Pulau Berdarah #12

0
109
views

Ups.

Aku terlentang dengan mulus di kasur yang menurutku begitu empuk, perjalanan yang jauh ini begitu menguras tenaga. Rasanya badanku sakit-sakit semua, aku pengen secepatnya tidur lalu baru melakukan aktifitas keesokan harinya.

“Mandi dulu Ra baru tidur!”

Kedua mataku yang sudah tertutup secara refleks terbuka mendengar teguran Velira barusan, sekilas ku lirik dia berjalan ke arah lemari mencari baju gantinya. Velira baru saja selesai mandi.

Oh iya, di Ora Beach Resort ini terdapat 3 bagian kamar dengan rasa yang berbea-beda. Setiap kamar hanya boleh di tempati dua orang saja. Mau tau apa saja jenis kamarnya, yuk ikutin aku terus. Akan aku kenalkan pada kalian.

Kamar darat terletak agak jauh tapi gak jauh banget kok dari Dermaga tetapi tetap di pinggir pantai dan belakangnya hutan. Pilih kamar ini kalo lagi terdesak karena budget terbatas.

Kamar gantung terletak percis di depan Dermaga dan dekat juga dengan pantai.

Kamar laut berdiri persis di atas air di bibir pantai dengan pemandangan dari balkon yang aduhai mempesona.

Kami semua memilih kamar laut, tentunya masing-masing kamar hanya ada dua orang ya. Aku dan Velira, Kafka tentu saja dengan Kiara kalau Daren dengan Jimmy dan Rediaz dengan Ivoy.

“Ra, mandi dulu gih. Keburu malam lho ntar!” Kata Velira lagi membuatku menatap ke arah gadis itu.

“Mangnya kenapa kalau malam?” Tanyaku mengundang tatapan aneh darinya.

“Memangnya kamu gak dengerin Pak Komed tadi bilang apa?”

Jika kalian bingung siapa itu Pak Komed, dia adalah lelaki tua yang seluruh rambutnya sudah memutih semua. Beliau adalah penjaga resort ini.

Aku tahu dan aku ingat jelas akan perkataan Pak Komed tadi sebelum beliau benar-benar pergi pulang kerumahnya, beliau memang tidak tinggal di sini. Dia hanya datang sekali dalam seminggu untuk melihat keadaan disini, itu berarti selama seminggu ke depan lelaki itu tidak ada disini.

Tadi Pak Komed berpesan kepada kami agar selama disini kami tidak diperbolehkan keluar malam setelah jam delapan, kenapa bisa begitu aku pun tidak tahu. Lelaki itu hanya mengatakan itu tanpa ada penjelasan sama sekali.

“Ra, ayo buruan mandi”

Dan tentu saja kalian penasaran kenapa Velira ngotot sekali nyuruh aku untuk mandi segera, itu karena letak kamar mandinya yang berada di luar resort ini.

Pulau ini masih menggunakan sistem tradisional. Keadaannya yang terpecil membuat sistem modern sulit menjangkaunya. Jadi wajar kalau kamar mandi letaknya terpisah dengan bangunan ini.

Tak ingin melihat Velira terus mengoceh aku bangkit meraih handuk lalu berjalan keluar kamar.

Bukannya segera mandi aku malah bersantai-santai ria menikmati udara sore ini yang begitu menyegarkan, aku berlari kecil ke arah pantainya melihat dari kejuahan sunset yang mulai perlahan tenggelam di ufuk barat.

Indah sekali.

Karena ke asyikanku bermain air di pinggir pantai membuat aku tidak sadar hari semakin gelap, aku baru menyadarinya saat matahari sudah benar-benar tenggelam.

Gawat.
Aku melupakan pesan Pak Komed.

Teringat akan pesan itu dengan secepat kilat aku berlari menjauhi pantai, menuju kamar mandi yang tidak begitu jauh. Aku harus mandi terlebih dahulu sebelum benar-benar masuk ke kamar, Velira bisa mengamuk padaku nanti kalau dia tahu aku belum mandi.

“Tempat apaan sih ini? Gak ada TVnya sama sekali. Ini mah bukan berlibur namanya tapi menyesatkan!”

Kata itu sudah berulang-ulang kali Daren katakan membuat Jimmy yang mendengarnya merasa bosan, lelaki itu hanya bisa tiduran dengan kedua telinga ia tutupi dengan bantal. Dia sudah bosan memberitahu lelaki itu bahwa di daerah ini tidak ada yang namanya TV dan segala jenis barang-barang modern yang seperti ia katakan, namanya juga daerah yang terpencil. Namun dengan keras kepalanya Daren tidak mau mengerti.

