Pulau Berdarah #15

0
340
views

‘Tap, tap, tap…

Alena memejamkan matanya saat telinganya menangkap suara langkah seseorang mendekat, siapa lagi itu?

“Oh oh oh, ada apa ini?”

DEG!

Suara itu?

Ana menggelengkan kepalanya mencoba membuang jauh-jauh pikirannya itu, begitu kuatnyakah pesona lelaki itu hingga sampai ke Kampuspun dia masih mendengar suaranya.

“Hey, Om!”

Alena berdiri mematung saat laki-laki bernama Daren itu menyingkir dari hadapannya, menyosong lelaki yang barusan dia sapa Om.

OM?

“Sudah lama tidak berjumpa ya?”

DEG!

DEG!

Alena yakin sekali suara itu terdengar dekat dibelakangnya, tapi tidak mungkin…,

“Ya, kira-kira tiga tahun yang lalu terakhir kita bertemu. Kemana Om pergi?”

“Eit eit, kamu dilarang memanggil saya dengan sebutan Om disini karena disini saya adalah seorang dosen, kamu harus memanggil saya Pak!”

“Hmm,,”

Daren bersedekap menilai sosok Ayah dari sahabatnya itu yang masih terlihat tampan meski sudah berumur, dia merasa takjub sekaligus terkejut bisa bertemu dengan lelaki ini dengan kondisi yang seperti ini.

Om Teddy lebih terlihat fresh dari terakhir kali dia melihat lelaki ini, kira-kira tiga tahun yang lalu.

Masih ingat jelas diingatannya betapa terpukulnya Om Teddy dan Tante Violin saat mendengar kabar kematian Ivoy sahabatnya di pulau seram yang sekarang menjadi kenangan berdarah yang tak terlupakan dalam hidupnya, Rediaz dan juga Clara.

“Om eh maksudku Bapak kok lebih terlihat tampan sekarang, seperti anak muda saja!”

Teddy hanya tersenyum simpul dengan ekor mata melirik ke arah Alena yang membelakanginya dengan tajam, tentu saja tatapan itu tidak disadari Daren dan Alena.

“Iya dong, selaku dosen saya harus memiliki karisma tersendiri untuk mengajar!”

Daren hanya mengangguk-angguk mendengar penuturan Teddy, sebenarnya dihatinya sedikit ada perasaan sedih karena mengingat Ivoy, wajah pria dihadapannya begitu mirip dengan sahabatnya itu.

Sayangnya, dia tidak bisa melihat wajah terakhir kali Ivoy sebelum di kuburkan. Om Teddy keburu menghilang selepas menjemput jenazah Ivoy di pulau seram, kepulangannyapun tanpa memberitahunya yang kebetulan juga sedang mengurus jenazah teman-teman Clara.

Ngomong-ngomong soal Clara gimana ya keadaan gadis itu sekarang, dia belum sempat menjenguknya di penjara karena begitu banyak yang harus dia lakukan.

Dia juga mencoba menyelidiki kasus yang sedang menimpa gadis berambut pirang itu, dia tidak tahu kenapa dia harus repot-repot melakukan hal itu.

Apa untungnya buat dia?

Namun seperti ada dorongan kuat dari hatinya untuk membantu Clara lepas dari jerat yang membelenggu gadis itu.

“Daren, hey…!”

Tepukan halus dibahunya membuat ingatan tentang Clara buyar, dia kembali menatap Teddy yang sekarang menjadi dosennya.

“Melamun? Mikirin apa? Pacar?”

Daren garuk-garuk kepala mendengar pertanyaan Teddy yang terdengar gimana gitu…, dia meringis menyadari diusianya yang sudah menginjak 22 tahun masih belum memiliki pacar.

Bukan dirinya tidak laku hanya saja belum ada satupun yang berhasil mengetuk pintu hatinya, membuat jantungnya berdebar setiap kali mengingatnya, berada didekatnya bisa membuat dia selalu merasakan kedamaian, belum ada yang seperti itu.

“Melamun lagi?”

Daren menggelengkan kepalanya lalu tersenyum menatap dosen barunya itu.

“Ekhem, sepertinya kelas saya udah masuk nih Pak. Saya pergi dulu ya, lain kali kita mengobrol lagi!” Pamit Daren sambil melangkah pergi dengan langkah yang terburu-buru.

Teddy hanya menatap kepergian Daren dengan sorot mata yang dingin, kemudian mengalihkan tatapannya kembali menatap punggung gadis dihadapannya.

Rasa geram menyeruak kedalam hati memaksa Teddy mencengkram pergerlangan tangan gadis itu lalu menariknya dengan paksa.

Alena terperanjat saat tiba-tiba sebuah tangan besar mencengkram pergelangan tangannya, kemudiam dengan paksa dia ditarik oleh orang itu.

‘Tap,tap,tap,tap,’

Langkah kaki mereka terdengar serentak mengisi kekosongan lorong yang tumben sekali tidak ada satupun orang, pantas saja Teddy sanggup menariknya seperti ini.

