Pulau Berdarah #11

0
76
views

Hampir 3 jam lamanya kami merasakan terbang di udara, pesawat yang kami tumpangi akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Pattimura, Ambon.

Perjalanan kami tidak hanya sampai di situ. Ivoy bilang perjalanan kami masih jauh, dari sini kami harus menaiki kendaraan roda empat yang akan membawa kami ke Pelabuhan Hurnala di Desa Tulehu dan masih banyak lagi. Aku tidak akan menjelaskannya disini, pada penasaran?
Yuk, ikutin aku terus.
Akan ku bawah kalian dalam perjalanan ku kali ini. Menjelajahi PULAU SERAM.

“Harus naik apa nih?”

Itu suara Kafka.

Dia bertanya sambil mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa berbahang diterpa terik matahari, memang siang ini matahari bersinar dengan teriknya. Kami yang berdiri di luar bandara tentu saja mataharinya berimbas ke kami, sinarnya terasa begitu menyengat dikulit.

“Kalian tunggu di sini ya, aku mau cari tumpangan dulu!”

Itu suara Ivoy.

Setelah ia mengatakan itu ku lihat dia mulai melangkah pergi meninggalkan kami, aku tidak tahu dia mau cari tumpangan dimana. Sejauh yang aku lihat di sekitar sini tidak ada mobil yang akan membawa kami pergi dari sini menuju tempat selanjutnya.

“Aduh, harus berapa lama lagi menunggu. Panas banget nih, bisa-bisa bedakku luntur!”

Aku menggeleng melihat sikap Kafka, disaat seperti ini masih sempatnya mengeluh akan kelunturan bedaknya. Aku tersenyum saja menanggapinya.

“Lama lagi gak sih?”

“Bisa diam nggak, berisik amat sih”

Itu suara Daren.

Suaranya yang sedikit tegas membuat Kafka bungkam, dia tidak berani lagi untuk berbicara. Sepertinya Kafka memang takut pada laki-laki itu.

Ku rasakan buliran bening tetes keringat membasahi wajahku, dengan tangan aku segera menyekanya.

Tahu-tahu pandanganku mendadak gelap, aku tidak bisa melihat apapun sekarang. Aku panik, ku pikir aku pingsan. Tetapi saat sesuatu yang wangi tercium indra penciumanku, wangi yang tak asing lagi membuat aku sadar tentu sesuatu benda sedang menutupi kepalaku. Rasa penasaran membuat aku melihatnya.

Sebuah jaket?

Lalu tatapanku jatuh pada ketiga temanku, Jimmy dan Daren. Mereka menatapku dengan pandangan yang…, entahlah aku sulit untuk mengartikannya.
Yang aku pertanyakan sekarang adalah kemana perginya Rediaz?
Bukankah ini jaketnya?
Kenapa dia memberikannya padaku?

“Ecieee,,, sejak kapan nih mulai dekat dengan Rediaz!”

Itu suara Jimmy.

Lelaki itu baru saja menggodaku.
Apa-apaan sih dia?.

“Ada udang nih!”

Kiara juga ikut-ikutan menggodaku, tak cukup dengan itu Velira dan Kafka juga menimpali. Kenapa semua pada menggodaku sih?

“Diam deh, berisik banget sih”

Itu bukan suara ku lho.
Itu Daren yang mengatakannya. Ketegasan dalam suaranya membuat kebisingan tadi menguap begitu saja, kini tak terdengar suara mereka lagi. Syukurlah, dengan begitu aku bisa bernafas lega.

Jujur aku katakan godaan mereka sedikit banyak telah mengusik jantungku, entah mengapa jantungku sedikit berdebar bila dikaitkan dengan lelaki dingin itu.

Okey, lupakan sajalah.

Kini Ivoy sudah kembali dengan membawa kendaraan roda empat yang dimaksudnya tadi, sekilas aku melihat sosok Rediaz sudah nangkring di tempat duduknya, duduk menyandar dengan kedua mata tertutup. Tidurkah?

Mencoba mengabaikan Rediaz aku beranjak masuk kedalam mobil. Ukuran mobilnya yang cukup besar membuatku sedikit lega, ku pikir kami akan berjimpit-jimpitan tadi, tentu saja itu tidak enak. Bisa sakit-sakit semua badanku nanti.

Tak terasa satu jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat ini, kami pun tiba di Perlabuhan Hurnala di desa Tulehu dari sini kami harus menaiki lagi Kapal Express menuju Pelabuhan Amahai di Masohi, pulau seram.

Sungguh perjalanan yang begitu melelahkan.

