Penantian di Ujung Senja #31

0
255
views

Satu hari setelah pertemuannya dengan Azkha, hati Allea diselimuti kegelisahan. Perasaan Allea serasa dihimpit beban yang teramat berat.
Tatapan matanya, senyumnya bahkan suara milik Azkha, mampu membawa Allea kedalam dilema hati.

“Pertanda apakah ini Ya Allah? jangan biarkan pengkhianatan ini tumbuh di hatiku, kuatkan aku untuk setia dalam penantian ini, jangan kikiskan keyakinanku ya Allah,” batin Allea.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.30 siang, Allea baru selesai melaksanakan sholat Dzuhur. Dengan langkah gontai gadis itu berjalan keluar kamar.

Ting nong …

Bell rumah bergema membawa langkah Allea menyambangi pintu, begitu dibuka Allea sedikit terhenyak mendapati Rendi bersama kedua orang tuanya.

“Assalamu’alaikum, Allea,” sapa tante Rosa adik kandung dari Bu Herawati.

Rendi hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.

“Wa’alaikimsallam, mari masuk Om, Tante, Bang Rendi.” Allea membukakan pintu lebar-lebar, mempersilahkan tamunya untuk masuk.

“Terima kasih sayang, bundamu ada?” tanya tante Rosa sambil melangkah masuk, tangannya merangkul bahu Allea.

“Bunda mungkin sedang sholat Dzuhur, Tante.” jawab Allea. “Silahkan duduk! Allea ambilkan dulu minum.”

“Tidak usah repot-repot,” ujar Om Rahman dengan senyum ramahnya.

“Tidak apa-apa Om, Allea tinggal dulu ke belakang.”

****

“Eheemm.”

Allea menoleh ke arah suara deheman. “Bang Rendi,” sahutnya.

“Kau sedang buat apa?” tanya Rendi, memperhatikan Allea yang sedang membuat minuman.

“Kelihatannya sedang apa?” Allea balik bertanya.

Rendi terkekeh, basa basinya tak mempan. “Aku ingin bicara denganmu.”

“Bukankah kita sedang berbicara,” cetus Allea menyudahi kegiatannya membuat minuman dan siap melangkah dengan nampan di tangan.

Rendi menghadang jalan Allea. “Bi Atin, tolong antarkan minuman ini ke depan.”

“Baik Bang Rendi. Sini Neng Al biar Bibi bawa ke depan minumannya.”

Allea memandang Rendi tidak suka dengan caranya, Rendi hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum, lalu menarik tangan Allea setelah nampan berpindah ke tangan bi Atin.

“Hei … kau mau bawa aku kemana Bang Rendi?” seru Allea berusaha melepaskan tarikkan tangan Rendi yang hendak membawanya ke halaman belakang dan terus menerobos rimbunan kebun bunga.

Rendi membawa Allea ke ujung halaman belakang rumah keluarga Altar yang luas, di mana ujung halaman belakang ini terdapat pemandangan indah dengan panorama alam desa, terlihat rumah-rumah penduduk dibawahnya, karena posisi rumah Altar berada di tanah dataran atas.

Halaman rumah Altar yang luas dari belakang hingga depan, dibatasi benteng tembok beton setengah badan dan atasnya disambung pagar besi.

Rendi melepaskan cekalan tangannya pada lengan Allea begitu tiba di tempat yang dituju.

“Sebenarnya untuk apa Bang Rendi membawaku ke tempat ini?” tanya Allea dengan mimik wajah masih menggambarkan tidak suka dengan perlakuan Rendi.

“Maaf Allea, aku hanya ingin berdua denganmu, aku ingin bicara sesuatu.” Rendi menatap Allea dengan tatapan penuh arti.

Allea mulai salah tingkah dengan sikap Rendi. “A-apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku ingin mengutarakan perasaanku. Sudah lama aku memendam perasaan ini, aku menyukaimu Allea sejak dulu.”

Allea terlihat mulai tidak tenang, Allea sama sekali tidak berani menatap ke arah Rendi, tangannya meremas pagar besi di depannya.

“Bahkan perasaan ini sampai sekarangpun tidak berubah. Allea tanpa mengurangi rasa hormatku pada saudaraku Altar, izinkan aku meminangmu, izinkan aku menghalalkanmu, menggantikan posisinya untuk memberimu kebahagiaan.”

Plaakkk ….
Sebuah tamparan mendarat di pipi Rendi. Mata Allea memancarkan kemarahan, bibir gadis itu terlihat bergetar.

“Kau sungguh tega mengkhianati saudaramu sendiri, kau tega menyingkirkan saudaramu dari hatiku dan ingin menggantikannya denganmu, kau ingin membuatku bahagia di atas penderitaan dia, dimana hati nuranimu …?” bentak Allea dengan suara menggebu-gebu.

“Maafkan aku Allea, aku sama sekali bukan bermaksud seperti itu, ak-”

“Lalu apa …?” potong Allea, sambil mengusap air matanya dengan kasar.

