Pulau Berdarah #02

0
203
views

“Aaaaaaarrrrrgggghhhh!”

Aku menjerit sesuka hatiku tak peduli dimana sekarang aku berada, kekesalan ku kepada keluaga ku sendiri benar-benar membuat aku ingin membunuh mereka semua. Terutama Verlyn, gadis manja itu tentu saja semakin merasa diatas awan karena terus mendapatkan pembelaan. Ingin sekali aku menampar mulutnya itu lalu memotong-motong lidahnya yang kurang ajar itu, mencabik-cabik tubuhnya lalu ku jadikan sop.

Sayangnya.
Aku tidak bisa melakukan apa pun selain hanya menerima perlakuan mereka kepada ku.
Tentu saja aku tak berani melakukan pembunuhan, menyentuh benda-benda yang berbau tajam saja aku tak berani.
Apalagi berniat melakukan pembunuhan.

Kalian tidak berpikiran aku akan melakukannya bukan?
Oh ayolah, aku tidak sejahat itu ingin membunuh keluargaku sendiri.

Pada akhirnya aku hanya bisa lampiaskan kekesalanku kepada kaleng yang kebetulan nganggur dibawah kakiku, dengan sekuat tenaga aku menendangnya hingga terbang. Aku membayangkan kaleng itu adalah si manja Verlyn, seringaian menyeramkan ku tunjukan saat aku merasa puas kaleng itu telah jauh terbang entah kemana.

Aku tersenyum senang saat tak jauh didepanku sudah ku lihat bangunan besar bertingkat, bangunan yang indah dengan paduan warna putih untuk dindingnya dan cokelat untuk tiang dan pagar yang mengelilingi setiap balkon. Itu adalah universitas dimana aku akan mendaftar, semoga saja aku lulus dan bisa menuntut ilmu disana.

“Aduhh!”

Aku yang ingin melangkah pergi seketika terhenti saat telingaku mendengar seseorang berteriak kesakitan, suara itu ada di belakangku dengan refleks akupun berbalik.

Disana aku melihat seorang lelaki seperti sedang kebingungan, gelagatnya seperti sedang mencari sesuatu. Aku tak bisa melihat wajahnya karena posisinya yang membelakangiku.

Tahu-tahu tatapanku malah jatuh ke kaleng penyok di tangan kirinya, merasa tak asing dengan kaleng itu.

Satu detik.

Dua detik.

Pupil mata ku segera melebar saat baru menyadari kaleng itu adalah kaleng yang ku tendang tadi, tak menyangka kaleng itu akan nyasar ke kepala cowok itu.

Seakan sadar diperhatikan lelaki itu menoleh membuat jantungku blingsatan karena takut. Ah, dia lelaki berkaca mata, wajahnya lumayan tampan. Dan….,

Sepertinya aku harus lari, lelaki itu menghampiriku dengan masih membawa kaleng penyok itu di tangannya.

“Hey, jangan lari. Lo kan yang melempar gue dengan kaleng ini!”

Aku terus berlari sekencang yang aku bisa, dalam kepanikan yang mendalam telingaku masih sempat-sempatnya mendengar umpatan kekesalan lelaki itu. Dia juga menyuruhku berhenti namun aku bukanlah tipe cewek yang mudah menuruti perintah seseorang.

“Awas aja lo kalau ketemu lagi, lo gak akan gue lepas!”

Itu kalimat terakhir yang mampu aku dengar. Karena setelah itu aku tak mendengar lagi apapun yang dikatakannya.

Posisiku yang telah jauh dari lelaki itu membuat aku berhenti berlari, capek juga bila harus lari-larian seperti ini. Aku hanya berharap tidak akan bertemu lelaki itu lagi.

Puh.
Aku menghela nafas lega saat ku tolehkan kepala kekebelakang dan bayangan lelaki tadi tak terlihat lagi. Syukurlah dia tidak mengejarku sampai ke sini.

Dengan hembusan nafas aku kembali mengambil langkah menuju ruangan dimana ujian pendaftaran berlangsung, meski aku tidak tahu tempatnya mungkin aku bisa bertanya dengan senior yang lebih dulu belajar di universitas ini.
Semoga saja ada yang berbaik hati pada ku.

Daren melempar ransel yang sedari tadi dipunggung dengan kesal ke mejanya, tak hanya itu dia juga melemparkan kaleng penyok yang sedari tadi dia genggam, sengaja tak membuangnya sebagai bukti atas tindakan gadis pirang ups salah gadis berambut pirang tadi atas apa yang sudah gadis itu lakukan padanya.

