Pesan Dari Mimpi #04

0
73
views

Sudah hampir satu minggu Tante Vivi menginap di rumah Nenek. Aku sangat tidak nyaman dengan keberadaannya.
Bagaikan berhadapan dengan musuh.
Sering kali aku beradu pendapat dengannya, dia tidak mau disalahkan baginya dia selalu benar. Oh Tante … Begitu egoisnya dirimu.

**

Siang itu sepulang sekolah aku mengurung diri di kamar. Malas kalau harus bertatap muka dengan Tante Vivi.
Lebih baik aku tidur seharian, setelah mengganti pakaianku segera saja aku baringkan tubuh ini di atas kasur. Tak perlu menunggu lama akhirnya aku tertidur.
Aku bertemu lagi dengan orang-orang yang dimimpiku sebelumnya. Namun kali ini sepertinya semua tampak jelas dan nyata. Aku mendengar setiap obrolan mereka.

Berawal dari gurauan sepasang suami istri itu bersama putri kecilnya.
“Ayo Papa kejar Syila.” Anak itu sangat riang sekali.
“Syila … Oh nama yang sama denganku” bathinku.
“Jangan lari-lari nanti jatuh.” Wanita yang berparas cantik itu memperingati putrinya untuk tidak berlari-lari.
Lalu mereka hilang bersama kilauan cahaya dan berganti dengan pertemuan lelaki itu dengan seorang wanita yang hanya tampak punggung saja.

“Tolong jangan ganggu aku! Aku sudah berkeluarga, aku bahagia dengan istri dan anakku. Ditambah lagi kini istriku tengah mengandung!” Bentak lelaki itu

“Kau bisa tinggalkan dia, dan kau menikah denganku, aku memiliki banyak uang untuk kehidupan kita!” Tak kalah wanita itu pun kembali membentak.

“Mengertilah … Hubungan kita sudah lama berakhir, dulu sewaktu kuliah kau mencampakkanku demi pria pilihanmu. Dan aku mendapatkan ganti seorang wanita yang lebih baik darimu. Pergilah dari hidupku. Jangan rusak kebahagianku terutama kebahagiaan adikmu!” Lanjut lelaki itu.

Aku bingung dengan alur obrolan mereka.
Aku belum mengerti kemana arah tujuan obrolan mereka.

“Sekali pun dia adik kandungku aku tak perduli! Selama ini segala keinginannya selalu dipenuhi Ibuku. Dan kini ia merebut pria yang aku cintai!” Teriakkan wanita itu menggelegar. Sepertinya dia amat marah dengan istri lelaki itu yang disebut adik kandungnya.

“Dia tak pernah merebutku darimu, kau lah yang meninggalkanku dulu. Aku bertemu dengannya saat kau sudah bersama yang lain. Lalu kenapa sekarang kau menginginkanku lagi?” Tanya lelaki itu.

Naluri kedewasaanku mulai memasuki alur pembicaraan mereka. Memang aku seorang murid SMA tapi aku tidak begitu mengerti tentang cinta, sebab Nenek melarangku untuk mengenal cinta sebelum pendidikanku selesai.
Yang kutangkap dari obrolan mereka adalah istri dari lelaki itu adalah adik wanita yang tengah mengobrol dengannya.

Wanita itu pergi dan berlari meninggalkan lelaki itu. Tampak lelaki itu mengusap wajahnya yang memerah akibat perseteruan tadi.

Kembali penglihatanku akan mereka hilang.
Berganti dengan peristiwa lainnya.

“Syila … Nenek datang.” Wanita cantik itu memanggil putri kecilnya.

“Nenek ….”. Anak perempuan itu memeluk sang Nenek.

“Suamimu mana?” Tanya wanita tua itu kepada wanita cantik itu setelah melepas pelukkan cucunya.

“Bentar lagi juga pulang Bu. Tadi dia pamit pergi sebentar.”

“Oh .. Ibu ke sini cuma sebentar. Ibu cuma ingin memberimu sebuah kalung berliontin permata berwarna hijau ini. Ini kalung turun temurun yang dari keluarga kita. Dan sibungsu dari keluarga akan memilikinya. Maka dari itu Ibu memberikan ini kepadamu sebelum kakak-kakakmu memintanya.”

Wanita itu melihat kalung itu dengan seksama.
“Indah sekali Bu.” Puji wanita itu.
“Ya sudah Ibu pulang dulu.” Wanita tua itu pamit pulang.
“Cepat sekali Bu.”
“Ibu hanya mau memberikan kalung itu untukmu. Ibu pulang dulu ya.” Wanita itu berbalik hendak pulang.
“Terimakasih Bu, akan kujaga pemberian Ibu ini.” Sambil memeluk wanita tua itu.

Sekilas kulihat wanita tua itu seperti Nenek. Ya wajahnya mirip sekali dengan Nenek.

Aku tersentak karena jam wekerku berbunyi. Itu tandanya hari sudah pagi dan aku bersiap-siap untuk kesekolah.

Aku sangat bingung dengan mimpiku tadi malam. Apa maksud dari mimpi itu? Siapa mereka? Dan kenapa ada Nenek di sana?

Nanti saja sepulang sekolah kutanyai semua tentang mimpi ini pada Nenek.

Biasanya aku bisa mengesampingkan mimpi-mimpiku agar proses belajar tak terganggu. Tapi tidak kali ini, aku merasa sangat terusik dengan mimpi itu.

**

Saat tiba di rumah aku langsung mencari Nenek.
“Tante Vivi Nenek mana?” Ujarku kepada wanita judes ini.
“Nenekmu pergi keluar kota untuk beberapa hari, ada urusan sebentar katanya.” Jawab Tante Vivi.
Apaa?? Nenek pergi tanpa mengabariku.

Memang ini sudah hal biasa, karena diumur Nenek yang sekarang ini, dia tetap turun langsung kalau masalah mengenai perusahaan-perusahaannya.
Nanti saja kalau Nenek sudah pulang aku akan menceritakan semuanya.

**

Malam ini aku masih menemui mereka. Terjadi konflik ya sama seperti yang lalu.
Wanita itu menemui lelaki yang adalah mantan kekasihnya.
Dengan berpura-pura bertamu ke rumah mereka.
Sang adik atau wanita cantik itu sepertinya tidak mengetahui kalau suaminya dan kakak kandungnya ini dulu adalah sepasang kekasih.

Lelaki itu tampak sedikit gelisah dengan kehadiran mantan pacarnya yang sekaligus kakak iparnya.
Apalagi saat wanita itu ingin bersalaman dengannya. Ada rasa enggan menyalami tangan wanita itu.
“Tante ….” Sapa anak perempuan itu.
“Ya sayang … Apa kabarmu cantik?” Tanyanya.
“Kabar Syila baik, Tante gimana kabarnya?” Tanyanya lagi.
“Kabar Tante kurang sehat. Lagi sakit hati.” Wanita itu cekikikan sambil menatap lelaki itu.
Dan suasana menjadi penuh karena tertawaan mereka.
“Mas Vano mana Kak? Kok nggak di ajak sekalian.” Tanya wanita cantik itu.
“Biasalah Na, Mas Vano lagi mengudara.” Jawabnya.

Tampak mereka berdua mengobrol dengan asyiknya.
Namun lelaki itu entah dimana keberadaannya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here