Pesan Dari Mimpi #06

0
84
views

Malam ini aku kuhabiskan dengan menginap di rumah sakit.
Mungkin karena pengaruh obat yang diberikan tadi membuatku terasa sangat mengantuk.

Seolah mereka tak mau pergi dariku. Sehingga mereka mengikutiku hingga ke rumah sakit.
Malam itu aku melihat wanita misterius dengan beberapa orang pria yang berwajah sangar mendekati rumah adiknya. Dua orang dari mereka seperti tengah mengotak-atik mobil wanita cantik itu.

**

“Ayo sayang … Kita harus berangkat sekarang juga!” Teriak lelaki itu.
“Iya … Iya … Aku udah siap kok,” Ujarnya.

Mereka membawa beberapa koper besar dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Sesaat sebelum mengunci pintu, wanita cantik itu melihat sekeliling rumahnya. Mungkin ia dengan berat hati meninggalkan kenangan yang ada di rumah itu.

Akhirnya pagar rumah itu tertutup dan mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan area perumahan.
Tak lama kemudian ada yang membuntuti mereka dari belakang.

Sadar mereka diikuti mobil di belakangnya, lelaki itu melajukan kendaraanya. Hingga pedal gasnya kandas. Lina yang sadar suaminya kebut-kebutan pun mengingatkan untuk berhati-hati.
“Mas … Hati-hati. Kenapa ngebut sih?” Tanya wanita itu.
“Itu di belakang. Mobil itu membuntuti kita dari tadi. Mas takut itu orang mau merampok kita.” Ujarnya.

Lalu wanita cantik itu melihat ke arah belakang dan kini ia pun panik.
“Berhenti di kantor polisi aja Mas.” Ucapnya.
“Ya ini Mas juga nyari tempat keramaian.”

Kantor polisi atau keramaian yang dimaksud tak kunjung ditemui, jalan ini cukup sepi.
Saat lelaki itu melihat arah belakang dan berbalik ke arah depan lagi maka terjadilah…. Buuaaaaaarrrrr

Kecelakaan tak terelakkan, mereka menabrak sebuah bus yang melaju dari arah berlawanan.

Mobil itu dikerumuni orang-orang yang ingin melihat. Situasinya sama persis seperti waktu itu, di saat ada kecelakaan saat perjalanan menuju sekolahku.
Para pengintai juga ikut turun untuk melihat kecelakaan itu.
Salah satu dari mereka tengah menelepon.

Syila anak perempuan itu menangis. Sepertinya dia kesakitan di dalam sana.

**

Tak lama kemudian wanita misterius itu tiba di tempat kejadian.
Setelah pihak kepolisian berhasil mengeluarkan semua penumpang mobil itu, wanita misterius mendekati jasad wanita cantik itu. Bukannya bersedih ia malah mengambil kalung turun temurun pemberian Ibu mereka.

“Dia adikku.” Ucapnya.
Lalu ia membiarkan perawat membawanya ke ambulance.
Dengan berpura-pura menangis wanita itu melepas adiknya yang akan di bawa ke rumah sakit.

“Turut berduka cita ya Ibuk.” Wanita itu mendapat ucapan belasungkawa dari Pak Polisi.
“Iya Pak, terimakasih atas bantuannya.” Wanita itu berbasa-basi.

Saat wanita misterius kembali ke mobilnya, terpampang jelas wajahnya yang selama ini tak kuketahui.
“Tante Vivi!” Aku ternganga.

Sebelum menaiki mobilnya Tante Vivi menemui para suruhannya.
“Kerja bagus, sesuai dengan yang kuharapkan, walaupun terjadi lebih cepat dari yang kurencanakan.
Lebih baik mereka berdua mati.” Ucapannya mengandung makna puas.
Lalu ia menyerahkan sebuah amplop coklat kepada orang suruhannya itu.
Dia pun berlalu begitu saja.

Aku terbangun saat perawat rumah sakit membangunkanku.
“Dik Syila …” Apakah kamu mendengarkan suaraku.
Dengan gerakkan cepat mataku terbelalak.
Keringat dingin mengucur deras.
“Ada apa denganku?” Tanyaku.
“Kamu dari tadi kamu mengigau.” Ujar Nenek.

“Aduh … Kepalaku pusing.” Keluhku
“Sebentar saya panggilin dokter dulu.” Perawat itu bergegas memanggil dokter.

