Pernikahan Dini #02

0
83
views

Hakim bersimpuh dikaki ibu mertuaku sambil menangis, ibu yg sedang mengupas bawang merah pun sangat kebingungan melihat sikap calon menantunya itu.
“Ada apa Kim? Kenapa kamu tiba tiba datang kesini malam-malam begini”
Aku dan tetangga yg sedang membantu ibu memasak pun bertanya-tanya apa yang membuat Hakim menemui ibu mertuaku dengan terisak.

“Bu… Maafkan Bapak dan Ibu Hakim, maaf kan mereka” terus saja Hakim meminta maaf kepada ibu mertuaku.

“Tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan antara ibu dan Umi Sutik, mereka membahas soal dukun dan pelet. Mereka mengira selama ini Rana telah mengguna gunauki dan membuat aku jatuh cinta padanya”

“Aku juga dengar kalo Ibuku dan Umi Sutik bilang kalo mereka sudah capek mencarikan dukun untukku” rupanya selama ini ibu tidak benar benar suka kepada Rana, dia bolak balik mencarikan dukun agar aku berpisan dengan Rana”

Aku tercengang mendengar semua pngakuan Hakim, kata ibu mertuaku Ibunya Hakim sangat baik, sudah menganggap Rana sebagai anaknya sendiri. Tapi apa yang ku dengar ini, ternyata semua itu hanya pura pura saja, kurasa Ibunya terpaksa menyetujui Hakim dan Rana menikah karena Hakim yang memaksa.

“Lantas apa yang akan kamu lakukan nak, apa pernikahan ini akan batal tanpa restu ibumu? ”

Ibu mertuaku pun terlihat menangis, dia mulai ragu dengan keputusanya kemarin.

“Tidak bu.. Pernikahan ini harus tetap berlanjut aku dan Rana saling mencintai. Aku janji akan bahagiakan Rana, aku akan bekerja keras bu”.

Setalah itu Hakim pun berpamitan untuk kembali kerumah ibunya, seolah tak pernah terjadi apa..

Belum 1 jam hakim beranjak, tiba-tiba Mas Aldi datang sambil terhuyung. Sepertinya mas Aldi habis minum minumam keras lagi. Dengan setengah sadar mas Aldi penggedor pintu rumah, dia terlihat begitu marah karna tau kalo besok adiknya hanya dinikahi siri..

“Apa yang ibu pikirkan ha? Kok bisa bisanya ibu menikahkan Rana dengan Hakim yang jelas jelas cuma seorang pekerja serabutan,sehari kerja tiga hari menganggur” .

“Mau dikasih makan apa Rana nanti, Cinta!

makan tu cinta!

Ibu gak tau kalo nikah siri itu merugikan pihak perempuan, apa yang akan terjadi kalo suatu hari nanti Hakim begitu saja meninggalkan Rana dalam keadaan hamil dan tanpa nafkah” mau menuntut kemana Ha!”

Tak ada jawaban dari seorangpun disana, mereka tau kalo mas Aldi sedang mabuk tidak ada gunanya menjawab.

Creeng….!
mas Aldi membanting botol yg ada di genggamanya. Pecahan beling itupun berhambur kelantai.
Ibu sudah tak bisa menahan suaranya lagi, dengan gemetar ibu berdiri dihadapan mas Aldi,
“Sudah kamu diam saja, semua yang akan terjadi nanti akan menjadi tanggung jawabku. Aku yang merestui pernikahan ini dan aku yang akan menanggung semua nya ”

“Baik kalo memang itu mau ibu, jangan pernah mengeluh apapun kepadaku dan Ahmad kalo nanti Rana disakiti”.

Mas Aldi pun pulang kerumahnya lagi masih dengan keadaan marah. Bapak mas Aldi sudah lama meninggal dan ibu menikah lagi dengan seorang duda. Itulah sebabnya ibu beranggapan hidup Rana adalah Hak nya..

Kebetulan mas Ahmad sedang tak ada dirumah ibu,dia sedang kerumah paman untuk memintanya menjadi saksi esok hari. Jadi dia tak tahu dengan kejadian ini.

**

Akhirnya acara akad nikah pun segera dimulai, para tetangga sudah siap dengan hidangan untuk menyambut keluarga Hakim.
Acara dijadwalkan akan dimulai pukul 9 pagi, Rana sudah selesai dirias, dia nampak cantik mengenakan gaun putih dan kerudung berhias bunga keemasan.

Sudah jam 10 tepat tapi keluarga Hakim belum juga datang.Aku mulai cemas, bagaimana tidak dari tadi pagi aku sudah repot mendadani anak ku,merias diriku juga agar terlihat sedikit lebih cerah setalah seharian kemarin berkutat didepan kompor saja.

Keringat sudah mulai mengucur karna cuaca sangat panas, pak penghulu pun sudah bolak balik melirik jam tangannya. Tanda kalo dia pun mulai bosan menunggu mempelai pria datang.

Akhirnya yang ditunggu datang juga, hanya Hakim,Bapak,Ibunya dan 3 orang paman nya yg datang. Tidak sesuai rencana yang katany akan datang sekitar 20-25 orang..

Acara segera dimulai, dan semua berjalan lancar. Setelah akad nikah selesai keluarga hakim pun berpamitan untuk kembali kerumahnya. Nampak biasa saja tak seperti yang diceritakan oleh ibu mmertuaku beberapa hari yang lalu.

**

Sebulan setalah acara pernikahan itu aku tak berkabar sekalipun dengan mereka, aku dan mas ahmad kembali kerumah yang jaraknya sekitar 90menit dari rumah ibu kalo ditempuh menggunakan sepeda motor.
Kami kembali kerutinitas semula berdagang dan bekerja mengumpulkan uang, karna terus terang saja tabungan mas Ahmad sudah habis untuk menutup kekurangan acara pernikahan Rana kemarin.

“Mas cepat kesini sekarang, ini sangat penting”

Pesan itu dikirim dari ponsel Rana, aku sudah mulai curiga pasti ada sesuatu dengan Rana dan Hakim.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here