Pulau Berdarah #09

0
138
views

Permintaan Ivoy yang mengajakku berlibur ku sambut dengan hati gembira.

Siapa sih yang gak suka berlibur?
Ku rasa semua orang tentu menyukainya.

Jujur aku penasaran kenapa tiba-tiba Ivoy mengajakku berlibur, setelah ku korek-korek aku mendapatkan juga jawabannya.

Inisiatif itu terjadi karena beberapa hari yang lalu aku tampak begitu murung, dan sikapku yang tak biasa itu Ivoy ceritakan pada Tante Lovy. Beliau menganjurkan Ivoy untuk mengajakku berlibur, tentu saja lelaki itu menyanggupinya.

Ivoy bilang dia ingin nanti sekembalinya kami dari liburan aku bisa kembali tersenyum, dan barharap apapun masalah yang aku hadapi saat ini bisa terselesaikan.

Kami di sini mengarah kepada aku dan ketiga temanku, Ivoy dan ketiga temannya. Ya, kami memutuskan untuk berlibur bersama-sama ke suatu pulau nun jauh disana.

Menurut kabar yang ku dapat pulau itu bernama Pulau Seram yang terletak disebelah utara pulau Ambon, provinsi Maluku.

Aku tidak tahu kenapa Ivoy memilih berlibur ke tempat itu dan bukannya tempat yang lain saja, mendengar namanya saja sudah membuatku merinding. Di namai begitu tentu pulau itu sangat seram kan?

Namun dengan seriusnya Ivoy meyakinkanku bahwa tempat itu tidaklah seseram namanya, Ivoy menjamin aku bakalan suka dengan tempatnya.

Atau mungkin lebih memilih tinggal disana ketimbang kembali pulang ke rumah.
Keyakinannya itu membuatku jadi ikut penasaran dengan tempat itu.

Maka disinilah aku sekarang.
Di dalam kamarku yang sudah seperti kapal pecah saja, karena saat ini aku sedang memilih-milih barang apa saja yang akan ku bawa kesana. Aku memasukkan yang penting-penting saja seperti beberapa helai pakaian ukuran menginap untuk seminggu. Aku juga membawa senter dan lilin, jujur aku tidak tahu kenapa aku membawa benda-benda itu. Aku ingin saja, mungkin saja benda-benda itu akan di butuhkan nanti.

Hampir dua jam berlalu acara packing ku pun selesai, aku melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sepertinya aku harus tidur sekarang karena mengingat besok pagi-pagi sekali aku sudah harus bangun, Ivoy akan menjemputku dan kami akan menunggu di rumah Daren. Dari rumah Daren kami akan meluncur ke Bandara dengan menggunakan mobil pribadi Tante Lovy, ya Ivoy bilang Tante Lovy yang akan mengantarkan kami ke Bandara.

Aku berbaring di tempat tidurku lalu memejamkan mata, hanya dalam beberapa menit akupun tertidur sampai pagi.

Aku menatapi kamarku dalam diam, mengamatinya sebelum benar-benar meninggalkannya untuk beberapa hari ke depan. Aku tentu akan merindukan kamarku ini.

Lama aku berdiam disitu sebelum akhirnya menghembuskan nafas, aku harus benar-benar pergi sekarang. Rasanya berat sekali kakiku ini untuk melangkah, entahlah akupun tidak tahu mengapa. Hanya saja aku memiliki
firasat tidak enak tentang liburan kali ini, apa itu akupun tidak tahu.

Menghembuskan nafas aku mencoba berpikir positif, mengabaikan pikiran-pikiran aneh yang aku rasakan.

Memantapkan langkah aku turun kebawah dengan membawa koper ku.

Setibanya dibawa aku berpapasan dengan Mama, tentu wanita itu penasaran saat melihat koper yang aku bawa. Belum sempat aku berpikir lebih lanjut Mama keburu mengeluarkan suaranya.

“Mau kemana kamu?” Tanyanya dengan tatapan tak lepas dari wajahku.

“Aku akan berlibur Ma bersama teman-temanku!”

Usai aku mengatakan kalimat itu dapat ku lihat perubahan diwajah Mama, raut wajahnya berubah tegang. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu?
Aku malas untuk memikirkannya.

Tahu-tahu suara klason motor menyadarkanku, itu pasti Ivoy. Dia sudah menjemput, aku harus pergi sekarang.