‘BRRUUUKK,

Alena didorong dengan kasar masuk keruangan sempit yang jauh dari penglihatan orang lain, gadis itu meringis menahan sakit pada punggungnya. Tak cukup dengan itu Teddy memaksa gadis itu mendongak dengan mencengkram dagunya, membuat netra mereka saling bertemu.

Posisi mereka yang terlalu dekat membuat jantung Alena bereaksi kembali, dia menggerakkan kepalanya ingin kembali menunduk. Tetapi cengkraman kuat di dagunya membuat kepalanya tidak bisa menunduk, masih tetap mendongak dia membalas tatapan Omnya yang begitu tajam.

“Ada hubungan apa kamu sama Daren?”

Alena menggeleng pelan, “T,ti,tidak a,ada apa-apa Om. Ana ng,ng,nggak k,ke,kenal dia!”

“Bohong, jelas-jelas saya melihat kamu bersamanya tadi. Kau jangan membuatku marah Ana!”

“Ana ng,ng,nggak b,b,bo,bohong Om!”

Teddy menatap mata Alena mencoba mencari kesungguhan dimata gadis dihadapannya, saat menemukan kejujuran didalamnya dia tersenyum tipis. Kemudian dengan kasar melepaskan cengkramannya dari dagu Alena, membuat gadis itu terjelepok di lantai marmer yang dingin.

Bukannya segera pergi Teddy malah jongkok dihadapan Alena yang tertunduk, dia mengusap kepala gadis itu berulang kali dengan lembut sangat lembut. Tetapi di detik kemudian tangan itu malah menjambak rambut Alena kembali memaksanya untuk mendongak.

“Dengar, kalau ku dapati kau dekat dengan seseorang. Ku pastikan kau akan menderita selamanya!”

‘Hahaha,

Teddy bangkit dengan tawa yang begitu mengerikan lalu berlalu meninggalkan Alena sendirian disana, gadis itu hanya bisa menangis dalam diam saat merasakan sakit dihatinya.

Ini sebuah penyesalan baginya, menyesal kenapa cintanya harus berlabuh pada lelaki itu.

Cinta yang baru tumbuh benihnya sudah mampu membuat dia sesakit ini, gimana kalau sudah tumbuh subur dan mengakar?

Tentu akan lebih menyakitkan.

****

Rediaz melangkah lunglai menyusuri lorong demi lorong menuju kelasnya, lelaki itu kelihatan kacau sekali. Pakaian yang melekat ditubuhnya terpasang asal, bahkan ada yang tidak terkancing.

Tak jauh berbeda dengan wajahnya, wajah yang tampan itu kini tak lagi berseri, bahkan ada lingkaran besar berwarna hitam dibawa matanya. Tampak sekali kalau lelaki itu tidak tidur semalaman.

“OMG, Kak Rediaz kenapa jadi seperti ini?” Tanya Verlyn yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Gadis itu berhenti tepat dihadapan Rediaz membuat langkah Rediaz juga terhenti, iris cokelatnya menatap Verlyn begitu dingin.

“Minggir!”

“Gue gak bisa ninggalin kakak dengan keadaan seperti ini, kakak kelihatan kacau sekali!”

“Bukan urusan lo, minggir!”

Verlyn menggeleng tidak mendengarkan ucapan Rediaz, tidak semudah itu dia akan menuruti lelaki ini. Dia sudah menunggu lama untuk bisa dekat dan berbicara dengan Rediaz, kesempatan itu akhirnya datang dia tidak akan menyia-nyiakannya. Dia mencintai Rediaz dan dia akan berusaha mendapatkan lelaki ini, bagaimanapun caranya.

“GUE BILANG MINGGIR, MINGGIR!”

Meskipun dibentak Verlyn tetap diam ditempatnya, tentu saja membuat Rediaz berang. Dia ingin mendorong gadis dihadapannya saat tiba-tiba kepala berputar, pusing.

“Kak, kenapa?” Tanya Verlyn dengan wajah pucat menatap Rediaz khawatir,

Gimana tidak khawatir, lelaki ini datang ke Kampus dengan keadaan yang kacau seperti ini. Beberapa detik yang lalu Rediaz masih terlihat baik-baik saja, lalu didetik berikutnya dia melihat lelaki itu meringis kesakitan dengan kedua tangan yang terus memegangi kepalanya.

“Ayo Kak, duduk dulu pulihkan kondisi kakak!”

Verlyn mengajak Rediaz duduk di bangku terdekat, tak lupa menuntun lelaki itu agar tidak jatuh.

Rediaz hanya membiarkan dirinya berada dalam rangkulan Verlyn, kepalanya terasa berat sekali dan menolak rasanya percuma saja.

“Kakak duduk dulu disini ya, Verlyn akan belikan minuman sebentar!”

Selepas kepergian Verlyn Rediaz menutup matanya, kemudian dari sudut matanya keluar air mata. Dia menangis.

