Penantian di Ujung Senja #32

0
279
views

Allea Fahriani Syahputri mundur beberapa langkah ke belakang, menjahui tubuh yang sempat dipeluknya dengan erat. Air matanya mengalir deras.

Matanya tidak berkedip menatap wajah yang asing namun serasa begitu dekat di hati. Seakan ada kontak batin yang begitu kuat.
Ternyata kenyataan lebih buruk dari mimpinya, Allea benar-benar syok.

“Azkha …. Si-siapa kamu sebenarnya? apa yang kau lakukan di tempat ini? bagaimana kau bisa tahu tempat ini? katakan Azkha, katakan …!” Teriak Allea bertubi-tubi disela isak tangisnya.

Azkha hanya mampu membisu, Hatinya bagaikan ditusuk ribuan sembilu, tak ada yang lebih pedih selain Alleanya yang sama sekali tidak mengenalinya.

Azkha memandang Allea dengan tatapan terluka. “Allea, aku-” Azka merasa tak mampu meneruskan kalimatnya, dadanya serasa sesak.

“Berilah aku penjelasan! bagaimana orang asing sepertimu tahu keberadaan tempat ini?”

“Allea … a-aku, aku Altar…” desisnya.

Kerinduan yang tak mampu lagi dibendung membawa kekuatan bagi Azkha untuk mengungkapkan jati dirinya. Ia tidak mampu lagi menyembunyikan siapa dirinya.

Bagai disambar petir ditengah terik matahari, Allea terkejut bukan kepalang. Mata Allea membelalak, “Ti-tidak mungkin. Kumohon jangan bercanda membawa nama suamiku, kau tidak berhak menyebut namanya apa lagi mengaku dirinya.” Allea semakin mengeraskan tangisannya setengah histeris.

Azkha benar-benar terpukul, ingin rasanya pemuda itu mendekap erat wanita yang menangis histeris didepannya.

“Maafkan aku Allea. Aku sangat merindukanmu, aku suamimu, ini bukti cinta kita …” Azkha menyodorkan sebuah kotak yang dari tadi tersimpan di atas batu.

Allea bertambah syok, sungguh akal sehatnya tidak mampu lagi berfikir secara lokiga. Allea semakin memundurkan tubuhnya menjauh dari Altar yang telah berubah menjadi Azkha.

Tubuh Altar atau Azkha bergetar hebat, bahunya berguncang menahan tangis yang siap membuncah. Ia hanya manusia biasa, seorang lelaki bisa mengeluarkan air mata jika dihadapkan luka yang teramat pedih.

“Allea-”

Belum sempat Altar meneruskan kalimatnya, Allea sudah berlari kencang meninggalkanya.

“Allea tunggu …!!” Altar mengejar Allea dengan membawa kotak di tangannya.

Allea tidak menghiraukan panggilan Altar, ia terus berlari dengan air mata yang tak henti berderai.

Allea tiba di depan rumah yang selama ini di tempatinya, dibelakangnya Altar terus mengejar sambil menyerukan namanya.

“Hei tunggu …! siapa kamu?”

Sebuah seruan menghentikan tubuh Altar dari larinya yang hampir mendekati pintu rumah. Tubuh Altar langsung membeku dengan nafas terengah-engah.

“Siapa kamu berani sekali mengejar menantu saya?” Pak Helmi meraih lengan Altar dan membalikkan tubuhnya.

Keduanya saling mematung, mata keduanya saling menatap. Bahkan Pak Helmi terang-terangan menatap Altar atau Azkha dari ujung rambut hingga kaki.

“Saya tanya sekali lagi, siapa kamu? ada urusan apa kamu sama menantu saya?” tanya Pak Helmi dengan suara tegasnya.

“Saya-”

Cekleek, suara pintu dibuka menampakan wajah Bu Hera yang keheranan. “Ayah ada apa? Bunda sampai kaget mendengar suara Ayah yang keras.”

“Ini Bun, orang ini berani sekali mengejar menantu kita. Bahkan teriak-teriak memanggil nama Allea,” jawab Pak Helmi sambil menunjuk Altar.

“Nak Azkha …!” seru Bu Hera.

“Bunda mengenalnya?” tanya pak Helmi heran dengan suara sedikit melunak.

“Bunda pernah bertemu dengan Nak Azkha beberapa hari yang lalu, Yah. Dia pernah nolong Bunda. Ayo, Nak masuk dulu!” Bu Hera menarik tangan Azkha agar masuk ke rumahnya.

“Tapi Bun-”

“Tidak apa Yah, Bunda yakin Azkha pemuda yang baik, ayo Nak ikut bunda,” ujar Bu Hera memotong ucapan suaminya.

Pak Helmi akhirnya membiarkan istrinya membawa Altar atau Azkha masuk.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaPenantian di Ujung Senja #31
Berita berikutnyaSeindah Senja #15
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here