Piara Tuyul

0
855
views

“Anak saya itu bu, suka liat yang gaib-gaib. Jadi kemarin bapaknya manggil orang pinter buat liat yang gaib-gaib di rumah saya”
“Wah terus hasilnya gimana bu?”
“Malah kaget saya denger hasilnya. Ternyata rumah saya aman, bebas dari yg gaib-gaib. Tapi katanya orang pinter itu malah nganu, di sana yang banyak”
“Banyak apanya bu?”
“Iya, banyak apanya bu?”
Begitulah ibu-ibu tetangga saya, suka rame tiap belanja. Adaa saja yang dibicarain.

“Eh bu Dina, ibu gak tau ya hasil penerawangan orang pinter yang kemarin dipanggil bu Lela”
“Tidak bu, memangnya hasilnya apa?”
“Besok saja bu Dina tanya sendiri ke bu Lela”
Saya sejujurnya tidak tertarik dengan hasil penerawangan orang pinter tersebut. Makanya saya tidak berniat untuk menanyakannya sama sekali. Tapi ternyata ibu Lela tidak bisa menahan untuk tidak bercerita. Jadilah dia ngomong langsung ke saya begitu ada kesempatan.
“Bu, mau tau hasil penerawangan orang pinter yang kemarin lihat rumah saya gak bu?”
Aduwh maaf bu Lela, kalau bu Lela mau cerita ya monggo. Kalaupun tidak, ya tidak mengapa.
“Ya harus saya sampaikan bu. Iya gak ibu-ibu?”
“Iya bu, sampein saja biar tahu”
Saya hanya tersenyum.
“Nganu bu, rumah saya bebas yang begituan-begituan. Malah yang banyak itunya itu di rumah bu Dina. Banyak bu, kecil-kecil” kata bu Lela. Tetangga saya yang sengaja memanggil orang pintar buat periksa rumahnya.
“Maksudnya banyak apanya bu?”
“Itu bu Dina, banyak gaibnya, kecil-kecil bu”
“Owh begitu kah? Kalau rumah saya memang banyak kecil-kecilnya bu. Maklum cucu Bapak saya kan banyak. Kalau ngumpul tahu sendiri ruamenya minta ampun. Belum lagi anak murid saya yang suka main ke rumah. Terus kalau hanis maghrib juga masih ada banyak anak-anak kecil yang datang mengaji”
“Ini tuyul bu. Rumah bu Dina banyak tuyulnya” kata bu Safa menimpali.
“Astaghfirulloh tuyul siapa memang bu? Main ke rumah saya juga mau apa? Saya juga tidak punya simpanan apa-apa” jawabku.
Tiba-tiba tetangga saya yang lain nyeletuk “tuyul ibu kali. Kalau tuyul orang ngapain betah di rumah ibu”
Astaghfirullohal’adziim sebegitunyakah tetangga saya memandang saya. Jelek-jelek begini dari jaman saya belum lahir, rumah saya buat ngaji anak-anak kampung.
Ternyata rumor tuyul ini sudah merebak ke tetangga-tetangga saya yang lain seminggu ini. Saya memang sangat jarang keluar rumah kumpul ibu-ibu karna saya harus pergi ke kantor senin s/d sabtu. Selepas itu saya juga harus jaga toko.
Saya jadi berfikir sendiri, apakah hal ini terjadi setelah saya bisa membeli mobil, merenovasi rumah, dan membuat toko. Padahal semua itu kami lakukan bertahap. Hanya memang usia kami masih muda dimata tetangga untuk memiliki itu semua.
Saya Dina, PNS, usia 28th sedangkan suami saya adalah pegawai swasta dengan jabatan dan gaji lumayan di kantornya. Namun memang suami saya tipikal orang yang sangat low profile. Dia tidak pernah pamer jabatan apalagi membuka berapa gajinya.
Kami memang hidup dari nol. Berumah tangga setahun selepas wisuda.
Dulu sebelum saya PNS, tetangga saya memang ada yang pernah mengatakan bahwa gaji PNS sangatlah rendah. Hal tersebut dia sampaikan karna ayahnya seorang PNS penjaga sekolah, dan katanya gajinya rendah. Seolah tidak tahu bahwa gaji PNS juga didasarkan pada masa jabatan dan jenjang pendidikan. Namun saya hanya menanggapinya sambil lalu. Tidak pernah saya ambil pusing.
Dan sore itu sambil kami jaga toko, aku sempatkan cerita pada suami.
“Yah, tau tidak rumor yang sedang berkembang di kampung?”
“Rumor apa mah?”
“Katanya kita miara tuyul hihihikkks” saya mengatakan sambil terkikik. Lalu saya bercerita kejadian minggu pagi kemarin di tukang sayur.
Tapi dengan santainya suamiku menjawab
Keren dong, ada PNS piara tuyul hahahaa. Sana mah, tuyulnya diajak sholat dulu. Trus jangan lupa diajarin ngaji wakakaka”
“Wakakaaa” kamipun tertawa bersama.

by: Umah Atik

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here