Sekelebat bayangan wajah Clara terus bermain-main di Kepalanya, menampilkan berbagai espresi wajah. Terkadang tertawa, cemberut, marah, jengkel, kecewa, sedih, dan menangis.

Tangisan gadis itu melukainya, dia sangat tidak ingin melihat gadis itu terluka. Tetapi apa yang sudah dia lakukan pada gadis itu, dia menjebloskan Clara ke dalam penjara.

Semalaman dia tidak tidur karena terus-terusan mengingat ucapan Daren, benarkah tindakannya terlalu gegabah?
Benarkah Clara bukan pelaku pembunuhan orangtuanya?

Begitu banyak pertanyaan yang ada di kepalanya, membuat kepalanya semakin berat.

‘Tuk,tuk,tuk..,

Rediaz membuka mata saat mendengar langkah kaki seseorang mendekat, ternyata suara itu berasal dari higheels 5 centi yang terpasang indah di kaki Verlyn.

Gadis itu kembali dengan membawa sebotol aqua dan beberapa bungkus roti.

“Ayo Kak, dimakan dulu. Kakak belum sarapan kan!”

Rediaz ingin menolak tetapi dia membutuhkan itu, memang dari semalam perutnya tidak terisi sepersenpun makanan. Dia hanya sibuk memikirkan perkataan Daren dan mengingat Clara.

Verlyn tersenyum saat melihat Rediaz menerima pemberiannya, lalu tanpa basa-basi mulai melahap satu persatu roti itu.

‘Urrmm. Kondisi Kak Rediaz yang seperti inipun dia masih aja terlihat begitu tampan’ Verlyn memuji didalam hati akan ketampanan yang dimiliki Rediaz.

“Makasih ya Clara ku sayang, kamu tahu aja kalau aku lapar!”

Senyuman Verlyn memudar selepas mendengar penuturan kalimat yang barusan Rediaz lontarkan.

“Aku Verlyn kak, bukan Clara!”

DEG!

Tubuh Rediaz kaku seketika, ia ingat betul ucapan yang barusan terlontar dari mulutnya.

Kenapa situasi seperti ini lagi-lagi Clara yang diingatnya, gadis itu tidak pantas lagi untuk diingat. Biarlah gadis itu mendekam dalam penjara, biar membusuk sekalian disana.

Dia menatap Verlyn yang cemberut, ah kenapa dia bisa salah sebutkan nama?

“Clara itu nggak usahlah diingat lagi, dia itu udah membuat bencana dalam hidup kak Rediaz. Dia udah merusak kebahagiaan kakak, dia juga membunuh orangtua kakak!”

Rediaz hanya mampu terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang Verlyn lontarkan.

“Aku kenal Clara itu orangnya seperti apa kak, belasan tahun aku dan dia tinggal dibawa atap yang sama. Clara itu nggak sebaik yang kakak pikir!”

Rediaz tetap diam.

“Bahkan tanpa sepengetahuan kakak dia menjalin hubungan bersama Daren dibelakang kakak!”

Usai mengatakan kalimat itu Rediaz berpaling dengan cepat menatap gadis disampingnya, sorot matanya begitu tajam.

Bukannya takut Verlyn malah menambahkan cerita yang semakin membuat darah lelaki dihadapannya mendidih.

“Kalau kakak nggak percaya aku ada buktinya kok!”

Tampak Verlyn sedang mengeluarkan handphone dari sakunya, kemudian mengutak atik layarnya sesaat kemudian berhenti pada foto yang menampilkan dua orang yang di kenalnya.

“Nih, lihat aja sendiri!”

Rediaz menerima handphone itu kemudian tatapannya jatuh pada foto yang terpampang jelas di layar, memperlihatkan dua orang yang begitu dia kenal saling berpegangan tangan dan juga saling menatap dengan latar belakang taman kampus. (Yang sempat diceritakan di Pulau Berdarah)

Rediaz sama sekali tak menyadari tanggal pada foto yang ada dibawah, foto itu sudah berusia tiga tahun sejak diambil tanpa sepengetahuan empunya.

‘Shitt..,

Rediaz mendengus ia melemparkan handphone itu pada Verlyn, beruntung gadis itu bisa menangkapnya sebelum sukses jatuh ke lantai.

Kedua tangan Rediaz terkepal erat menahan kekesalan yang ingin dia tumpahkan pada sosok laki-laki di dalam foto. Ternyata keduanya adalah pengkhianat hebat, menusuknya dari belakang.

Pantas saja,
Pantas saja kemarin Daren bersikeras membela Clara, ternyata ini diam-diam dibelakangnya keduanya menjalin hubungan.

“SIALAN!”

Umpatan Rediaz sempat mengejutkan Verlyn, namun dia hanya tersenyum sinis.

Berhasil.
Dia berhasil menanam kebencian dihati Rediaz pada Clara, dengan itu dia tidak perlu takut lagi laki-laki itu akan kembali pada Clara untuk selamanya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here