Pengabdian Sang Istri Terakhir

0
127
views

Terakhir bukan berarti ada yang ke satu, dua, tiga dan seterusnya. Bisa jadi ia pertama sekaligus terakhir. Jadi jangan mengamuk ntar digigit nyamuk.

Ada perlakuan sangat berbeda dari istriku belakangan ini. Entah karena pengaruh perutnya tengah membusung atau memang lagi mempersembahkan pengabdian terbaik.

Kandungan istriku kata bidan yang memeriksanya sudah berusia 20 minggu. Refleks aku mengalikan jumlah minggu dalam sebulan. Jadi kalau sebulan ada empat minggu berarti butuh 5 purnama agar genap 20 minggu. Siiippp, usia kandungannya 5 bulan, batinku.

Ini adalah buah cinta kami yang kedua. Anak pertama lahir tahun 2015 dengan peristiwa yang begitu mencekam. Seumur-umur tidak pernah sudi aku mengeluarkan air mata berliter-liter, sesedih apapun. Apalagi di depan orang banyak. Bisa runtuh langit kelelakianku.

Tapi….

Tapi saat istriku berjuang melobi malaikat maut di tahun 2015 silam, rasa malu itu entah raib kemana. Aku meraung-raung menangisinya, satu box tisu kuhabiskan untuk menyeka air mata yang tak kunjung surut. Mengalir sampai jauh kayak pipa rucika. Hiks…hiks…hiks.

Bu bidan berkali-kali menginstruksikan agar istriku jangan sampai tertidur. Induksi persalinan menjadi alternatif yang ditempuh setelah memantau pembukaan serviksnya tak ada kemajuan. Kontraksi yang muncul setelah induksi membuat istriku merasa kesakitan luar biasa. Aku tidak bisa lagi membedakan air apa yang berkolaborasi di wajahnya, intinya keringat dan air mata bersatu padu menjadi tim yang solid.

Ahh, istri tercintaku benar-benar sudah setengah hidup, seluruh sisi ranjang dikitari keluarga dekat dan bu bidan. Butiran keringat sebesar biji jagung memenuhi dahinya. Ia benar-benar kehabisan tenaga untuk mengedan. Matanya tertutup rapat. Lantunan talqin sayup-sayup dibisikkan oleh ibuku dan mertua. Jantungku berdegup makin kencang, sungguh benar-benar tidak mau kehilangan.

Kuraih jemarinya, kugenggam penuh cinta. Kuletakkan dipipiku, kuciumi penuh kesungguhan. Tanganku bergetar hebat, kutransfer sisa-sisa energi kekuatan yang masih bisa kuberikan untuknya. Walau selimut ketakutan benar-benar merajai kala itu.

Tak berselang lama lahirlah anak kami, bukannya aku tersenyum malah tangisku makin heboh saja. Bahagia luar biasa melihat orang yang paling kucintai berhasil melewati masa-masa tersulitnya.Tangisan bayi mungil kami membuat aku ketularan menangis untuk kesekian kalinya.

Aku menjatuhkan air mata dalam keadaan sesak, rongga dada terasa penuh, paru-paruku seolah malfungsi, pokoknya aku tidak peduli apapun. Cukup melihat istriku membuka mata walau sangat lemah aku sudah sangat bersyukur ditambah kehadiran jagoan pertamaku maka makin lengkaplah selubung kebahagiaan yang dihadiahkan Tuhan.
***
Kembali ke kisah kehamilan kedua istriku.

Semenjak hamil, saat aku pulang kerja ia selalu menyiapkan air hangat di baskom. Setelah aku meletakkan sepatu di tempat biasa, ia akan menyambut dengan senyuman. Tanganku diraih dan dicium penuh takzim. Tiap salim akupun selalu balik mencium punggung tangannya.

Kuelus perut buncitnya penuh kasih. Selanjutnya ritual mencuci kakiku dengan air hangat ia lakukan di ruang tamu. Ia melakukannya dengan penuh ketelatenan dan ketulusan. Seluruh ruas jari kakiku disekanya. Telapak kakiku digosok, betisku dipijat lembut. Terakhir dilap dengan handuk. Tiap hari adegan ini dia lakukan tanpa jemu.

Awalnya aku menolak. Sungguh tak ingin melihat dia kerepotan. Pun, dia bukan dayang yang harus melayani rajanya. Dia istriku, dia ratuku.

***

“Mah, gak usah lagi repot-repot nyuciin kaki ayah saat pulang kerja, yah? Kamu banyakin istrahat aja.”

“Gpp, Yah, saya ikhlas, kok,” jawabnya.

“Tapi ayah kasihan, lebih tepatnya gak enak, merasa ngerepotin banget, apalagi kamu lagi hamil,” rayuku.

“Justru karena saya lagi hamil, Yah,” balasnya.

“Maksudnya?” keningku nyaris bertaut.

Istriku menunduk.

“Kamu kenapa, sayang?” kuusap rambut sebahunya yang tergerai.

“Lain kali aja kita lanjut, saya belum siap bercerita sekarang,” ucapnya sendu. Ada bening kristal menggantung di sudut matanya.

“Ya udah, aku menunggu sampai Mama mau cerita, jangan sedih, yah. Gak baik lho ibu hamil sedih, dede bayinya juga bisa ketularan sedih,” hiburku. Kuelus perutnya pelan.

***

Sudah dua purnama berlalu semenjak kami membahas ritual mencuci kakiku. Artinya sekarang kehamilannya sudah 7 bulan.

