Pulau Berdarah #10

0
107
views

“Harus berapa lama lagi gue menunggu? NAIK!”

Aku masih diam terpaku ditempat ku berdiri dengan tatapan tak lepas dari seraut wajah lelaki di hadapanku. Jujur aku masih malu padanya, insiden di pantai beberapa hari yang lalu masih terpaut jelas di ingatanku. Bagaimana bodohnya aku menangis di pelukkannya, mengatakan semua beban yang aku pendam. Ya sih, setelah itu aku merasa sedikit lega. Tapi tetap saja aku belum siap berhadapan berduaan dengannya seperti ini, apalagi harus duduk diboncengan lelaki ini. Oh, tidakkkkkk….

#flasback_on

Kemudian aku rasakan seseorang memelukku, memaksaku untuk menenggelamkan wajahku disana.

Di pelukkannya aku menumpahkan semuanya.

“Kenapa harus gue yang ngalami ini semua? Gue capek!”

Huhuhu..

“Kamu tahu orangtua ku begitu membenciku, memperlakukan aku sebagai orang lain, mengasingkan aku dirumah. Mereka tidak tahu betapa terlukanya aku diperlakukan begitu!”

Huhuhu….

“Aku ingin marah tapi tidak tahu bagaimana melampiaskannya, aku hanya memendam luka ku sendirian”

Hiks…hikss…

“Sampai diwaktu titik kesabaranku habis sudah, aku marah pada mereka. Aku utarakan pada mereka apa yang aku pendam selama ini. Aku pikir aku bukan anak mereka, aku menanyakan pada mereka kebenarannya”

Hiks…hiks..

“Papa bilang aku memang anaknya, tapi aku tidak percaya itu. Apa seorang Ayah kandung tega memperlakukan anaknya seperti itu? Membencinya tanpa si anak tahu apa kesalahannya!”

Saat itulah aku sedikit menjauh dari pelukannya, aku ingin mendengar jawaban lelaki itu. Kenapa diam saja dari tadi?

Namun yang ku lihat adalah wajah datar tanpa espresi milik si Rediaz, lho kenapa dia?
Kemana perginya Daren?
Aku masih kebingungan dengan lirikan mata kemana-mana, berharap menemukan sosok Daren.

Saat pandanganku menemukan objek yanh aku cari, kedua mataku sukses membulat saat mendapati Daren sedang asyik dengan seorang wanita di pinggir pantai.

Aku memutar bola mata kesal. Dasar lelaki tidak bisa lihat cewek sexy dikit langsung deh di dekatin ngajak kenalan.

Mengabaikan Daren tatapanku kembali ke wajah Rediaz yang kini lelaki itu sudah memandang ke depan, dimana ombak pantai berlarian kesana kemari.

“Kenapa kamu bisa ada disini?”

“Bukan urusan mu!”

Jujur saja saat mendengar jawaban darinya aku kesal, tentu saja keberadaannya disini harus dipertanyakan. Barusan saja dia memelukku mendengarkan curahan hatiku, dan seenaknya dia bilang bukan urusan ku.

“Tentu saja itu menjadi urusanku, baru saja kamu meme…,”

Aku tak melanjutkan lagi kalimatku saat dengan tiba-tibanya Rediaz berbalik menatapku dengan sinisnya.

“Itu hanya sebuah ketidak sengajaan, okey. Jadi lupakan masalah yang tadi!” Tegasnya sambil lalu pergi meninggalkan ku yang hanya bisa menatap kepergiannya dengan bingung.

#Flasback_off

TIIIIIIINNNNNNNNN….

Aku terperanjat saat sesuatu yang keras berdengung di telingaku seketika lamunanku tentang kejadian di pantai yang lalu buyar. Kini tatapanku beralih kewajah datar Rediaz, kelihatan sekali lelaki itu kesal padaku.

“Lo mau membuat gue menunggu berapa lama lagi, cepatan deh yang lain udah pada nungguin!”

Aku hanya mengangguk lalu bersiap-siap hendak naik, namun kembali aku menundanya saat menyadari sesuatu.

Akukan membawa koper?
Bagaimana cara aku membawanya kalau seperti ini?

Seakan menyadari kebingunganku Rediaz turun dari motornya, menghampiriku lalu menarik koper ku sedikit kasar lalu dia letakan di depannya.

“Dari cara lo bersiap kayak lo mau pergi sebulan aja, pake bawa koper segala!” Rungutnya yang tak sengaja tertangkap indra pendengaranku.

Aku hanya manyun lalu mengambil ransel yang ia berikan padaku, itu ranselnya. Dia menyuruh aku yang mendukungnya agar aku bisa duduk dengan nyaman. Walaupun sedikit berat, tapi gak papalah dari pada aku jatuh. Kan gak enak banget kalau sampai aku jatuh dari motornya ini, bisa gagal aku pergi berlibur.

Tak mereka sadari Alice mencoba mengejar mereka, mencegah mereka untuk pergi. Tetapi wanita itu terlambat, Clara keburu pergi menjauhi rumah.

“Aku harus beritahu Mas Firdan!” Gumamnya sambil menekan-nekan sesuatu di ponselnya.

Di detik berikutnya terdengar sambungan terhubung, tinggal menunggu sang suami mengangkat panggilannya.

Kami semua sudah tiba di Bandara, tinggal menunggu kami untuk Chek In. Saat ini kami sedang menunggu Daren yang masih menenangkan Mamanya yang menangis, sepertinya Tante Lovy tidak tega di tinggal oleh anak satu-satunya.

Ku dengar Daren mengatakan kepada Tante Lovy bahwa dia hanya berlibur seminggu, dia berjanji akan pulang. Dan meminta wanita itu untuk baik-baik saja di rumah, dan sebelum Daren benar-benar harus meninggalkan Mamanya ku dengar lelaki itu berpesan untuk memasak makanan yang enak saat menyambut kepulangan mereka nanti. Mamanya hanya menanggapi dengan anggukan.

Jujur aku katakan.
Aku turut sedih melihat pemandangan ini.
Lalu ku tolehkan kepalaku ke samping, tatapanku langsung menangkap ke wajah Jimmy yang sudah basah oleh air matanya.
Jujur, aku tidak terkejut karena aku sudah mengetahui sifatnya yang mudah tersentuh itu.
Mengingat pemandangan di depan kami begitu mengharukan, wajar saja lelaki itu meneteskan airmatanya.

“Ma, Daren harus pergi sekarang. Teman-teman Daren sudah menunggu!”

“Ya sudah, kamu janji ya akan pulang!”

“Iya, Daren janji!”

Usai kalimat itu Daren katakan. Dia mulai melangkah menjauhi Mamanya, bergabung dengan kami yang segera mengatur langkah berjalan menjauh.

Tanpa mereka sadari seseorang pria berusaha mengejar mereka, tetapi terlambat pesawat yang membawa mereka sudah lepas landas terbang membawa mereka pergi tidak tahu akankah mereka kembali atau tidak sama sekali.

Firdan mengutuk keterlambatannya tiba disana, apa yang akan dikatakannya nanti pada istrinya?.

“Alice, maafkan Mas terlambat!”

Sejurus dengan itu kakinya luruh hingga jatuh menyembah lantai Bandara yang dingin, ia menangis disana. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang memandangnya aneh.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here