Pernikahan Dini #04

0
111
views

Setelah cukup lama menunggu Hakim datang dengan membawa mobil sewaan. Lumayan susah mereka membawa Rana masuk ke mobil. Karena posisi gang yang sempit dan tubuh Rana yang lumayan gemuk.

Selama di perjalanan ibu terus saja menangis histeris, dia terus menyalahkan Hakim atas apa yang menimpa putri kesayangan nya itu. Jarak rumah sakit dengan kontrakan lumayan jauh, kulihat celana Rana mulai basah karna darah yang keluar belum juga berhenti.

Setiba di rumah sakit Rana langsung dibawa ke UGD dan ditangani oleh seorang dokter dan dibantu dua orang suster. Hakim terlihat sangat cemas, dia mondar mandir sambil terus memegang ponselnya.Sepertinya dia ingin mengabarkan kepada ibunya tentang keadaan rana.

“Bagaimana keadaan anak saya dok, apa yang terjadi padanya ”

“Anak ibu baik baik saja, bisakah saya bicara dengan salah satu wakil dari kluarga pasien, suaminya mungkin atau kakaknya”

Hakim masih terlihat bingung, akhirnya mas Ahmad yang mewakili untuk berbicara dengan dokter.

“Begini pak, pasien saat ini sedang mengandung, usia kandunganya sudah memasuki minggu ke 7.Di usia seperti ini memang kondisi janin masih rentan. Perlu lebih berhati hati lagi dalam menjaganya, termasuk juga pola makan pasien”

“ya dok”

“untuk saat ini pendarahan pasien sudah berhenti,tapi lebih baik pasien beristirahat dulu sampai kondisinya benar benar pulih. Saya sudah memberikan vitamin dan obat penguat kandungan “.

“Baik,terima kasih Dok saya permisi dulu”

***

“Hakim tolong jelaskan kenapa sampai Rana seperti ini”

” Begini mas tadi aku pamit mau pergi bersama teman-teman untuk mancing seperti biasa, tapi Rana malah mengomel dan menghalangiku. Pas dia mau menutup pintu, eh dia malah tersandung dan perutnya menatap ke pinggiran meja ”

Lalu mas Ahmad menjelaskan tentang keadaan Rana, Ibu tak berkomentar sama sekali terlihat ibu lemas dan tak bersemangat setelah mendengar penjelasan dari mas Ahmad. Mungkin ibu lega setelah tau keadaan Rana baik-baik saja atau justru ibu lelah setelah dari tadi menangis histeris.

Setelah ibu mertua Rana datang, aku dan mas Ahmad berpamitan pulang, kasian Dinda anakku yang dari tadi ku gendong kesana kemari. Pasti dia capek dan ingin tidur dengan nyaman.

Keesokan hari nya aku dan mas Ahmad menjenguk Rana di rumah sakit, pagi itu cuma ada ibu yang berjaga. Hakim dan Ibunya pulang untuk mengambil uang untuk membayar semua tagihan rumah sakit Rana.
Mas Ahmad masih dibelakang, dia mampir sebentar ke minimarket di sebelah rumah sakit untuk membeli air mineral.

“Dasar bodoh ! Kan sudah ibu bilang jangan hamil dulu, jangan hamil dulu!. Kenapa kamu bisa hamil sih? Sudah ibu suruh kamu pakai pengaman kenapa kamu gak dengar kata ibu! ”

Kudengar ibu mertuaku terus saja memarahi Rana, memang Rana dan ibu mertuaku sudah berencana untuk menunda kehamilan sampai Hakim dan Rana menikah secara sah menurut hukum. Tapi namanya anak muda pasti terkadang lupa atau mungkin sengaja melupa.

Setelah tiga hari menginap di rumah sakit Rana pun diijinkan pulang oleh dokter. Dengan catatan bulan depan harus kembali lagi untuk USG dan memeriksa kondisi kehamilanya.

Bukan Rana namanya kalo dia tidak bandel, jadwal menemui dokter yang harusnya dilakukan bulan depan setelah keluar dari rumah sakit dia abaikan begitu saja. Dia masih saja asik pebergian bersama Hakim dan teman temannya. Memancing, futsal, nongkrong di kafe kafe dan banyak lagi. Semua kegiatan itu selalu saja dipajang di status whatssap Rana. Rana terus saja mengintili kemanapun suami nya itu pergi.

Untuk biaya hidup,masih sama Hakim hanya bekerja serabutan. Kali ini dia memilih ikut dengan bapaknya sebagai tukang service AC atau kulkas yang datang kerumah rumah pelanggan. Kadang dalam satu bulan hanya bekerja tiga atau empat kali saja. Ibu mertuaku yang lagi lagi harus bingung mencari uang untuk menutup biaya sehari sehari. Dan tujuan pertama pasti lah mas Ahmad anak terbaiknya.

Tanpa diminta pasti setiap bulan mas Ahmad menyisihkan sebagian uangnya untuk diberikan kepada ibu.

4 bulan setelah kejadian itu, Rana kembali harus dibawa ke dokter. Dia mengeluh perutnya kesakitan sampai beberapa kali dia pingsan. Rupanya ada infeksi pada lambung Rana, kebiasaan buruknya yang terlalu suka makanan pedas dan asam membuat lambungnya infeksi.

Tidak hanya itu, usia kehamilan yang harusnya sudah masuk di bulan ke-6.Ternyata janinnya tak berkembang dengan baik. Berat badan nya masih sangat kurang, dia juga tidak aktif bergerak di dalam perut ibunya..

Karna semua itu, Rana harus menginap lagi di rumah sakit. Kali ini sepertinya akan lebih lama dari sebelumnya. Tentu biaya yang dikeluarkan jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here