Pesan Dari Mimpi #05

0
66
views

Pagi itu aku terbangun dengan kepala yang terasa sakit sekali. Apakah aku terlalu memikirkan mimpi-mimpiku.
Sampai-sampai aku tak bisa membuka mata, semua terasa berputar.

Sejenak kuhilangkan mimpi-mimpi itu dipikiranku. Berharap setelah itu aku akan baik-baik saja.
Ya kepalaku sudah tidak sakit lagi. Namun saat kulirik jam wekerku ternyata sudah pukul delapan pagi, gerbang tinggi itu sudah tertutup rapat. Akhirnya kuputuskan untuk tidak bersekolah hari ini. Aku menelepon Nenek dan memberitahunnya tentang keadaanku.
Terdengar nada kekhawatiran dari suara Nenek. Nenek berjanji sore ini akan tiba di rumah.

Aku mencari obat pereda rasa sakit yang biasa aku minum, ah sialnya obat tersebut habis.
Berusaha untuk memejamkan mata agar nanti ketika bangun aku sudah baik-baik saja.
Kutarik selimut dan mengatur posisi tidurku.

**

“Kamu mau ngapain ke sini?” Bentak lelaki itu.
“Ini rumah adikku, jadi aku bisa ke sini kapan saja aku mau.” Ujar wanita misterius.
“Jangan adikmu kau jadikan alasan. Aku tahu maksud dan tunjuanmu.”
“Lha, kalau kamu tahu kenapa masih bertanya haa!”

Wanita itu melenggang meninggalkan lelaki itu sendirian.
Lelaki itu sangat gelisah, mungkin dia takut, istrinya akan tahu yang sebenarnya.

“Kakak pulang dulu ya Lina.” Wanita misterius itu mencium ke dua pipi adiknya.
“Iya hati-hati Kak, sering-sering main ke sini ya.”
“Iya … Kakak akan sering main ke sini.” Sambil memandang suami adiknya. Dari nada bicaranya penuh makna.

Mereka saling melambaikan tangan.
“Mas … Kepanasan ya? Kok keringatan gitu?” Tanya wanita cantik itu kepada suaminya.
“Ah iya, Mas merasa gerah sekali.” Lelaki itu mengusap keringatnya dan mengibaskan kerah bajunya, seolah dia memang merasa kepanasan.

Hilang lagi ditelan sebuah cahaya.
Lalu yang muncul adalah pertengkaran hebat antara lelaki itu dan mantan kekasihnya.
“Aku tak suka kau terus-terusan mendatangi rumahku!” Ujar lelaki itu.

“Tak ada alasan untuk kau tak suka. Di rumah itu ada adikku dan keponakkanku, jadi tidak salahkan aku kesana. Sekalian bisa menggodamu, mungkin saja kamu akan tergoda.” Rayu manja wanita itu.

Plaaakkk………….
Sebuah tamparan mendarat ke pipi wanita itu.
“Beraninya kau menamparku!” Wanita itu marah sekali.
“Aku akan lebih berani lagi jika kau nekat menghancurkan rumah tanggaku!” Tak kalah lelaki itu marah besar.

“Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Lina, bahwa kau adalah mantan kekasihku. Lina pasti syok mendengar semua ini.” Ancam wanita itu.

“Lakukan sesukamu, aku tak takut. Lina seorang yang bijak, dia pasti tahu mana yang terbaik.” Ucap lelaki itu.

“Baik lah. Kau pikir ini hanya gertakkan? Aku akan buktikan.” Lalu ia pergi dan menghilang.

Kini aku berada di sebuah situasi lain lagi.

Aku tak lagi bisa mendengar obrolan mereka. Tapi yang terlihat mereka bertiga seolah sedang beradu mulut. Wanita cantik itu terduduk lemah di antara ke duanya.
Ia menangis, tangannya menutupi mulutnya.
Aku yang melihat pun terasa pilu.
Mungkin sang Kakak menceritakan yang sebenarnya.

