Penantian di Ujung Senja #29

0
240
views

Tok … tok … tok
Suara pintu diketuk menarik perhatian Azkha dari aktifitasnya berkemas barang. “Masuk …!”

Azkha menoleh ke arah pintu yang sudah dibuka, sejenak menatap si pengetuk yang melangkah masuk dengan kesan berwibawa, gurat lelah di wajah tuanya menandakan orang tersebut telah mengecap asam garamnya kehidupan.

“Kau akan pergi juga?” tanyanya, pantatnya ia hempaskan di atas tempat tidur Azkha.

“Iya Pah,” jawab Azkha singkat, tanpa menghentikan kesibukannya memasukan pakaian ke dalam tas ransel.

“Kau sudah memikirkan konsekuwensi yang akan kau hadapi?” sambungnya dengan suara berat.

“In syaa Allah aku sudah siap,” jawab Azkha yakin, meski hatinya berbanding terbalik dengan keyakinannya, ia hanya mengikuti kata hati yang terus merongrongnya.

Pria yang dipanggil Papah menarik nafas berat, akhirnya ia tidak bisa lagi mencegah putranya yang berkeinginan besar untuk pergi ke Bandung. Kesadaran bertahap yang di alami Azkha membawa kesedihan besar baginya, ia harus siap jika harus kembali kehilangan miliknya.

“Bagaimana dengan Marisa? kau tunangannya, kau tidak bisa meninggalkan gadis itu begitu saja?”

“Jika memang Marisa adalah jodohku, sejauh apa pun jarak Allah akan menyatukan kami. Papah tidak usah khawatir aku pun akan kembali kesini, aku hanya ingin meyakinkan jati diriku saja.”

“Maafkan Papah sudah membuatmu seperti ini, Nak.” ucapnya sendu, baginya ucapan Azkha hanya pemanis, setelah menemukan jati dirinya resiko kehilangan harus ia terima dengan lapang dada.

“Tidak Pah, justru Papah banyak berjasa dalam hidupku. Hanya saja kenapa aku harus menjadi orang lain, orang yang kalian inginkan, tanpa memikirkan kehidupanku yang sebenarnya. Papah tahu? disisi hatiku ada dia yang menungguku selama ini, semakin hari semakin kuat perasaan ini untuknya, aku tidak bisa lebih lama lagi mendiamkannya, aku mencintai dia, Pah.”

Sang Papah mengangguk-anggukkan kepalanya, ia sangat mengerti yang dimaksud Azkha, “Baiklah Nak, Papah tidak bisa lagi mencegahmu, Papah hanya bisa berdo’a semoga kamu mendapatkan semua yang kau inginkan. Papah izinkan kau mencari jati dirimu, anggap saja ini sebagai penebus kesalahan Papah yang egois.”

Pria tua berkharismatik itu pun mengakhiri perbincangannya dengan Azkha. Sebagai seorang dokter ahli bedah ia faham betul bahwa memory Azkha yang sempat hilang telah kembali sepenuhnya, dan membawa putranya itu ke dalam dilema kehidupan baru.

****

“Mas … Azkha mohon maafkan ketidak berdayaanku, maafkan kelancanganku yang telah mengingkari janjiku pada Mas, aku yakin kau pasti mengerti jalan yang ku pilih ini adalah benar….” Azkha menjedakan kalimatnya.

“Aku mohon izinm, Mas. Aku akan kembali pada kehidupan yang sesungguhnya, aku tidak sanggup lagi memendam rasa rindu yang terus menggerogoti hatiku aku mencintai Allea bukan Marisamu, aku pamit Mas, sekali lagi maafkan aku.”

Azkha mengusap batu nisan, setelah merapalkan kembali do’a untuk orang yang berbaring di dalam tanah. Azkha beranjak meninggalkan tanah pemakaman membawa sebentuk asa yang menantinya.

****

“Bunda sudah selesai mencari kebutuhannya?” tanya Allea memasukkan kantung belanjaan yang terakhir ke dalam bagasi mobil.

“Sepertinya sudah sayang, kamu sendiri apa sudah ketemu buku yang ingin kamu beli?” Bu Hera balik bertanya.

“Belum Bun.”

“Lho, cari dulu dong, mumpung kita masih disini, ayo Bunda antar mencarinya!”

“Tidak usah Bun, Allea cari sendiri aja, Bunda pasti capek,” tolak Allea.

“Tidak apa, Bunda tidak lelah kok.”

“Jangan … Bunda istirahat dulu di dalam mobil, biar Allea cari sendiri ya? ayo Bunda masuk ke mobil dan istirahat.” Allea mendorong lembut tubuh mertuanya agar masuk ke dalam mobil.

“Ya sudah, Bunda tunggu disini?”

****

Allea menyusuri setiap rak buku, mencari buku-buku tentang hadist dan kumpulan buku do’a untuk Aldo. Setelah mendapatkan beberapa buku yang diperlukan Allea beralih ke arah rak buku bagian novel.

Seseorang menyodorkan sebuah buku novel ke arahnya. Allea terhenyak melirik ke arah orang yang menyodorkan buku itu. Sesaat Allea tertegun menatap pria yang tidak dikenalnya tersenyum ke arahnya.

Jantung Allea berdegup kencang, matanya tak lepas melihat ke arah senyuman di bibir pemuda itu. Senyum itu mengingatkan Allea pada seseorang yang tak pernah pergi dari hatinya.

“Buku ini bagus untuk anda.” katanya.

Allea semakin mematung, “Ya Allah suara itu …!” seru hati Allea.

Tanpa sadar tangan Allea meraih buku yang disodorkan si pemuda, tanpa mengucapkan apapun lagi pemuda itu berlalu pergi dari hadapannya.

Allea menatap buku novel di tangannya, “PENANTIAN TIADA BATAS DIUJUNG SENJA” judul yang tertera di covernya.
Tanpa direncana air mata Allea merembes di pipinya.

“Altar,” lirihnya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here