Aku dan Maduku #01

0
349
views

Memiliki suami yang berasal dari kota besar adalah impianku sejak kecil. Paras tampan, tubuh yang gagah menjadi syarat wajib untuk calon suamiku. Tak perduli bagaimana latar belakang keluarganya, saat mas Tio melamarku, aku langsung mengiyakan.

Namun mimpi itu memang hanya indah dimalam hari, kenyataanya tak seindah itu. Ibu mas Tio tak terlalu memyukaiku. Perempuan dengan paras cantik dan berkulit putih itu terlihat tak suka dengan kehadiranku. Berbeda dengan Bapak, lelaki berperawakan kurus tapi tetap berwibawa itu, bertutur lembut dan terlihat sabar. Sepertinya Bapak menerimaku untuk masuk kedalam keluarga besarnya. Berbeda dengan Ibu yang terang-terangan menghinaku.

“Tio, apa kamu yakin ingin menikahi gadis kampung ini. Apa istimewanya sih gadis kayak gini?”
Suara ibu mas Tio membuat air mataku menetes dengan sendirinya. Dengan hangat mas Tio mengajakku untuk keluar dari rumah itu dan pergi menemui kakaknya.

Disana aku diterima dengan baik, sebagai adik ipar. Bahkan rasanya aku merasa seperti memilik saudara kandung. Memang sedari dulu aku tak pernah merasakan yang namanya memilik saudara, aku adalah anak semata wayang dari emak dan bapak. Belum sempat memilik adik bapak sudab terlebih dulu menghadap ke Tuhan yang Maha Esa.

Hari berganti, pernikahanku dengan mas Tio berlangsung meriah. Walaupun ibu mertua belum bisa menerima kehadiranku, tapi acara pernikahan itu semua beliau siapkan dengan baik.

Setahun setelah menikah, aku memutuskan untuk meminta pulang ke kampung. Aku tengah hamil tua, dan ingin sekali bisa melahirkan ditemani emak. Mas Tio mengiyakan permintaanku. Banyak keperluan yang kami bawa dari kota untuk persiapan melahirkan nanti. Maklum kampungku masih sangat terpencil, masih jauh dari peradaban modern.

Sebelum kembali ke kota, mas Tio menitipkan sejumlah uang kepada emak. Dia juga meminta emak untuk mencari rewang untuk menemaniku setelah melahirkan nanti. Mengambilkan air untuk keperluanku dan calon bayiku nanti. Karna di kampung belum ada satupun yang memiliki kamar mandi. Semua melakukan aktifitas mandi dan mencuci di sungai yang letaknya lumayan jauh dari rumah.

Inah, adalah sahabat kecilku yang dipilih emak untuk menemaniku. Dia sudah berkeluarga dan memilik dua orang anak. Suaminya pergi bekerja di kabupaten dan hanya pulang dua atau tiga bulan sekali, sangat cocok untuk membantuku. Selain kami bersahabat sejak kecil rumah kami yang bersebelahan adalah alasan emak memilih Inah sebagai rewang. Setiap pagi dan sore dia yang menemani dan menyiapkan kebutuhanku, sampai saatnya aku melahirkan, dia juga yang setia menemaniku. Seorang bayi kecil yang cantik telah lahir di tengah keluarga harmonisku. Dia sangat mirip dengan mas Tio, kulitnya putih hidungnya mancung. Mas Tio sangat menyayangi putri kecilku yang bernama Yanti.

***

Aku beruntung memiliki mas Tio, suami yang pengertian dan juga loyal. Selama masa pemulihan pasca melahirkan Mas Tio yang bekerja di kota menjadi lebih sering pulang menemuiku. Setiap datang menjenguk kami dia selalu membeli banyak makanan dan baju untukku juga Yanti. Tak lupa untuk Inah dan juga anaknya. Dan semenjak Yanti lahir mas Tio juga menambah jatah belanjaku. Aku merasa bahwa aku adalah istri paling beruntung.

Sampai suatu hari, duniaku terasa hancur seketika ketika mendapati Inah dan mas Tio sedang melakukan hubungan yang seharusnya hanya boleh dia lakukan bersamaku. Darahku berdesir, airmataku mengalir. Rasanya kepalaku ingin meledak. Bagaimana bisa, bagaimana bisa suami sempurnaku melakukan semua itu. Usia bayiku baru empat bulan. Masih sangat lucu-lucunya. Wujud nyata tanda cinta kami berdua.

Ku cakar-cakar tubuh mas Tio, ku jambak rambut perempuan tak tau diri itu.

“Dasar kau pagar makan tanaman, bagaimana kau setega itu kepadaku. Aku sahabatmu, bahkan sudah seperti saudara sendiri”.

“Sejak kecil kita selalu berbagi makanan dan mainan , tapi tidak harus berbagi suami”.

Mas Tio tak banyak berkata, menurutnya semua terjadi begitu saja. Aku habis melahirkan jadi belum bisa melayaninya. Dan hasratnya membuncah ketika melihat Inah yang sering berlalu lalang dirumah setelah selesai mandi di kali, dan mampir untuk membawakan air untukmu.

“kalian menjijikkan, kenap setega itu kepadaku”.

Keributan itu terdengar oleh beberapa tetangga, dan berita dengan mas Tio dan Inah menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru desa. Bahkan suami Inah yang bekerja di kabupaten pun akhirnya mendengar berita itu dari salah satu warga yang kebetulan juga akan berangkat ke kabupaten.

Mas kardi, suami Inah adalah lelaki yang kalem. Badanya cungkring dan terlihat lemah. Tak banyak bicara dia hanya meminta Inah meninggalkan rumah. Mas Kardi mentalaknya, dan memintanya angkat kaki dari rumah.
Putri sulung Inah memilih untuk ikut Mas kardi dan si bungsu terpaksa harus dia bawa.

Sehari setelah kejadian itu, Mas Tio mengajakku untuk pulang ke kota. Sebenarnya aku sudah tak sudi lagi melihat wajah kedua penghianat itu. Tapi mas Tio mengancam akan memisahkan aku dari Yanti kalau aku tak menurutinya. Tak ada pilihan lain, di kampung aku tak cukup kuat mendengar guncingan tetangga. Tapi pergi ke kota bersama Mas Tio dan mengajak serta Inah juga hal yang jauh lebih menyakitkan.

Sesampainya di kota, mas Tio langsung mencarikan rumah kontrakan terpisah untukku dan juga Inah. Sungguh seperti mimpi, mimpi yang buruk sekali harus berbagi suami dengan sahabat masa kecilku. Tapi aku harus kuat, setidaknya sampai yanti bisa kuajak untuk pergi dari kehidupan mereka.

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here