Pernikahan Dini #01

0
370
views

“Saya terima nikah dan Kawinnya, Rana kumalasari binti Heru Mulyanto. Dengan mas kawin emas seberat satu gram, dibayar tunai “.

Para saksi mengesahkan pernikahan mereka setelah penuh perjuangan mengurus surat ke RT, RW dan kelurahan akhirnya pernikahan itu terlaksana sudah. Walopun akhirnya hanya menikah siri.

Sudah beberapa minggu ini Rana dan Hakim bolak-balik mendatangi kantor kelurahan dan kantor Urusan Agama untuk mendaftarkan pernikahan mereka agar sah dimata hukum. Tapi smua itu sudah pasti sangat mustahil karna Hakim baru berusia 18 tahun dan Rana sendiri baru berusia 16 tahun.. Kartu Tanda Penduduk saja belum punya bagaimana bisa dapat surat nikah??

Sebagai sodara sudah berulang kali aku menyarankan untuk menunda pernikahan itu, masih banyak waktu untuk berfikir ulang. Tapi mau bagaimana lagi “Kalo cinta sudah melekat gula jawa rasa coklat”.

***

“Mad adikmu mau menikah, pernikahannya diadakan bulan depan tepat hari sabtu awal bulan”. Kudengar ibu mertuaku berbincang dengan mas Ahmad.

“Apa ibu sudah yakin mau menikahkan Rana diusia smuda itu? Apa calon suaminya sudah bekerja dan sudah mapan, berapa usia suami Rana?”.

“Hakim itu lelaki yang baik, stiap hari datang kerumah membawakan oleh-oleh untuk ibu.
Dia anak tunggal bapaknya mewariskan rumah dan pekarangan yang luas.
Setelah menikah adikmu akan dibukakan warung”. Nampak sekali ibu mertuaku bgitu yakin dengan calon menantunya.

Setelah menyeduhkan kopi akupun ikut berbincang dengan mereka, bagaimana pun juga kalo terjadi apa-apa dengan Rana pasti aku ikut kena imbasnya..

“Bu, apa gak sebaiknya ditunda dulu sampai umur mereka cukup, setidaknya biar sampai mereka bisa mengurus surat nikah”. Aku memberanikan diri memberikan saran.

“Gak bisa, Ibu sudah bosan mendengar tetangga membicarakan adikmu itu, mereka itu gak mau pisah, bahkan Hakim kadang tak mau pergi dari rumah. Masih jam 6 pagi dia sudah datang kerumah”

“kalo begitu biarkan Rana sementara tinggal disini bu, biar mereka tidak terlalu sering bertemu sampai semua siap”

“Gak bisa, tanggalnya sudah ditentukan oleh keluarga Hakim. Kalo mau ya menikah siri kalo gak mau ya sudah mereka gak tanggung jawab kalo nanti ada apa apa dikemudian hari”

Ibu tetap pada pendirianya menikahkan Rana secara siri dengan Hakim, setelah bicara panjang lebar membicarakan yg baik baik tentang calon menantunya itu, Ibu pun berpamitan pulang. Sebelumnya tak lupa ibu ibu berpesan “Jangan lupa datang shari sebelumnya, siapa yg akan bantu ibu nanti, jangan lupa juga siapkan uang untuk bantu belanja”
Hmmmm sudah kuduga pasti itu ujungnya..

Sehari sebelum acara digelar aku sudah sampai disana, banyak persiapan yang belum selesai.

Acaranya cukup sederhana, ibu hanya mengundang 100 orang tamu saja, Sebelumnya sudah dibicarakan kalo semua biaya pernikahan akan ditanggung oleh kluarga Hakim, tapi saat hari H tiba, nyatanya hanya ada 3dus air mineral dan uang 1juta yg diberikan kepada ibu.

Ibu sendiri memang sama sekali tak punya tabungan untuk acara ini, sudah dapat dipastikan aku dan mas Ahmad yang harus menutup sisa kekuranganya. Masih ada 2 kakak lagi yang dimiliki mas Ahmad tapi semua cuek dan tak mau tau, sibuk dengan keluarga masing masing.

Malam sebelum akad nikah tiba-tiba Hakim datang kerumah sambil menangis.
Harusnya kan dia tidak boleh datang dulu kerumah sebelum acara besok, dia langsung masuk kerumah dan mencari ibu mertuaku…

“bu, ibu…

Baca selamjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here