Cahaya silau itu mengalihkan pandanganku ke situasi lain lagi.
Ini rumah Nenek. Kenapa ada dimimpiku?

“Bu, Lina dan Mas Ivan mau pindah ke luar kota.” Ujar wanita cantik itu.
“Lho, kenapa? Kok terkesan buru-buru sekali?” Tanya Nenek heran.
“Nggak kenapa-kenapa Ibu, sudah lama kami berdua merencanakan ini. Dan baru sekarang Lina memberitahu Ibu.” Kutahu ia berbohong demi menjaga hati Ibunya.
“Kalian mau pindah kemana?”
“Nggak jauh dari kota ini kok Bu. Lina, Mas Ivan dan Syila akan selalu mengunjungi Ibu.” Ujarnya.
“Iya, Ibu tidak bisa memaksa kalian untuk tetap di sini. Kalian sudah punya kehidupan sendiri. Jaga dirimu baik-baik. Jaga Syila. Ivan Ibu titip Lina ya.” Ujar Nenek.
“Iya Bu Ivan akan jaga keluarga kecil Ivan.” Lelaki itu mencium tangan Nenek.
“Kapan kalian akan berangkat?” Lanjut Nenek.
“Besok Bu.” Jawab wanita cantik itu.
Nenek hanya mengangguk-angguk.

**

Aku terbangun lagi, saat terasa keningku diusap seseorang. Kubuka mataku pelan-pelan, samar terlihat wajah Nenek. Kupercepat gerakkan membuka mata dan benar saja Nenek sudah pulang ternyata.
“Kamu kenapa Syila?” Tanya Nenek
“Kepala Syila sakit Nek.” Aku mulai bertingkah manja kepada Nenek.
“Mau ke dokter?” Tanyanya lagi.
“Nggak usah Nek.” Ujarku
“Ya sudah, kamu istirahat lagi ya.” Nenek mengecup keningku.

Malam itu aku hendak keluar kamar. Namun saat membuka pintu kamar kepalaku tiba-tiba sakit lagi. Sakitnya luar biasa, semua yang ada didekatku terasa berputar.

**

Hidungku terasa mencium aroma yang tak pernah aku temui di rumah atau di kamarku.
Seperti bau obat-obatan. Saat aku membuka mataku, terasa ruangan ini asing bagiku. Lampu yang terang menyilaukan mataku. Tangan sebelah kanan terpasang selang infus.

Pakaian ini. Ini adalah pakaian pasien di rumah sakit. Apa yang terjadi sebenarnya?

“Nek …” Aku memanggil Nenek
“Iya sayang, kamu sudah sadar?”
“Sadar? Kenapa dengan Syila Nek?” Tanyaku.
“Kamu tadi pingsan, lalu kami membawamu ke rumah sakit.” Ujar Tante Ivone.
“Tante Ivone.” Ujarku.
“Iya sayang, Tante langsung ke sini setelah Nenek memberitahu kalau kamu pingsan dan dibawa ke rumah sakit.” Jawab Tante Ivone.
Ia mengusap lembut rambutku.

Dari arah pintu yang terdapat sebuah kaca kecil, terlihat ada dua orang yang melihat ke arahku, mereka tampak sedih sekali. Mereka adalah orang-orang yang ada dimimpiku.

“Siapa itu Nek?” Tanyaku sambil menunjuk ke arah pintu.
Terlihat Nenek dan Tante Ivone menoleh ke arah yang sama. Bahkan Tante Ivone membuka pintu untuk melihat apa yang aku lihat tadi.

“Tak ada siapa pun di luar.” Ujar Tante Ivone.
“Ada. Tadi ada dua orang di sana yang tengah melihatku.” Jawabku.
“Sudahlah, kamu istirahat saja lagi.” Nenek menyuruhku beristirahat.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here