….

Aku menekup mulutku mencegah aku berteriak saat aku saksikan dengan kedua mataku sendiri, tubuh Jimmy dicincang dan dikuliti oleh sosok berjubah itu. Aku hanya bisa menangis saat melihat Jimmy tak lagi bernyawa, ia telah mati dengan keadaan tubuh yang terpotong-potong.

Dari balik tempatku bersembunyi ku melihat sosok yang kami yakini adalah Rediaz menggenggam segumpal daging di tangan kanannya, aku tahu itu adalah sebuah jantung. Jantung Jimmy yang ia ambil.

Setelah dia pergi aku baru melepaskan tangisanku, menyadari hanya akulah yang masih tersisa, tertinggal sendirian di pulau ini. Aku tidak tahu akankah aku bisa selamat atau juga akan bernasib sama dengan yang lainnya.

Mati sia-sia di pulau ini.

“Aku merindukan rumah!”

Aku jadi mengingat kembali rumah yang aku tinggalkan, seraut wajah-wajah kedua orangtua ku, Verlyn, nenek dan kakek. Aku jadi merindukan mereka, walaupun aku tahu mereka sama sekali tidak peduli padaku. Atau bahkan mereka tak pernah merasa kehilanganku, air mataku kembali mengalir merenungi nasibku yang malang.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here