Pesan Dari Mimpi #03

0
130
views

Sesaat setelah menutup jendela aku melanjutkan tidur hingga terbangun lagi di pagi harinya.

“Pagi Nek …” Sapaku yang penuh semangat.
“Ceria sekali hari sayang.” Ujar Nenek.
Entah aku hanya menghibur diri sendiri karena mimpi tadi malam atau ada yang lain? Entahlah. Yang pastinya aku selalu mengesampingkan mimpi-mimpiku saat beraktifitas.

**

Perjalanan kali ini sungguh membosankan, dimana mobil kami hanya merangkak di jalanan ini. Sebab di depan sana telah terjadi kecelakaan, yang membuat jalan menjadi macet total.
Dengan memainkan rambutku, sambil memandang arah luar membuatku merasa lebih bosan. Jarak kami dengan kecelakaan itu tidak begitu jauh. Dari pada bosan menunggu di sini, lebih baik aku keluar dari mobil dan melihat apa yang terjadi.
“Pak, Syila mau lihat kecelekaan itu ya.” Pamitku pada Pak Wawan.
Pak Wawan sepertinya tak mengizinkanku untuk keluar dari mobil, tapi apalah dayanya, kemauanku tak bisa dibantah.
“Tapi Non.” Belum saja ia menyelesaikan ucapannya aku segera keluar dan menutup pintu mobil.

**

Ku melihat kerumunan orang-orang di luar sana. Begitu parahkah kecelakaan itu? Sehingga membuat jalanan macet total.
Rasa penasaranku akan terjawab jika aku berada di lokasi kecelakaan.

Dengan berdesak-desakkan kuterobos orang-orang yang ada di sana. “Minggir … Minggir … Mau lewat.”

Betapa terkejutnya aku, melihat kondisi mobil itu sama persis yang kulihat beberapa hari yang lalu. Mobil yang rusak parah, aliran darah dan juga tangisan anak kecil.
Dikarenakan kondisi mobil yang sangat parah dan mungkin korbannya juga terluka parah sehingga tak ada seorang pun yang berani menolong mereka.
Lebih tepatnya mereka mencari aman dengan menunggu pihak kepolisian atau ambulance.

Pilu rasanya hatiku mendengar suara tangisan anak kecil itu.
Mungkin orang tua nya pingsan atau bisa jadi sudah meninggal, karena tak ada sedikitpun respon dari orang tuanya.

**

Tidak lama kemudian mobil patroli tiba dan segera memasang garis polisi di sekitar tempat kejadian. Beberapa orang di sini diminta untuk membantu mengeluarkan korban dari mobilnya.
Ambulance beserta para perawat sudah siap siaga untuk menangani para korban.

Cukup memakan waktu yang lama untuk mengeluarkan para korban, saat satu persatu penumpang mobil itu dikeluarkan, yang pertama kulihat adalah seorang wanita yang pernah aku lihat sebelumnya. Setelah itu keluar lagi seorang lelaki yang tak asing lagi wajahnya diingatanku.
Terakhir seorang anak kecil yang bersimbah darah dan memegang boneka menangis terisak-isak.
Melihat mereka semua tiba-tiba kepalaku pusing.
Dan aku memutuskan untuk kembali menunggu di dalam mobil.

**

Saat terbebas dari kemacetan Pak Wawan menekan gas lebih kuat, laju mobil ini bak peluru yang keluar dari sarangnya.
Saat tiba di sekolah gerbang tinggi itu sudah tertutup rapat. Tandanya aku sudah terlambat. Saat kulirik jam tanganku ternyata sudah pukul sembilan. Tak ada toleransi untuk siswa atau guru yang terlambat dua jam.

Akhirnya Pak Wawan mengarahkan mobil ini untuk kembali ke rumah. Dengan rasa sedih aku harus melewati pelajaran hari ini di sekolah.