“Nek kepala Syila sakit.” Aku menjambak rambutku.
“Sabar sayang … Sebentar lagi dokter akan memeriksamu.” Nenek memegangi tanganku.

“Permisi.” Ujar seorang pria berjas putih.
Lalu ia memeriksa keadaanku dan menyuntikkan suatu cairan ke selang infus.
Mungkin penenang atau pereda rasa sakit.
Setelah itu aku pun tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Aku kembali ke alam mimpiku.
Aku melihat ke dua orang itu berbaju serba putih. Mana putri kecil mereka?
“Kamu harus memberitahu yang sebenarnya Syila.” Ujar lelaki itu.

Mereka mengenalku, mereka mengetahui namaku.
“Apa yang harus kuberitahu? Dan kepada siapa?” Tanyaku.
“Semua nya Nak.” Wanita cantik itu memanggilku Nak.
“Kami berdua orang tuamu, kau lah anak kecil yang selamat dari kecelakaan yang kau saksikan.” Ujar lelaki itu.

Aku terkejut, kenapa aku tak ingat apapun tentang kejadian kecelakaan itu.

**

Saat aku tersadar aku menanyakan keberadaan Tante Vivi.
“Nek Tante Vivi mana?” Tanyaku.
“Dia ada di rumah, kenapa? Kamu ingin bertemu dengannya?” Lanjut Nenek
“Iya Nek, aku ingin bertemu dengannya.”
Lalu Nenek mengambil telepon selulernya dan menghubungi Tante Vivi.

“Sebentar lagi dia akan tiba di sini.” Ujar Nenek.

**

Saat Tante Vivi berada di hadapanku, ku memandanginya dengan sorotan tajam.
“Tante Vivi akuilah semua perbuatanmu!” Ujarku.

“Apa yang kamu bicarakan ini?” Tanyanya heran.

“Apa harus Syila membuka ingatan Tante beberapa tahun silam?” Tanyaku.

“Apa yang kamu maksud?” Tanyanya lagi.

“Sudah puaskah Tante dengan apa yang Tante lakukan pada kedua orang tuaku?”

Nenek yang kebingungan dengan perilaku ku langsung bertanya padaku.

“Apa maksudmu Syila?” Tanya Nenek.

“Nenek bisa tanya langsung dengan Tante Vivi.” Ujarku.

“Apa yang harus Tante akui Syila?” Tanyanya, seolah dia tak merasa bersalah dengan kematian kedua orangtuaku.

“Tante yang menyebabkan kedua orangtuaku meninggal!” Aku sedikit meninggikan suaraku.

Raut wajahnya menandakan dia terkejut mendengar ucapanku. Mendadak kejudesannya sirna berganti dengan ketakutan.

“Syila … Jaga bicaramu.” Pertama kalinya Nenek membentakku.

“Syila mengatakan yang sebenarnya Nek. Tante Vivi dan Papa dulunya sepasang kekasih. Tapi ketika Tante Vivi mempunyai pria idaman lain, hubungan mereka kandas. Setelah itu Papa bertemu dengan Mama, saat itu Papa belum mengetahui kalau Tante Vivi adalah Kakak Mama.
Tante Vivi terus berusaha menggoda Papa, menurut Tante Vivi Mama merebut cintanya.
Papa selalu berusaha mengingatkan Tante Vivi untuk tidak merusak rumah tangganya, tapi Tante Vivi tetap nekat mengganggu Papa.” Aku memandangi wajah Tante Vivi yang kini basah karena keringatnya. Padahal ruang ini memiliki Ac tapi Tante Vivi seolah merasa kepanasan.

“Hingga suatu hari kemarahan Papa memuncak dan sampai menampar Tante Vivi. Tante Vivi balik murka dan berencana mencelakai Papa dan Adik kandungnya sendiri.
Saat papa memutuskan untuk pindak ke luar kota adalah untuk menghindari Tante Vivi.
Tapi setelah mereka pamit kepada Nenek, Nenek langsung mengabari Kakak-kakak Mama tentang kepindahan mereka.
Saat Tante Vivi mengetahui rencana Papa dan Mama, dia menyewa orang suruhan untuk menyabotase mobil yang kami tumpangi.
Sehingga kecelakaan tak terelakkan lagi yang menyebabkan kedua orangtuaku meninggal.”