Masih ingat jelas di matanya penampilan cewek itu tadi, dengan wajah putih bak seputih salju dengan bola mata.. Apa ya?
Daren mendadak lupa. Memilih mengabaikan bola mata ia kembali mengingat seraut wajah gadis itu. Dilihat dari wajahnya Daren tahu kalau cewek itu bukan orang Jakarta, tentu saja tidak ada orang Jakarta secantik itu. Eh, apa yang barusan ia pikirkan?

Dia mengatakan cewek itu cantik?.

Catat.

Seorang Daren Naufal Akbar mahasiswa semester tiga, sosok yang terkenal sok cool, sosok yang sama sekali tak pernah mengatakan cantik untuk wanita dengan tampilan biasa.

Selera Daren selama ini adalah sosok perempuan yang cantik, pandai berdandan dan sexy. Dan jika dilihat gadis pirang itu tadi tidaklah sesuai dengan kriteria perempuan yang ia suka. Apa mungkin otaknya sudah blank akibat benturan kaleng itu tadi?
Jika benar ia harus memperbaiki kerja otaknya segera, agar kembali berpikir dengan normal lagi.

Daren baru saja ingin mengetuk kepalanya saat tiba-tiba Ivoy datang menghampirinya dengan cengiran yang lebar.

“Kenapa wajah lo Ren? Awal pagi gini udah di tekuk aja!”

Ivoy bertanya sambil melangkah ke tempat duduknya, ia segera duduk dan kembali menatap ke arah Daren yang tak kunjung menjawab.

“Putus dari Ines lo ya?”

Daren melotot kesal atas pertanyaan Ivoy barusan, apa-apaan?
Siapa itu Ines?
Dia tidak mengenal gadis yang bernama Ines, lagipula dia kan tidak punya pacar.

“Sembarangan aja lo kalau ngomong ya, minta di sambalin tuh mulut!”

Ivoy hanya tertawa mendengar balasan dari Daren, tawa yang cukup mengundang orang-orang untuk melihatnya. Ada juga yang merasa terganggu namun ada pula menyukai kebisingan yang lelaki itu buat, memang sudah hal biasa seawal pagi suara tawa Ivoy akan menghiasi suasana di kampus itu.

Siapa yang tak mengenal Ivoy El Azam, dia sosok cowok yang good-lucky, hobby tersenyum, seakan-akan tidak ada beban sekalipun di hidupnya. Keceriaan yang ia bawa mampu menghipnotis orang-orang di sekitarnya untuk mencicipi keceriaan yang ia bawa, tak aneh jika banyak dari kaum wanita berbondong-bondong untuk mendapatkan hatinya.

Namun Ivoy dengan lantang mengatakan tidak pada setiap wanita yang mengutarakan perasaannya. Bukan karena ia tidak suka, hanya saja hatinya sudah terpaut pada satu wanita.

Wanita yang tidak tahu dimana kini keberadaannya, dia hanya berharap bisa segera di pertemukan dengan wanita pemilik senyuman manis itu.

Aku menghembuskan nafas kasar lalu ku tepis keringat yang mengalir di wajahku, ku pandangi gedung-gedung yang yang ku lalui. Aku tidak berbohong, tempat ini sudah berkali-kali aku lewati, anehnya aku lagi-lagi balik ke sini.

Aku lelah dan haus bercampur pusing, sejak pagi tadi tak aku temui dimana ruangan ujian pendaftaran kampus.

Aku bisa saja bertanya pada setiap orang, namun aku tidak punya keberanian untuk itu. Terkucilkan dari keluarga sendiri membuat aku trauma, mungkin ada yang salah pada diriku ini.
Aku pun tidak tahu apa yang salah?

Di katakan cacat aku tidak pula cacat, aku memiliki fisik yang sehat.
Aku memiliki dua mata, satu hidung, dua tangan dan dua kaki. Semua anggota tubuh terpasang lengkap pada tempatnya, lalu kenapa aku dibenci keluarga sendiri?
Memikirkan itu saja sudah membuat aku pusing.

Aku mendongak menatap ke langit dimana matahari bersinar dengan damainya.
Hari masih pagi tapi sinarnya terasa membakar kulitku, tetes demi tetes keringat membasahi wajahku. Lalu pandanganku mendadak buram, aku mencoba sekuat tenaga untuk tetap berdiri.

Kenapa kepala ku pusing sekali?

Lama aku bertahan dari posisiku.
Hingga perlahan aku mulai merasakan kakiku melemah, kepalaku berat.

Aku hanya bisa pasrah.
Kalaupun aku pingsan aku berharap tubuhku ini tidak akan di tendang dan diinjak orang-orang.

Up.
Sebelum tubuhku benar-benar jatuh ke lantai ku rasakan seseorang menangkapnya, aku tidak tahu itu siapa. Aroma tubuhnya yang tercium indra penciuman ku mampu membuat aku tertidur dengan nyaman. Siapa pun kamu aku berterima kasih.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here