Saat pulang kerja, kembali kutanyakan perihal obrolan kami yang menggantung 2 bulan lalu. Sembari ia mencuci kakiku seperti biasa, pelan-pelan kuungkit lagi topik itu.

“Mah, sekarang kandunganmu udah 7 bulan, repot lho duduk atau jongkok begitu, cukup sampai hari ini, yah, besok-besok gak usah lagi. Ayah bisa bersih-bersih sendiri, kok.”

Yang ditemani ngobrol tetap khusyuk memberi pijatan di area betisku dan kaki.

“Mah,” kuusap pundaknya lembut.

Otakku berpikir keras, kira-kira apa pasal yang membuat istriku sedemikian telaten memperlakukanku seistimewa ini? Dan ahaaaaa??? Pikiran cerdasku tiba-tiba mampir.

“Ataaaaauuuu, jangan-jangan Mama khawatir banyak dosa sama aku, yah, sampe rela nyuciin kaki ayah tiap hari?” pancingku.

“Gak, sama sekali, gak,” jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Yakin, bukan karena alasan mencuci dosa?” godaku.

“Saya tau betul sifat ayah, saya rasakan betul cinta dan kasih sayang dari ayah. Tak ada dosa dari istrimu yang ayah izinkan bersemayam. Maafmu lebih terbentang luas dibanding kekhilafan yang mungkin atau sedang saya perbuat. Demikian pula perasaan dan perlakuan saya terhadap ayah. Tak ada celah dosa yang bisa tersemat. Dosa-dosa itu akan meluruh dengan sendirinya jauh sebelum kamu meminta maaf” jawab istriku panjang.

Aku terkesima, semua yang dikatakannya benar.

“Lalu, apa yang membuatmu melakukan semua ini?” tanyaku makin penasaran.

Tangannya meraih handuk lalu mengeringkan kakiku. Baskom dia angkat ke dapur. Tak lupa setelah balik ke ruang tamu ia membawa nampan berisi air putih.

Ia kemudian meletakkan air putih tersebut di meja lalu duduk di sisi kananku. Sepertinya ia sudah siap lahir batin untuk memecahkan teka teki yang selama ini bersarang di benakku.

Istriku menghela nafas panjang sebelum ia memulai berkisah.

“Ayah?”

“Hmmm”

“Perlu ayah tau bahwa jika seorang istri tengah hamil tentu akan memasuki fase persalinan nantinya. Konon, saat seorang perempuan melahirkan…. satu kakinya menjejak dunia, kaki satunya lagi sudah berada di kuburan saking dahsyatnya perjuangan bertarung nyawa.”

“Terus?” tanyaku. Jantung ini mulai berdegup lebih cepat dari biasanya. Ada aroma-aroma horor berhembus.

Hening sejenak, istriku menatap wajahku lekat. Matanya mulai berembun. Auto kikuk aku dibuatnya. Tangannya meraih tanganku lalu ia letakkan di pangkuannya. Pandangannya dialihkan ke tanganku. Ada beberapa tetes air mata yang jatuh menimpa punggung tanganku.

“Ayah, a…aku…, aaaku” lanjutnya terbata karena ada isak tangis menyertai.

“Tarik nafas dulu, Mah. Santai, kita suami istri, gak usah sungkan.” Kusodorkan air putih yang tadi dia bawa. Satu tegukan membuat ia agak tenang.

“Ayah, masih ingat saat saya melahirkan tahun 2015 lalu, kan? Sebenarnya waktu itu saya sudah merasa berada di alam lain. Tempat indah terpampang indah walau mataku terkatup rapat. Makanya enggan rasanya saya membuka mata. Ingin kuteruskan langkah kakiku memasuki tempat indah itu. Tapi genggaman tanganmu kala itu membuatku tersentak, kesadaranku kembali ke keadaan semula. Ada energi cinta yang luar biasa yang kurasakan mengalir.”

“Tolong, jangan ingatkan peristiwa itu, Mah, aku tak sanggup,” pintaku dengan suara serak.

“Saya sangat berharap persalinanku di kemudian hari lancar dan dimudahkan. Tapi saya juga harus mengantisipasi kemungkinan terburuk. Mau tidak mau saya harus siap menuju gerbang kematian. Pintu perpisahan akan terbuka lebar. Mungkin rasa penasaranmu tentang kelakuanku akhir-akhir ini mengundang sejuta tanya.

Saya melakukan ini semua agar kelak ketika kematian menjemputku, ayah mengenangku sebagai istri yang taat dan memuliakan suami. Pun, ketika ada perempuan lain yang ingin mengisi kehidupan di sisimu setelahku, kupastikan ia tak akan sampai memperlakukanmu seperti ini. Jadi cukuplah tanganku yang benar-benar tulus menyayangimu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Semoga dengan do’a-do’a tulus yang kulangitkan saat mencuci kedua kakimu menuntun langkah ayah pada kebaikan dan kebajikan hidup,” pungkasnya.

Kulihat bahu istriku berguncang, tangisnya tumpah. Kupeluk ia. Kudekap dan kurengkuh sepenuh hati. Akupun menangis. Tak lupa aku berlutut dan perutnya kuhujani ciuman sayang. Ada buah cinta kami yang menikmati kehidupan di sana.

Pengabdian istri terakhirku. Dialah satu-satunya ratu terakhir di singgasana hatiku. Tak akan ada wanita lain yang kuizinkan memasuki istana kami walau maut memisahkan sekalipun.

End

By: Nur Baya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here