Pernikahan Dini #05

0
350
views

Hari ketiga Rana dirawat aku mengunjunginya di rumah sakit.membawakan dia makanan dan juga baju ganti. Kebetulan hari ini ibu mertuaku sedang dirumah, dia kelelahan selama beberapa hari ini begadang di rumah sakit menunggui Rana.

Saat mau masuk ke ruangan Rana, aku menghentikan langkah kakiku. Ku dengar ada suara ribut-ribut di dalam.

“Dari awal ibu sudah tidak setuju dengan hubungan kalian, gak ada yang bisa dibanggakan dari cewek seperti ini”.

“Udah muka pas pasan, masak gak bisa, ngerjain kerjaan rumah gak ada yang beres, hobi nya main aja keluyuran! ”

“Pokoknya ini terakhir ibu ngeluarin uang buat istri kamu, udah gak guna penyakitan lagi. ”

Aku tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar, bu nya Hakim tega berkata seperti itu kepada menantunya sendiri. Menantu yang tengah mengandung calon keturunannya. Tapi semua itu sama persis dengan apa yang pernah diucapkan ibu mertuaku kepada mbak Tiara, istri mas Aldi. Ibu juga pernah memarahi mbak Tiara habis habisan saat mbak Tiara masuk rumah sakit karna harus operasi usus buntu.

Ternyata benar karma itu dibayar kontan. Bagaimana perasaan Ibu kalo dia tau semua ini. Besan yang tadinya dibangga-banggakan, yang tadinya dibilang menganggap Rana seperti anak kandungnya sendiri, sekarang tega mengatai anaknya dalam keadaan sedang sakit seperti ini.

Aku sebenarnya ingin bercerita kepada mas Ahmad tentang apa yang barusaja aku dengar, tapi biarlah pasti nanti sampai dirumah Rana sendiri yang akan bercerita kepada Ibu. Pasti nantinya Ibu juga akan mengadu kepada mas Ahmad.

Tak lama aku dirumah sakit, aku harus segera pulang karna aku juga punya urusan sendiri di rumah, ya berdagang kecil kecilan supaya bisa mambantu perekonomian keluarga. Aku cuma bisa berdoa semoga Rana lekas sehat seperti semula, dan hubunganya dengan Ibu Hakim juga membaik sama seperti impianya dulu.

Seminggu setelahnya, Rana menelpon mas Ahmad dan memintanya untuk kerumah ibu. Ada yang ingin ibu bicarakan katanya. Lagi-lagi masalah Rana sepertinya tak ada habisnya, Rana mengadu semua perlakuan Ibu Hakim kepada mas Ahmad dan Ibu. Ibu cuma bisa menangis meratapi nasib anak gadisnya yang kini juga akan menjadi calon ibu.

“Aku mau pisah saja bu dengan Hakim, sambil menangis Rana terus meminta cerai dari Hakim. Aku gak mau punya mertua yang jahat dan cerewet. Apalagi mas Hakim juga belum punya kerjaan tetap”.

“Kenapa tak kau fikirkan itu beberapa bulan yang lalu adikku?, kenapa kau tak mendengarkan nasehat mbak mu? . Kalo sudah begini siapa yang repot”

“huu huu huu, pokoknya aku gak mau punya mertua yang jahat seperti ibunya Hakim mas.
Huu huu huu”..

” Begini saja,sementara kamu ikut mas.
Kamu tinggal dirumah mas, mas akan carikan kerjaan untuk Hakim”.

“Pernikahan itu bukan mainan,gak segampang itu kamu bilang besok mau menikah dan besok mau berpisah “.