Uh, namanya juga anak orang kaya.
Tidak terbiasa hidup sederhana seperti ini. Daren sungguh menyebalkan, kalau dia tahu akan jadi seperti ini lebih baik dia sekamar dengan Ivoy atau Rediaz saja.

Mengabaikan Daren Jimmy menutup matanya beranjak untuk tidur.

“HEY, UDAH TIDUR LO. CEPAT BENER!”

Daren berteriak mencoba membangunkan Jimmy, tak hanya itu ia juga menggunakan kakinya untung menendang punggung lelaki itu. Tapi emang dasarnya kebo mau dibangunin dengan cara apapun lelaki itu tetap tidak bangun, tentu saja Daren kesal.

“Baru jam berapa coba, udah tidur aja. Nggak seru banget sih?”

Kesal.
Daren pun beranjak melangkah keluar balkon.
Pertama yang ia lihat adalah malam yang pekat pertanda hari beranjak malam, dia melirik jam di pergelangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan.

Mengabaikan jam dia duduk dipagar balkon, mengambil sebatang rokok lalu menghisapnya perlahan.

Begitulah Daren tidak ada satupun yang tahu kalau sebenarnya Daren adalah pecandu nikotin, selama ini dia begitu pandai menyembunyikan kebiasaannya yang satu itu.

Selama ini Daren dikenal sebagai sosok lelaki tampan yang selalu menjaga imagenya dimanapun ia berada, dan apabila dia sudah sendirian seperti ini, dia akan mulai merokok.

Kegaduhan di kamar sebelah membuat lelaki itu mematikan putung rokoknya lalu membuangnya kesembarang arah, dia harus melihat apa yang sedang terjadi.

Tiba di kamar sebelah dia hanya mendapati ketiga gadis yang ia kenal sebagai temannya Clara, tatapannya menangkap hal yang ganjal di wajah ketiganya.

“Ada apa ini?” Pertanyaannya yang tiba-tiba tentu saja membuat ketiga gadis itu terkejut, dengan refleks ketiganya menatap ke arah Daren dengan tatapan ngeri.

“Gawat Kak, dari tadi Clara pamit untuk mandi namun sampai sekarang dia belum kembali juga!” Jawab Velira kemudian.

“APA?”
_

Dingin.

Satu kata yang aku ucapkan saat segayung air berhasil lolos membasahi wajahku, dinginnya air membuat wajahku yang lelah karena seharian melakukan perjalanan yang panjang akhirnya kembali segar.

Tak cukup dengan itu aku kembali mengambil segayung air lalu menyiramkannya di tubuhku, begitulah seterusnya hingga tubuhku kembali bersih dan wangi.

Setelah berpakaian rapi aku beranjak keluar dari tempat pemandian ini. Pemandangan pertama yang aku lihat adalah malam yang semakin pekat, udah jam berapa ini?.

Mendadak aku merasa ngeri.
Anginnya begitu dingin saat tak sengaja tersentuh kulitku, apalagi aku baru saja selesai mandi tentu saja itu terasa menusuk ke dalam tulang sum-sum ku.

Iiiihhhh,,,
Aku memeluk tubuhku mencoba menyingkirkan rasa dinginnya, ku beranikan melangkah keluar dari pemandian. Kemudian berjalan pelan dan sedikit merasa waspada.

Jujur aku katakan aku merasa ketakutan sekarang, terlebih lagi pesan Pak Komed tadi sore membuat aku yang sudah ketakutan makin menggigil ketakutan.

Aku kuatkan kakiku untuk melangkah.

Entah mengapa bangunan di depanku terasa begitu jauh jaraknya, padahal aku tahu jarakku dengan bangunan itu hanya beberapa langkah.

Firasatku tidak enak sekarang. Kenapa ya?.

Tidak Clara sadari seseorang dibalik ke gelapan menatap tajam ke arahnya, sosok itu melangkah mendekat mengikuti rentak langkah kaki gadis di hadapannya.

Di tangannya sebuah samurai panjang terulur mencecah tanah, begitu mengkilap saat diterpa cahaya bulan. Runcing dan berkilau seakan-akan menegaskan kehausannya akan darah.

Merasa sudah tiba waktunya sosok itu segera mengangkat samurai itu lalu dilayangkannya ke arah Clara yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya.

SATU DETIK…

DUA DETIK…

“Aaaaaaaaarrrrrrrrrggggghhhhhh!”

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here