Penantian di Ujung Senja #30

0
341
views

“Pak Gus, tunggu di sini sebentar ya! saya haus mau beli minuman dulu,” ujar Bu Hera sambil keluar dari mobilnya.

“Monggo Bu, silahkan,” balas Pak Gus supir pribadi keluarga Bu Herawati.

Bu Hera melenggang ke arah mini market yang berada tidak jauh dari tempat parkir mobilnya.

Brruuugg…

Tiba-tiba seorang anak seumuran Aldo berlari dan menubruk tubuhnya, sehingga tas kecil yang digenggamnya terlepas, isinya berhamburan ke tanah.

“Astaghfirullah’aladzim, ini anak-anakkan …” seru Bu Hera sambil berjongkok memunguti tas kecil serta isinya yang berserakkan.

“Ibu tidak apa-apa?” seorang pemuda berjongkok di depan Bu Hera, ikut membantu memunguti isi tas Bu Hera.

Sejenak Bu Hera mematung. Lalu, “iya, Nak. Ibu tidak apa-apa,” jawabnya dengan mata memandang sekilas ke arah si Pemuda.

Setelah semua isi tasnya dimasuki Bu Hera melempar senyum ramah ke arah pemuda yang membantunya. Pemuda itu membalas senyuman Bu Hera dengan tatapan mata sendu.

Bu Hera terpaku mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Bu Hera seakan terhipnotis oleh senyum dan manik mata pemuda itu, entah kenapa hati Bu Hera bergetar, “Altar,” gumamnya dalam hati.

“Bu …” sapa si pemuda, dengan mimik wajah sulit dibaca.

Pemuda itu mengernyitkan dahi, merasa bingung ditatap sedemikan rupa oleh Bu Hera.

“Si-siapa namamu, Nak?” tanya Bu Hera, masih menatap ke arah si pemuda.

“Nama saya Azkha, Bu. Ibu tidak apa-apa?” jawab Azkha.

“Azkha, oh maaf, kamu mengingatkan saya pada seseorang.”

“Siapa Bu? maaf kalau saya lancang bertanya.”

“Tidak apa, Nak! kamu mengingatkan saya pada anak saya. Dia-”

“Bunda … sedang apa di situ?” seru Allea menghampiri Bu Hera dengan langkah cepat.

“Allea. Bunda haus bermaksud mau beli minuman, tadi tas Bunda terjatuh, lalu ada Azkha yang bantu Bunda,” papar Bu Hera menjelaskan.

“Azkha …” gumam Allea. Matanya melirik ke arah pemuda yang berdiri tidak jauh darinya.

Deg, kembali jantung Allea berdegup kencang, pemuda itu tersenyum ke arahnya, senyum yang membuat hati Allea bergemuruh.
Allea buru-buru memalingkan wajahnya, “Bunda tidak usah beli minuman, ini Allea sudah belikan sengaja buat Bunda.” Allea menyodorkan kantung plastik berlabel Alfamart.

“Kebetulan sekali, Bunda haus banget, terima kasih, sayang,” ucap Bu Hera, meraih kantung plastik yang disodorkan Allea.

“Ayo Bun kita pulang, takut Ayah sudah menunggu kita,” ajak Allea mengapit lengan Bu Hera untuk menghampiri mobil mereka.

“Nak Azkha, kami pamit dulu ya, terima kasih atas bantuanmu.”

“Iya silahkan Bu. Ibu tidak usah berlebihan itu hanya bantuan kecil,” balas Azkha, matanya melirik sekejap ke arah Allea yang menunduk.

Bu Hera terkekeh, “ya sudah kami permisi Assalamua’alaikum.”

“Wa’alaikumsallam.”

****

Azkha menatap nyalang langit-langit kamar apartemennya. Sudah empat hari Azkha meninggalkan kota Blitar Jawa timur dan kini berada di kota kembang Bandung.
Azkha benar-benar mengikuti kata hatinya untuk memulihkan jati diri yang sesungguhnya.

Selama empat hari pula Azkha menyusuri tempat-tempat yang bisa mengembalikan memorynya yang sempat hilang.

Fikiran Azkha atau Altar, mengembara ke masa 2 tahun silam. Dimana peristiwa kecelakaan kapal Feri Ambarawa yang bermuatan penumpang 20 orang termasuk 1 nahkoda dan 2 kelasi, mengalami kebocoran tanki bahan bakar, dan mengakibatkan sebagian kapal milik militer itu terbakar.

Posisi kapal Ambarawa yang berada ditengah laut menyulitkan para penumpang kapal untuk menyelamatkan diri, ditambah kepanikan yang luar biasa. kejadian yang begitu cepat disusul dengan ledakkan yang tak diduga melemparkan beberapa orang penumpang keluar area kapal.