“Aku pergi Ma!” Pamitku, lalu segera mengatur langkah beranjak pergi dari situ.

“Jangan…,”

Aku tidak jadi melanjutkan langkahku saat tiba-tiba Mama menahan koperku, tentu saja tingkahnya membuatku menatapnya bingung.

“Jangan pergi!”

What?

Apa maksud Mama sebenarnya?
Kenapa dia tidak boleh aku pergi?

Aku ingin menanyakan padanya alasan kenapa dia melarangku pergi, tetapi lagi-lagi suara klason terdengar membunyikannya berkali-kali. Aku merutuki Ivoy dalam hati, dasar tidak sabaran. Awas saja nanti akan ku marahi lelaki itu.

“Lepas Ma, aku harus pergi sekarang. Jangan mencegahku. Bukankah dengan tidak adanya aku di rumah, kalian akan merasa tenang. Jadi izinkanlah aku pergi!”

Aku menarik koper ku dengan paksa sehingga pegangan Mama terlepas darinya, maafkan aku Ma. Aku tidak bermaksud kasar pada mu.

Kemudian aku berbalik melangkah pergi tidak menoleh lagi.

Tanpa aku sadari kini Mama menatapku dengan pandangan buram, air mata kini membasahi wajahnya.

“Jangan pergi Clara, Mama mohon kembalilah. Ini demi keselamatan mu Nak!”

Tentu saja Clara tak mendengar rintihan wanita yang dipanggil Mama oleh kedua putrinya yang cantik, wanita itu hanya mengatakannya dalam hati.

#flasback_on

Di sudut ruangan sebuah kamar yang gelap, tidak ada penerangan sama sekali atau memang sengaja tidak menghidupkan lampu. Alice sedang terpekur dengan berurai air mata, tak jauh darinya tergeletak handphone yang sinar lampunya masih menyala, terkesan baru saja di gunakan.

Suara pintu yang terbuka membuat ia menoleh pada sosok yang baru saja masuk. Sosok itu berjalan mendekatinya, menarik Alice ke dalam pelukannya.

Masih berurai air mata Alice bergumam, mengatakan kalimat yang sama berulang-ulang kali membuat Firdan, sang suami makin menguatkan pelukannya pada Alice.

“Dia kembali…, dia kembali…”

Huhuhuhu..

“Dia kembali untuk membalaskan dendam, aku takut Mas!”

“Jangan takut, selama Clara masih dalam lindungan kita dia tak akan apa-apa. Percayalah Lice, dia tidak akan bisa menganggu Clara kita!”

“Aku tidak yakin akan hal itu Mas”

“Kamu harus yakin Lice!”

“Tidak Mas, dia menelponku mengatakan dia akan membuat Clara sendiri yang akan membalaskan dendamnya ke kita”

“Bagaimana bisa? Dia kan tidak mengenal Clara?”

Alice hanya menggeleng tidak tahu kenapa seseorang itu mengenal Clara. Inilah yang dia takutkan selama ini.

Dia sangat menyayangi Clara sama rasa sayangnya pada Verlyn, tetapi seseorang itu membuat dia dan suaminya terpaksa harus berpura-pura membenci Clara. Membuat gadis itu terasingkan di rumah sendiri. Namun sepertinya keberuntungan tak berpihak pada mereka, bagaimanapun mereka menyembunyikan identitas Clara seseorang itu tetap mengetahuinya. Oh, anakku yang malang.

Alice menatap suaminya saat mengingat sesuatu, kalimat terakhir orang itu sebelum panggilan terputus.

“Dia bilang Clara akan pergi besok, pergi kemana Mama tidak tahu. Tapi dia mengatakan akan membuat tragedi yang tidak akan Clara bisa lupakan disana. Aku takut Mas!”

“Ya sudah, jangan biarkan Clara pergi besok. Bagaimanapun caranya!”

#flasback_off

Aku menatap kesal pada sosok laki-laki yang nangkring di motor Ninjanya, helm yang masih terpasang di kepalanya membuatku sulit untuk mengenali siapa dia.

Mulutku terbuka ingin bertanya tetapi tertutup kembali saat melihat lelaki itu membuka kaca helmnya, kemudian dengan tatapan sinis dia menyuruhku untuk segera naik.

“Harus berapa lama lagi gue menunggu? NAIK!”

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here