Penantian di Ujung Senja #33

0
338
views

Bunda Herawati mengapit lengan Azkha untuk masuk kedalam rumah, Pak Helmi mengikuti dari belakang. Mata Pak Helmi terus memperhatikan Azkha, tak sedikitpun berpaling dari pemuda itu. Ada perasaan aneh menyelinap di sanubari Pak Helmi.

“Ayo duduk dulu, Nak!” ujar Bu Hera mempersilahkan Azkha untuk duduk.

Bagai kerbau dicocok hidung, Azkha mengikuti setiap intruksi Bu Hera tanpa bersuara.

“Apa kabarmu, Nak? bagaimana kamu bisa ada disini?” tanya Bu Hera. Matanya memandang lekat ke arah Azkha yang masih mematung tanpa ekspresi, hanya keringat dinginnya yang terlihat mengalir disetiap pori-pori kulitnya.

“Ka-kabar saya Alhamdulillah baik, Bunda. Ma-maksud saya Bu.” jawab Azkha dengan suara terbata-bata. Matanya melirik bergantian ke arah Pak Helmi dan Bu Hera. Hatinya sangat berdebar.

“Alhamdulillah, syukurlah kalau kabarmu baik, panggil saja Bunda tidak masalah. Oh iya apa yang kau pegang itu?”
Bu Hera menatap kotak yang sedari tadi dipegang Azkha.

“Ini kotak milik Allea,” ujarnya sambil menyodorkan kotak itu ke tangan Bu Hera.

Bu Hera menerima Kotak yang disodorkan Azkha, lalu membukanya perlahan, “Ya Allah kotak ini berisi barang-barang Altar dan Allea sewaktu mereka kecil, bunda pernah melihatnya sekali dulu waktu Altar membawanya kemari.”

“Dari mana kau dapatkan kotak itu?” tanya Pak Helmi seolah sedang menyelidik tersangka.

“Di markas senja.”

“Dari mana kamu tahu tentang markas senja?” kembali Pak Helmi bertanya, nadanya penuh kecurigaan.

“Sa-saya.”

“Siapa kamu sebenarnya? tidak ada seorangpun yang tahu tentang markas senja selain Altar dan Allea, bagaimana kau mendapatkan kotak milik mereka?” pertanyaan Pak Helmi semakin memberondong. dengan suara keras.

Azkha terlihat semakin terpojok, keringatnya mengalir deras, tubuhnya sedikit gemetar berusaha mengendalikan perasaannya yang sewaktu-waktu siap meledak. “Maaf saya-”

“Katakan siapa kamu? apa hubunganmu dengan Allea?” bentak pPak Helmi, tubuhnya mulai menegang, matanya menatap tajam ke arah Azkha.

“Ayah tenanglah, jangan emosi. Beri kesempatan buat Azkha untuk menjelaskan jangan terlalu menekannya.” Bu Hera mencoba menenangkan suaminya yang mulai hilang kendali.

Allea yang berada di kamar berlari keluar mendengar suara keras milik Ayah mertuanya. Matanya membelalak begitu tahu Azkha sedang berada di rumah ini berhadapan dengan mertuanya. Allea tidak berani turun menghampiri, ia hanya berdiri mematung di lantai atas sambil memperhatikan orang-orang dibawahnya, entah apa yang sedang mereka bicarakan.

“Maafkan saya, saya tidak bermaksud menganggu keluarga ini apa lagi Allea, saya hanya ingin memberikan kotak milik Allea dan Altar.”

“Kamu belum menjawab pertanyaan saya, dari mana kamu tahu tentang markas senja, dan tahu kotak itu milik mereka?” suara tegas Pak Helmi kembali menghakimi.

“Saya tahu karena … sayalah pemilik kotak itu.”

“Apaaa …?”

Seru Pak Helmi, Bu Hera dan Allea bersamaan. Semua yang berada di ruang tamu menoleh serempak ke arah Allea yang berdiri di lantai atas.

“Jangan main-main kamu Azkha!” geram Pak Helmi, tubuhnya mulai bergetar hebat.