Namun rasa lelah ku sedikit terobati saat betapa cantiknya pemandangan disini, anginnya yang sepoi menampar wajahku begitu menenangkan. Aku suka pemandangan di sini, begitu indah.

Tentu saja hal ini tidak kami lewatkan begitu saja, beberapa kali kami berpose berbagai espresi kami tunjukan, mengabadikannya didalam bentuk sebuah foto. Tentu saja pemandangannya sangat cantik dengan latar belakang lautan yang terbentang luas.

“Aku suka tempat ini, aku merasakan damai!”

Dengan tak tahu malunya aku berteriak sepanjang perjalanan, ku ukirkan senyuman selebar mungkin. Sikap yang sama di tunjukan ketiga temanku, mereka juga sama gilanya denganku.

“Hey, cowok-cowok sini dong ikutan gabung foto bareng kita!”

Ajakku pada keempat lelaki yang sedari tadi hanya diam memperhatikan tingkah kami yang mungkin menurut kalian norak. Haha.
Kapan lagi coba bisa seperti ini.

“Okey, takkan ada yang menolak berfoto dengan gadis secantik kamu Rei!”

itu suara Ivoy.

Dia berjalan mendekatiku dengan senyuman serta kenyitan nakal di matanya, bisa-bisanya dia berbuat seperti itu padaku.

“Sepertinya seru, ayo!”

Ku lihat Jimmy sudah menarik kedua tangan lelaki yang sepertinya tidak ingin mengikuti aksi kami ini, ku lihat dengan tegas Rediaz menepis tangan Jimmy yang berusaha menariknya. Sedangkan Daren tidak membantah sama sekali, ia beranjak berdiri meninggalkan Jimmy yang masih ngotot mengajak Rediaz untuk ikut. Daren melangkah ke arah kami kemudian di susul Jimmy, sepertinya dia sudah lelah mengajak Rediaz yang tetap kekeuh tidak mau ikut memberikan pose.

Aku tidak tahu apa yang membawa aku berjalan menghampiri Rediaz yang sibuk dengan gitarnya, sepertinya itu gitar kesayangannya. Kemanapun lelaki itu pergi, pasti gitarnya tidak pernah ketinggalan.

“Ayo, berfotolah dengan kami”

Aku mengulurkan tanganku dihadapan wajahnya, membuat Rediaz mengangkat kepala dan menatap kearah ku. Kemudian dia kembali menunduk dengan jari-jari yang terus menekan-nekan tali gitarnya, dia tidak merespon ajakkan ku.

Tentu saja aku kesal.

Aku pun tidak tahu kenapa aku sekesal ini. Yang pasti aku ingin dia juga ikut berfoto.

Tanpa menunggu persetujuan darinya aku menarik tangannya, memaksa dia untuk bangkit. Tentu saja dia kaget dengan tindakan aku yang tiba-tiba, tapi tak urung dia mengikuti langkah ku juga.

Aku pun mengukir senyuman senang.

Kira-kira hampir dua jam kami menikmati perjalanan dengan kapal Express ini kamipun tiba di Pelabuhan Amahai, di Masohi pulau seram. Turun dari kapal ternyata perjalanan kami masih panjang, lagi-lagi kami harus mengendarai kendaraan roda empat menuju Desa Saleman.

Jalanan menuju Desa Saleman ini berliku-liku membuat perjalanan kali ini begitu panjang, pemandangan hutan disisi kanan dan kiri membuat jalanan ini begitu teduh dan rindang. Aku tak melewatkan kesempatan ini, aku terus mengabadikannya dalam sebuah foto. Tentu saja hal ini akan menjadi kenangan di Jakarta nanti.

Setelah tiba di Desa Saleman kami pun harus menaiki speedboat selama 10 menit, sampai akhirnya tiba di Dermaga Ora Beach. Bermalam di Eksotisme Ora Beach resort, pulau seram.

Disinilah kami akan menginap selama seminggu.

Ketika aku menjejakkan kaki di pulau ini, pertama yang aku pikirkan adalah…, AKU TAK PERNAH MENYESAL TELAH MENJEJAKKAN KAKI KE TEMPAT INI. Aku menatap penuh kagum akan keindahannya. Lautan yang membiru dengan sisi kanan dan kiri yang di kelilingi perbukitan dan penggunungan.

“Indahnya….,” gumamku pelan seraya memjamkan mata, menghirup aroma lautan yang memabukkan.

Aku tersenyum begitu lebar.

Tak Clara sadari beberapa pasang mata kini memperhatikan gerak-geriknya, melihat senyuman yang terbit di wajah gadis itu membuat ketiganya ikut tersenyum, seakan-akan turut bahagia untuknya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here