**

Sesampainya di rumah aku langsung bertemu dengan Nenek.
“Lho kok kamu udah pulang?” Tanya Nenek heran.
“Syila terlambat Nek.” Jawabku.
“Kok bisa, kan kamu tadi perginya seperti biasa?”
“Tadi ada kecelakaan di jalan jadi nya kami kejebak macet.” Ujarku.
Nenek langsung mengeluarkan telepon selulernya.
“Hallo, selamat pagi. Saya Neneknya Syila, mau meminta izin, Syila tak dapat masuk sekolah, dikarenakan kejebak macet.” Nenek terlihat mengangguk-angguk.
“Baik, terimakasih, selamat pagi.” Lalu menutup teleponnya.

“Syila ganti baju dulu ya nek.”
“Ya.” Ujarnya.

**

Krriiinggg …. Telepon rumah berbunyi, saat itu aku berada tak jauh dari situ. Aku langsung menerima telepon.
“Hallo.” Terdengar suara yang mengucapkan salam di sana.
“Ya Hallo, siapa ini?” Tanyaku
“Ini Tante Vivi.” Ia adalah kakak tertua dari Mama.
“Oh, ada apa Tante?”
“Nenek mana?” Tanyanya.
“Ada tuh di kamar.” Ujarku
“Ya udah Tante mau ke rumah ya.”
“Ya Tante.”

Tante Vivi orangnya sedikit judes, maka itu hubunganku dan dia tak sedekat dengan Tante Ivone.

**

Tok … Tok …. Tok …
Tante Vivi sudah berdiri di depan pintu. Dan segera saja dia masuk mencari Nenek.
Aku di lewatkan begitu saja. Sebenarnya aku tak perduli mau dianggap ada atau tidak olehnya.

Tampak Nenek keluar dari kamar bersama Tante Vivi. Aku yang sedang menotonton tak mengalihkan pandanganku lagi setelah mereka duduk di sampingku.
Wataknya yang keras membuatnya seolah seperti orang yang kejam. Ditambah lagi dengan kejudes-judesan yang maha dasyatnya itu. Menambah kesan horor melekat didiri Tante Vivi.

Ternyata Tante Vivi menginap di rumah Nenek. Maklum lah suami Tante vivi seorang pilot dan anak-anaknya sedang kuliah di luar negri. Jika suaminya sedang ada jadwal penerbangan pastinya dia merasa kesepian.

Ah … Situasi yang tidak mengenakkan malam ini. Yang biasanya rumah ini adem ayem tapi sejak kehadiran Tante Vivi berubah menjadi tegang. Aku tak bisa sembarangan berbicara. Karena Tante Vivi akan memarahiku habis-habisan.

Lebih baik aku mengurung diri di kamar. Mungkin akan lebih baik aku menghindarinya, walaupun terkesan tidak sopan.

**

Sampai akhirnya aku tertidur dan bertemu mereka lagi. Kali ini aku melihat lelaki itu berbicara pada seorang perempuan, aku tak dapat melihat wajahnya. Hanya terlihat punggungnya saja.
Dari gerak-gerik tubuh mereka tampaknya mereka tengah berseteru.
Ntah apa yang dibicarakannya aku pun tak tau.

Sampai akhirnya lelaki itu pergi meninggalkan perempuan itu.
Aku kembali terbangun mendengar sesuatu. Seperti barang kaca yang terjatuh.
Langsung saja aku menuju dapur dan aku melihat Tante Vivi tengah membersihkan serpihan kaca di lantai.

“Ada apa Tante?” Tanyaku
“Kaki Tante tadi kesandung, jadi gelas yang Tante pegang terjatuh.” Sambil terus mengumpulkan pecahan gelas itu.
Karena lampi di sini tidak di hidupkan maka suasananya remang-remang. Lalu ku nyalakan lampu dapur.

“Kenapa lampunya nggak dihidupin sih Tan.” Aku membantunya membersihkan sisa pecahan gelas.
“Udah deh nggak usah cerewet.” Ujarnya ketus.

“Uh … Ini Tante udah dibantuin malah ngeselin.” ujarku dalam hati.
Aku berusaha untuk tidak marah karena kejudesannya.

Setelah semuanya bersih aku pamit kembali ke kamar.
“Syila balik ke kamar ya Tante.”
“Ya.” Sesingkat itu lah jawabanya.

“Dasar judes.” Teriakku dalam hati.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here