Penantian di Ujung Senja #28

0
991
views

Kehampaan, kebimbangan, kerapuhan itulah yang melingkup pikiran Azkha saat ini, hati serasa dicabik-cabik sembilu, pandangan mata layu dan sendu ia layangkan ke atas langit. Tatapan jauh menerawang, menegaskan sebuah kerinduan yang tak terbatas pada kekasih hati yang sempat dihalalkan sebelum tragedi merenggut asanya.

Tanpa sadar buliran air mata menjebol ketegarannya, membawanya dalam kumbangan kerinduan dan kedukaan, delapan belas bukan waktu yang sebentar baginya bergelut dengan memory yang menguras rasa sakit pada kenyataan yang dihadapinya.
Kesadaran nyata baru menyapanya beberapa bulan yang lalu, tanpa ada yang menyadari kesadaran itu telah kembali secara perlahan namun pasti.

“Sayang … bagaimana bisa aku menghadapimu dengan keadaanku yang seperti ini? bagaimana bisa aku menemui cintaku, sedang nyatanya kini diriku bukan yang kau lihat selama ini, aku sangat merindukanmu Allea istriku.”

****

“Rupanya kau ada di sini Allea?”

“Bang Rendi … ada apa kau mencariku?” Allea sedikit terhenyak mendapati Rendi telah duduk di sampingnya.

“Sampai kapan kau akan seperti ini? apa kau tidak lelah Allea? mengharapkan sesuatu yang tidak pasti itu sangat sakit dan melelahkan.” Rendi menatap intens gadis di sampingnya.

Allea bergeming, matanya tetap fokus menatap ke arah semburat jingga, tangannya mendekap sebuah kotak, hanya dengan cara menatap jingga Allea bisa menyalurkan kerinduan pada sosok yang kini tinggal menyisakan bayangannya yang semu.

“Aku tidak akan pernah lelah dengan penantian ini, selama hatiku masih merasakan yakin bahwa dia akan kembali.”

“Ayolah Allea ini sudah hampir dua tahun berlalu. Kita tidak bisa menyangkal Qadha dan Qodar yang Allah gariskan, terimalah ke adaan bahwa Altar telah tia-”

“Cukup … Bang Rendi, bukan aku menyangkal ketentuan yang Allah gariskan, aku hanya mengikuti keyakinan kuat dalam hatiku bahwa suamiku masih hidup, bisakah Bang Rendi memberiku bukti kalau memang Bang Altar sudah tiada? mana jasadnya? setidaknya bisa mengembalikan barang-barang peninggalan dirinya, semua itu tidak ada bukan …!”

Allea menatap tajam ke arah Rendi, Allea terkadang marah dan dongkol jika Rendi bersikeras menghentikan penantiannya. Tanpa disuruhpun Allea akan berhenti berharap jika memang telah ada kabar atau apapun menyangkut Altar baik dalam keadaan hidup maupun mati.

“Maafkan aku Allea, tolong jangan salah faham, aku hanya tidak tega melihat kau terus menerus seperti ini, tolonglah mengerti maksudku,” ujar Rendi dengan nada memohon.

Hati Allea melunak, “maafkan Allea, Bang Rendi, Allea tidak bermaksud marah, Allea hanya ingin Bang Rendi juga memahami perasaanku yang tak mudah melalui hidup seperti ini.”

“Iya Allea, andai aku bisa menggantikan posisi saudaraku di hatimu, aku janji akan membuatmu keluar dari semua kesedihanmu,” ucap Rendi tulus.

Allea tersenyum, “maafkan Allea Bang Rendi, Allea belum bisa menerima uluran kasih sayangmu. Aku tahu niat Bang Rendi tulus, hanya saja Allea belum bisa memulai yang baru, jika hati belum ikhlas melepaskan Bang Altar.”

“Baiklah, aku akan menunggu sampai kau benar-benar ikhlas melepaskan semuanya.”

Allea mendesah pelan, sejujurnya ia tidak ingin memberi harapan pada Rendi, pemuda itu begitu gencar ingin meraih hatinya, ingin melabuhkan cinta padanya.

****

“Allea kau darimana sayang?” Bunda Hera menyapa Allea yang baru kembali dari markas senja, Rendi mengikuti dari belakang.

“Allea dari markas senja, Bunda,” jawab Allea.

“Sini sayang bunda pengen bicara sama kamu!” Bu Hera menepuk sofa untuk Allea duduk.

Allea menuruti keinginanan mertuanya, “ada apa, Bun?”

“Allea, kamu masih berkunjung kesana, Nak? sampai kapan kau akan menantikan Altar di sana?” tanya Bu Hera lemah lembut.

“Iya bunda, meskipun Allea tidak menginginkan takdir seperti ini, namun Allea berusaha kuat dan akan tetap mengikuti keyakinan Allea yang besar bahwa Bang Altar akan kembali.”

Bu Hera tersenyum haru, “tabahkan hatimu, Nak. Sebagai muslim yang baik, kita tidak berhak mengingkari baik buruknya yang Allah tentukan. Bunda percaya kau akan mendapatkan kembali kebahagiaanmu.”
Bu Hera mengusap lembut kepala Allea yang tertutup jilbab penuh kasih sayang.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here