Penantian di Ujung Senja #34

2
3108
views

Azkha dan Allea saling menatap lama dengan air mata berurai dikedua mata masing-masing.

“Aku merindukan mata ini, aku merindukan bibir ini yang selalu tersenyum untukku dan aku merindukan suaramu yang selalu memanggilku Chubby. Kau adalah Altarku, tapi kenapa aku tidak mengenali rupamu?” Jari Allea menyentuh mata Azkha, lalu turun menyentuh lembut bibir merah Azkha yang bergetar.

Tangan Allea mengusap rahang tegas milik Altar, “Aku sangat merindukanmu hikzz ….”

“Lepaskan dia Allea! dia bukan suamimu, dia orang lain yang ingin memanfaatkan keadaan, entah apa rencana laki-laki ini? Jangan engkau termakan rayuannya,” seru Pak Helmi, kukuh pada pendiriannya bahwa Azkha bukanlah Altar.

Tangan Pak Helmi menarik paksa lengan Allea agar menjauh dari Azkha. Pemuda itu menunduk dengan bahu berguncang menahan sebah di dadanya yang semakin terpuruk.

“Ayah, Allea percaya padanya, dia Bang Altar putra Ayah,” timpal Allea dengan suara memelas agar Ayah mertuanya mempercayai ucapannya.

“Tidak …! saya tidak mudah percaya begitu saja. Pergilah Azkha, dan kembalilah ke rumah ini jika kau sudah memiliki bukti bahwa kau adalah putraku. Yakinkan hati kami dengan bukti yang kau bawa.” Suara Pak Helmi sedikit melunak, namun masih terdengar tegas.

Hati Pak Helmi sedikit tersentuh dan mulai terbesit rasa percaya, namun fakta dari wajah Azkha membuat pria berhati keras itu tak ingin mudah mengambil kesimpulan begitu saja.

“Aku hanya ingin Ayah percaya padaku. Jika sebuah bukti yang dapat mengembalikan kepercayaan Ayah padaku, baiklah … aku akan kembali ke rumah ini dengan membawa bukti yang Ayah inginkan.”

Azkha menatap satu persatu orang yang disayanginya, lalu melangkah keluar dengan perasaan hancur lebur.

“Bang Altar …” seru Allea, hendak menyusul Altar namun tangannya dicekal Pak Helmi.

“Aku mencintaimu Allea, percayalah aku akan segera kembali.” Altar keluar rumah dengan langkah cepat.

Tiba-tiba langkahnya kembali terhenti, telinganya mendengar sebuah isakkan, sontak kepalanya menoleh ke arah sumber suara, “Aldo,” gumamnya.

Hati Azkha merasa semakin diremas melihat Adik tersayangnya berdiri sambil terisak bersandar pada tembok rumah sedang menatap kearahnya. Anak laki-laki itu menggunakan seragam sekolahnya.

Azkha berbalik lalu berlari keluar gerbang dan langsung menghilang dibalik dinding-dinding bangunan yang berdiri kokoh.

“Kakaaaak …!” Teriak Aldo.

****

“Ayah, Bunda merasa yakin kalau Azkha itu adalah Altar putra kita. Sudah cukup bagi bunda bukti dari Azkha bahwa dia mengenal nama kecil mereka, wajah boleh berubah tapi perasaan seorang Ibu pada anaknya tidak bisa berbohong dan perasaan cinta Allea pada Azkha begitu kuat.” Suara lemah Bu Hera yang sedang meyakinkan hati suaminya.

“Kalau memang Azkha adalah Altar, apa yang membuat wajahnya berubah, dan apa alasan dia menghilang dan menyiksa kita dalam penantian selama dua tahun, terutama Allea. Jika benar dia Altar, putra dan suami mana yang tega selama dua tahun menghilang tanpa kabar apapun, dan kini tiba-tiba datang dengan bentuk rupa orang lain.”

“Seharusnya Ayah dengarkan dulu penjelasan Azkha alasan apa yang membuat semua ini bisa terjadi,” timpal Bu Hera sedikit menyesali tindakan suaminya yang keras hati, selalu mengambil kesimpulannya sendiri.

Sesaat Pak Helmi terdiam mendengar penjelasan menohok istrinya. Buliran air mata meleleh di pipi tuanya. Rupanya perkataan istrinya berhasil menghantam ulu hatinya yang keras.

****

“Papah ku mohon tolonglah untuk datang ke Bandung. Bantulah Azkha melalui ujian terberat ini, Papahlah harapan satu-satunya,” pinta Azkha dengan suara yang begitu memelas. Memohon pada seseorang yang berada disebrang telpon.

Wajah Azkha tiba-tiba berubah sumriang, “Alhamdulillah, Azkha tunggu kedatangan Papah ke Bandung.”

Altar menutup telponnya, senyum terbit dikedua sudut bibirnya, “Allea tunggulah kita akan segera kembali bersama,” batinnya.

****

Dua hari lagi waktu Allea untuk memberi keputusan pada Rendi, menerima lamarannya atau menolaknya. Peristiwa demi peristiwa membuat Allea semakin dikukung oleh kebimbangan.
Kegelisahan selalu menderanya tanpa henti. Seperti saat ini Allea mengadukan keluh kesahnya yang tak mampu lagi dibendung sendiri.

Allea berbagi curahan kepada Umi Rita, wanita yang selalu jadi tumpuan terakhir di saat dirinya berada dipuncak keputus asaan. Allea lebih mencurahkan semua permasalahannya pada Umi Rita ketimbang Ibu mertuanya, karena Allea tidak ingin menambah beban Bu Hera dengan keluh kesahnya itu.

Sudah cukup penderitaan dan kegundahan yang dialami mertuanya, janganlah menambahkan dengan beban darinya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here