Bu Hera tertegun, matanya menatap Azkha tak berkedip, “Altar,” desisnya.

“Saya tidak main-main saya Altarexa Alfiansyah Pramesti suami dari Allea Fahriani Syahputri.”

Pak Helmi mencekram kerah baju yang dikenakan Azkha, matanya nyalang menghujam mata Azkha. “Jangan pernah mengaku sebagai anak saya, jika ingin mendapatkan Allea. Sungguh rendah perbuatanmu, apa tidak ada yang lebih pantas untuk mendapatkan seorang wanita dengan mengaku sebagai Altar, putra saya.”

Bu Hera mulai menangis sesunggukkan sambil mencoba menarik tangan Pak Helmi yang mencengkram baju Azkha. “Lepaskan dia Ayah, tolong kendalikan emosimu.”

“Ayah, Bunda, aku tidak berbohong bahwa aku benar Kapten Altar putra kalian, yang dua tahun hilang karena kecelakaan kapal feri Ambarawa.” Dengan susah payah Azkha mengungkapkan jati dirinya. Air matanya mengalir deras, ia sudah tidak memperdulikan jiwa kelelakiannya.

Hatinya semakin berontak, mulutnya sudah tidak bisa lagi dikendalikan untuk segera menjelaskan siapa dirinya. Azkha mengenyampingkan pandangan semua orang tentang kondisi wajah barunya. Yang penting baginya adalah, sudah mengungkapkan beban yang paling terberat dalam hidupnya.

Tubuh Pak Helmi bergetar hebat, cengkraman pada baju Azkha mulai terlepas perlahan. Bu Hera syok tubuhnya limbung terduduk lemas di atas sofa, sedang Allea mematung tanpa mampu bergerak sama sekali, sendi-sendi otot kakinya tak kuasa untuk melangkah, otaknya benar-benar blank.

“Bunda ….” Azkha menubruk Bu Hera duduk bersimpuh dengan kepala menangkup di paha Bu Hera. Dengan tangan gemetar Bu Hera hendak menyentuh kepala Altar.

“Hentikan Bunda! dia bukan anak kita, lihat wajahnya, dia bukan Altar tapi orang lain.” Seru Pak Helmi sambil menarik tubuh Azkha yang bersimpuh di kaki Bu Hera.

“Pergilah! jangan ganggu ketenangan keluarga kami dengan menyamar sebagai Altar. Saya tidak akan percaya begitu saja dengan sandiwara kamu yang ingin memanfaatkan keadaan. Keluar dari rumah saya! saya maafkan perbuatan kamu hari ini, asal jangan pernah lagi mengusik keluarga kami.” usir Pak Helmi tanpa memandang wajah Azkha.

Azkha semakin terluka, pria yang sangat dibanggakannya sama sekali tidak mempercayainya.

“Ayah, bagaimana caranya agar kalian percaya bahwa aku adalah Altar putra kalian, katakan ayah aku siap melakukan tes apapun untuk membuktikan bahwa aku adalah Altar.”

“Tidak perlu, saya tidak butuh semua itu, semua bisa direkayasa dengan mudah. Pergilah keluar dari rumah saya,” bentak pak Helmi semakin kencang, wajahnya merah padam menahan segala perasaannya yang bergejolak.

Azkha benar-benar putus asa, dengan sisa kekuatannya Azkha mulai menyeret kakinya keluar.

“Tunggu …!”

Semua mata memandang ke arah Allea yang berjalan di tangga. Allea menghampiri Azkha dengan tatapan yang tak terbaca.

Allea berdiri tepat dihadapan Azkha, tangannya terulur mengusap wajah Azkha. Jari Allea menyusuri lekukan wajah di depannya, “Katakan siapa nama kecilmu yang sering aku panggilkan? katakan kau memanggilku apa?”

“Kau selalu memanggilku pangeran ceking, dan kau adalah Chubbyku,” jawab Azkha tanpa ragu.

Air mata Allea mulai meleleh di pipinya. “Bang Altar,” lirihnya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here