“Kau tak punya bukti apa pun untuk menuduhku. Kematian mereka murni kecelakaan.” Ujarnya.

“Tante mau bukti? Baik. Akan kuberikan bukti atas tuduhanku.” Mataku tak berkedip saat menatapnya.

“Nenek pernah memberikan Mama kalung berliontin permata berwana hijaukan?” Tanyaku

“Iya Nenek memang pernah memberinya. Namun kalung itu hilang saat peristiwa kecelakaan.” Ujar Nenek.

“Kalung itu tidak hilang.” Ujarku
Nenek memandangku tajam.
“Kalung itu masih ada.” Aku menatap wajah Tante Vivi.
Lalu Nenek juga memandang Tante Vivi.

“Ibu, kenapa Ibu memandangku seperti itu?” Tanyanya.

“Apa benar semua yang diceritakan Syila?” Tanya Nenek.
Tante Vivi nampak ketakutan, peluhnya bercucuran.

“Jawab!!” Teriak Nenek.
Tante Vivi tersentak dengan teriakan Nenek.

Tante Vivi berlutut dan menangis.
“Maafkan aku Ibu, aku khilaf. Aku dibutakan oleh rasa cintaku. Sehingga aku harus mengorbankan Adik kandungku sendiri. Maafkan aku Ibu.” Tante Vivi menangis histeris.

Nenek menelepon Kantor Polisi.
“Setiap tindak kejahatan harus ada resikonya. Setiap pelaku kejahatan harus menerima hukumannya.” Ujar Nenek mantap.

**

Tak lama kemudian polisi datang dan memborgol Tante Vivi. Tante Vivi tidak meronta, mungkin ia sadar akan kesalahannya dan menerima segala resikonya.

“Cucuku, dari mana kamu bisa tahu semua peristiwa di masa lalu itu? Tanya Nenek.

“Mama dan Papa Nek. Mereka terus datang ke mimpi Syila.”

Nenek terdiam saat aku menceritakan semua mimpiku yang sempat diabaikannya beberapa hari lalu.

“Nek, kenapa Syila tak bisa mengenali wajah Mama dan Papa? Kenapa Syila tidak ingat kejadian masa lalu itu?”
Nenek terdiam kebingungan.

“Nek … Kepalaku sakit sekali.”
“Sebentar Nenek panggilkan dokternya.” Lalu Nenek keluar dan memanggil dokter.

**

“Sebenarnya penyakit apa yang diderita keponakan saya dok? Kenapa dia tak bisa mengingat wajah kedua orangtuanya?” Tanya Tante Ivone.

Tante Ivone datang sesaat Tante Vivi dibawa ke kantor polisi.

“Menurut pemeriksaan saya dan hasil rontgen ada bekas cedera di otaknya. Bisa jadi Syila mengalami Amnesia Retrogade, dimana penderitanya merasa kesulitan untuk mendapatkan kembali ingatan yang sudah terjadi di masa lalu. Terlihat normal jika seseorang bisa lupa akan hal yang terjadi di belakang. Tapi ini dianggap lebih dari peristiwa yang orang-orang biasa alami.
Penyebabnya bisa karena cedera otak traumatis atau bahkan amnesia pasca trauma, bisa juga karena operasi tertentu, infeksi yang menyebabkan kerusakkan otak atau pernah mengalami pengalaman yang traumatis. Nanti kita akan memeriksanya lebih Lanjut.” Jelas dokter itu.

“Lalu bagaimana caranya supaya Syila bisa mengingat semua kenangan masa lalunya?” Lanjut Tante Ivone.

“Sangat sulit, karena jenis amnesia retrogade memang seperti amnesi pasca trauma, tapi penyembuhan akan sedikit sulit. Jangan memaksanya untuk mengingat sesuatu dari masa lalu, karena otaknya akan merasa tertekan dan Syila akan merasa kesakitan.” Ujar Dokter.

Aku mendengar semua penjelasan dari dokter. Itu lah yang membuatku tak mengenal kedua orangtuaku.

Dokter memperingatkanku untuk tidak memaksakan diri mengingat kejadian masa lalu.

Di sudut ruangan ini aku melihat Mama dan Papa berdiri memakai baju putih yang bekilauan. Mereka tersenyum bahagia melihatku.
Mereka melambaikan tangannya dan hilang bersama cahaya.

===Tamat===

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here