Sebelum terjadi ledakkan Altar sempat meraih pelampung, dan berusaha menyelamatkan teman-temannya, namun nasib berkata lain, belum sempat menolong, dirinya sudah terlempar akibat ledakan pertama, dadanya membentur keras besi pembatas dan wajahnya terkena serpihan kaca dan asap panas, wajahnya serasa terbakar.

Altar berusaha bangkit dan kembali meraih sebuah pelampung yang masih utuh.

Altar melompat menyelamatkan diri, dan akhirnya ledakan keduapun terjadi membakar seluruh isi kapal. Dengan waktu yang begitu singkat kapal karam beserta isinya meninggalkan asap hitam pekat membubung tinggi.

Asap yang membubung tinggi serta suara ledakkan dahsyat ditengah laut, mengundang heran dan tanda tanya besar sebuah kapal pesiar pribadi yang berisikan 4 orang dewasa, 1 wanita dan 3 pria.

Kapal pesiar yang tidak cukup besar itu mendekati lokasi kejadian disaat kapal Ambarawa telah karam, menyisakan seonggok tubuh terapung menggunakan pelampung.

Naluri kuat salah seorang penumpang kapal pesiar, mengatakan manusia yang terapung di tengah lautan itu masih hidup, dan meminta bantuan untuk mengangkat tubuh yang terlihat sangat mengenaskan.

Altar dibawa oleh penumpang kapal pesiar itu, salah satunya seorang Dokter bedah. Altar yang masih bernafas langsung ditangani oleh dokter tersebut. Altar diberikan pertolongan pertama, berhubung didalam kapal pesiar itu terdapat seorang pasien yang tak lain anak dokter itu sendiri, jadi sang dokter membawa sebagian alat-alat kedokterannya.

Waktu bergulir tanpa terasa, Altar dirawat dalam keadaan koma, disebuah rumah sakit Blitar jawa timur. Rumah sakit milik dokter Anshori yang menolongnya sekaligus pemilik kapal pesiar tersebut.

Altar menjalani perawatan karena kerusakkan hati akibat benturan keras dan harus menjalani transplantasi hati. Dokter Anshori belum mendapatkan pendonor hati untuk Altar.

Muhamad Azkha Awalaizal putra dokter Anshori, tunangan dari gadis bernama Marisa, menderita penyakit kanker darah putih atau lekemia stadium akhir. Di akhir hidupnya Azkha ingin mempersembahan satu hari yang terbaik untuk Marisa gadis yang dicintainya sekaligus tunangannya.

Azkha di penghujung pesakitannya membawa Marisa mengarui lautan dengan kapal pesiar milik keluarga. Sebuah impian dua insan yang ingin mengukir hari dengan keindahan sebelum nyawa terenggut dari sukma.

Takdir tuhan siapa yang tahu, Azkha disisa hembusan nafas terakhirnya, merelakan semua titipan dari tuhan berupa hati dan rupa wajahnya dimiliki orang lain yakni Altar.

Dengan berat hati sang Ayah sekaligus sang dokter memenuhi keinginan terakhir putra tercintanya.
Tak ada yang tahu siapa Altar? siapa dan dimana keluarganya, Azkha dan dokter Anshori hanya mengikuti naluri bahwa Altar bukan pemuda sembarangan, dilihat dari sisa pakaian Altar berrupa kain loreng yang compang camping.

Peristiwa besarpun tak bisa dielakkan. Dokter Anshori menghidupkan kembali sosok Azkha pada diri Altar. Semakin hari kondisi Altar semakin kritis, dua hari setelah kematian Azkha Altar menjalani transplantasi hati dari hati milik Azkha, dan nyawapun terselamatkan. Altar bangun dari komanya, namun efek operasi, memory Altar menghilang, dan dinyatakan amnesia sementara.

Kondisi Altar mulai membaik, namun tidak dengan wajahnya. Wajah Altar yang rusak parah, mengharuskan dokter Anshori kembali menjalankan operasi.
Namun Altar sempat menolak karena kondisi jiwanya belum stabil,. Altar masih trauma dengan tidak mengenali dirinya sendiri.

Kasih sayang dan bujukkan dokter Anshori yang tanpa menyerah, serta perhatian dokter Anshori sebagaimana seperti ke putranya sendiri meluluhkan hati Altar. Altar sendiri menyadari kondisi wajahnya yang buruk akhirnya merelakan dioperasi.

Seiring waktu yang terus bergulir, kejadian-kejadian dan kejutan-kejutan beruntun di alami Altar selama dua tahun ini, sesuai dengan kondisi kehidupan Azkha dulu dan sebuah janji yang yang Azkha berikan untuknya lewat selembar kertas yang ditulis diakhir hayatnya.

Altar kini berjuang untuk mengembalikan hidupnya, dalam bentuk wujud Azkha.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here