Baru seminggu mereka tinggal dirumahku, Rana merajuk ingin pulang. Dia rindu dengan Ibunya, katanya. Sementara Hakim yang selama 1minggu ini membantu temanku mengantarkan barang. Terpaksa harus berhenti bekerja dan menuruti kemauan istrinya. Sebenarnya bekerja sebagai kurir pengantar makanan pemghasilanya lumayan juga. Apalagi dijaman sekarang, banyak sekali orang yang malas keluar rumah sekedar untuk membeli makanan atau cemilan. Pendapatanya bisa mencapai 80-150 ribu perhari. Hanya dipotong uang bensin sekitar 20 ribuan, tergantung dari jauh dekatnya kiriman.

Tinggal bersama Ibu lagi, dirumah kontrakan yang kecil lagi, kembali kerja serabutan lagi, mengandalkan kiriman dari mas Ahmad lagi. Begitulah kehidupan Rana dan Hakim sampai usia kehamilah Rana memasuki bulan ke 9.

Dia sudah mulai merasa sering mulas, mungkin itu kontraksi palsu. Beberapa baju bayi dan perlengkapanya sudah aku belikan. Ada beberapa baju bayi milik Dinda dulu, lumayan bisa dipakai sampai ada rejeki lagi untuk beli.

Ibu Hakim benar benar tak perduli dengan menantunya itu, dia hanya datang menemui Hakim dan membawakan beberapa helai baju. Bukan untuk calon cucunya, tapi untuk Hakim sendiri. Ada kaos, kemeja dan celana panjang yang dikirimkan Ibu hakim.

****

Akhirnya Rana melahirkan secara normal di sebuah klinik tak jauh dari kontrakan ibu. Anaknya perempuan sangat cantik, mata, hidung, dan bibirnya mirip seperti Hakim. Bayinya sehat tapi Rana masih lemah karna lumayan banyak darah yang keluar. Tadinya dia tak kuat mengejan dan hampir saja dirujuk ke rumah sakit untuk melakukan operasi. Mungkin karna pengaruh usia Rana yang masih muda. Tapi setelah dilakukan induksi oleh bidan, akhirnya Rana bisa melahirkan secara normal. Walopun dia masih harus di infus dan melakukan tranfusi darah setelahnya.

****

sudah seminggu Rana pulang dari klinik bersalin itu,keadaanya sudah membaik. Selama ini bayi mungil yang diberi nama Cinta karunia itu hanya menyusu dengan susu formula. ASI Rana belum juga keluar, saat Cinta menangis, Rana dan Hakim heboh sendiri.

“Mas cepat buatkan susu untuk Cinta, dia haus ini”

“iya seberapa air hangatnya, aku bingung Ran ”

“aduh… Pokoknya kamu cobain deh,kalo sudah manis dan gak panas berarti ya sudah”

“Mas, ini si Cinta nangis terus aku capek gendong dia dari tadi. Sepertinya dia mengompol. Tolong ambilkan popok ganti buat dia”.

Begitu lah gambaran suasana kamar Rana dan Hakim. Kalo sudah terlalu lelah menggendong Cinta yang terus menangis, Rana pun ikut menangis. Dia bingung harus bagaimana.
Sedangkan ibu sekarang bekerja dirumah tetangga sebagai tukang masak, jadi saat ibu bekerja mereka berdua sibuk mengurus Cinta.

Ibu Hakim hanya sesekali menjenguk cucunya itu, dia melihat wajah Cinta sangat cantik dan mirip Hakim. Dia menyuruh Hakim untuk tinggal bersama dirumahnya, tapi tentu saja ditolak oleh Rana.

Seminggu mungkin hanya dua kali Hakim pergi kerja, selebihnya dia hanya dirumah membantu Rana mengurus bayinya. Setiap bulan mas Ahmad selalu menyetorkan sebagian uang gajinya kepada Ibu. Tentu dengan jumlah yang sedikit bertambah karna untuk beli susu dan keperluan lain keponakan kecilnya.

Masih banyak kekonyolan Hakim dan Rana, tentu juga masih sering Ahmad harus direpotkan oleh mereka berdua. Ibarat kata pepatah jawa, “Anak Polah Bapa Kepradah”.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here