“Apakah salah aku ingin melihatmu bahagia? apa salah aku ingin mengakhiri penantianmu yang sia-sia? aku benar-benar terluka melihatmu seperti ini Allea, berstatus seorang istri tanpa seorang suami di sisimu, ini sudah dua tahun berlalu, akan sampai kapan kau tersiksa seperti ini? aku merasakan rasa sakitmu Allea, hatimu, jiwamu semuanya. Jika benar Altar masih hidup apakah ada dia menghampirimu? memelukmu …?” seru Rendi tanpa jeda, membuat Allea luruh diatas rumput menangis tersedu.

“Maafkan aku Allea.” Rendi merengkuh tubuh Allea membawanya berdiri, lalu mendekapnya. Allea menumpahkan tangisnya yang semakin menjadi-jadi dipelukkan Rendi.

****

“Mbak Hera bagaimana? apakah mbak setuju kalau Allea kita persatukan dengan Rendi? asal mbak Hera tahu, Rosa benar-benar kasihan sama Allea, tidak tega terus-terusan menantikan yang tidak pasti.”

“Entahlah Dik, mbak tidak bisa memberi keputusan sepihak, semua keputusan ada di tangan Allea dan bang Helmi.”

“Baiklah Mbak, kalau seandainya bang Helmi setuju, Rahman akan segera melamar Allea untuk Rendi, Mbak kan tahu, Rendi sangat menyayangi Allea. Bukan saya ingin menggantikan posisi Altar oleh Rendi di hati Allea, tapi kita tidak bisa egois, Mbak. kita harus memikirkan nasib Allea, tidak mungkin selamanya seperti itu.”

“Iya Dik Rahman, mbak mengerti, meskipun sampai sekarang harapan kami tak luntur untuk menungu kepulangan putra kami, tapi setelah dua tahun ini sama sekali tak ada kabar, kami sadar kami terlalu terkukung dengan harapan semu.” Bu Hera mulai terisak.

“Maafkan Rosa dan mas Rahman, Mbak. Kami tidak bermaksud mengungkit peristiwa lama yang penuh duka, kami hanya ingin memberikan solusi untuk kita semua, khususnya untuk masa depan Allea.”

“Iya Dik, nanti saja Mbak bicarakan dengan bang Helmi setelah kepulangannya dari Jakarta, semoga bang Helmi dapat menerima dan memahami maksud kalian.”

****

Kejadian beberapa hari ini membuat Allea merasa frustasi. Azkha yang mulai mengusik ketenangannya, begitu pula Rendi yang mulai gencar dengan keinginannya menggantikan Altar menjadi suaminya.

Allea memiliki waktu dua minggu untuk menyiapkan keputusan antara menerima lamaran Rendi atau menolaknya dan tetap pada penantiannya. Semuanya Allea pasrahkan pada sang pemilik kehidupan, tanpa berhenti berdo’a dan ikhtiar.

****

Sore yang begitu cerah, mengantarkan langkah-langkah kecil Allea menyusuri jalan setapak yang sudah beribu-ribu kali dilewatinya untuk menuju markas senja.

Langkah Allea yang penuh irama syahdu mendadak terhenti, sosok tubuh tegap, tinggi dan gagah berdiri menjulang beberapa meter di depannya, dengan posisi membelakangi.

Jantung Allea berdegup sangat kencang, hatinya bergemuruh sangat hebat. Tubuh tegap di depannya membangunkan rasa rindu yang bertahun -tahun tertidur, bibirnya ingin berteriak kencang apa daya suaranya terhambat di tenggorokkan, yang ada hanya suara mirip lenguhan tak jelas “Altar.”

Langkah Allea semakin dipercepat, bahkan kini mulai berlari.

Brruuugg ….

Allea memeluk sosok yang membelakanginya, tubuh yang teramat dirindukannya dari waktu kewaktu.
“Bang Altar, aku sangat merindukanmu, aku merindukanmu, hikzz …” lirih Allea begitu memilukan.

“Aku juga sangat merindukanmu,” balasnya. Tubuhnya hendak berbalik menghadap Allea.

Allea semakin mengeratkan pelukkannya begitu mendengar suara yang telah lama tidak didengarnya. “Jangan berbalik! biarkan aku memelukmu lebih lama seperti ini, jika kau membalikkan tubuhmu, aku takut akan terbangun dari mimpiku ini.”

Namun tubuh tinggi tegap itu tak menghiraukan permintaan Allea, pria itu membalikkan tubuhnya dan merubah posisi pelukkan Allea di punggung menjadi di dada.

Allea memejamkan mata, seolah takut bilamana membuka matanya sosok didepannya akan hilang.

“Bukalah matamu, ini bukan mimpi.”

Perlahan Allea membuka matanya.

Setelah matanya membuka sempurna dan menatap wajah didepannya Allea terbelalak dengan mulut menganga, tubuhnya gemetar, perlahan menjauh, kepalanya menggeleng berkali-kali.

“kau …?”

Jreng, jrreeenng…

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaSeindah Senja #14
Berita berikutnyaPenantian di Ujung Senja #32
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here