Penantian di Ujung Senja #27

0
767
views

Allea Fahriani Syahputri memeluk Umi Rita, menumpahkan kembali tangis pedihnya yang masih enggan untuk berhenti. Dengan penuh kasih sayang Umi Rita mengusap punggung putri asuhnya, dan membiarkan gadis itu menumpahkan semua tangisnya. Sesekali Umi Rita menyeka air matanya yang ikut menganak sungai di pipinya, wanita paruh baya yang masih terlihat muda ini seakan ikut rapuh melihat kesedihan yang dialami Allea.
Setelah merasa sudah terkuras semua, Allea melepaskan pelukkannya.

“Bersabarlah, Nak. Bertawaqal, pasrahkan semuanya pada Allah, karena dengan kehendak Allah semua ini terjadi, untuk menguji sampai dimana batas iman dan kesabaran kita, jadi jangan berhenti, teruslah bersabar sampai Allah memberi kebahagiaan yang mutlak padamu, Nak.”

Allea mengangguk dengan seksama mendengarkan wejangan Uminya.

“Umi, bolehkah Allea berharap besar bahwa bang Altar masih hidup dan akan kembali pulang? karena Allea merasa yakin bahwa bang Altar masih hidup.”

“Sayang, siapapun boleh menggantungkan asanya setinggi langit, tapi ingat, bukan berarti kita harus menutup mata dan menolak ketentuan yang sudah digariskan oleh yang Maha Kuasa, kematian memang pahit dan menyakitkan, semua makhluk yang bernyawa akan mengalaminya sekeras apapun kita menghindarinya, pasrahkan diri kita pada Allah, jangan biarkan iman kita terkikis oleh kesedihan yang berlarut-larut.”

Allea mengucap Istighfar berkali-kali, memohon ampun pada Sang khaliq, betapa ia begitu banyak berdosa acap kali menyalahkan takdirnya yang dirasa begitu pedih.

****

Dua minggu berlalu Pak Helmi akhirnya pulang dengan harapan kosong, tidak ditemukannya dua korban yang menurut data masih menyisakan dua orang salah satunya adalah putranya.
Seisi rumah yang menggantungkan harapannya pada kabar yang dibawa pak Helmi pupus sudah.

Jam menunjukkan pukul 20.00 Allea menyudahi shalat Isyanya dengan ditutup do’a. Suara pintu diketuk dan langsung dibuka oleh seseorang menolehkan wajah Allea ke arah pintu. “Aldo.”

“Kak Al, boleh Aldo masuk?” Aldo berdiri diambang pintu.

Allea mengangguk sambil tersenyum. “Masuklah …!”

Aldo anak bertubuh agak subur itu masuk lalu duduk di pinggir tempat tidur menunggu Allea selesai membereskan peralatan shalatnya.

“Ada apa dodo kemari?” tanya Allea setelah duduk di samping Aldo.

“Aldo kangen sama kak Altar,” ucap Aldo dengan wajah muram.

Air mata Allea mulai menggenang dipelupuknya, namun Allea tahan sekuat mungkin, dengan menampilkan senyum tegarnya. “Kak Al juga kangen sama kak Altar, kita berdo’a saja semoga kak Altar cepat kembali.”

“Aldo kemarin malam bertemu sama kak Altar dalam mimpi, kakak bilang Aldo tidak boleh menangis, Aldo harus tersenyum, dan harus bisa menjaga senyum kak Allea tidak hilang.”

“Oh iya? kak Altar bilang begitu?” Allea tak sanggup lagi membendung air matanya lebih lama, tangannya meremas dadanya yang dirasa begitu sesak dan sakit.

“Kata kak Altar, kak Allea jangan menangis.”

Allea mendekap erat Aldo, dalam hati ia berjanji tidak akan menangis lagi, sudah lelah jiwanya terus menerus menguras air mata.

****

Satu tahun sudah berlalu semenjak kabar hilangnya Altar, seisi rumah mencoba menerima kenyataan hilangnya Altar tanpa kabar, bahkan selama setahun laporan-laporan masih mengalir dari pihak kepolisian maupun militer, namun semuanya hanya memberikan informasi kosong.

Keluarga Altar acap kali menggelar do’a, mengundang para tetangga dan seluruh penghuni panti asuhan dengan harapan ada yang membawa kabar, jika memang Altar telah meninggal setidaknya jasadnya ditemukan dan dikembalikan pada keluarga untuk dimakamkan dengan layak, jika Altar masih diberi umur panjang sudilah kiranya ada yang memberi tahu dimana keberadaannya.

Pak Helmi pria yang memiliki keyakinan tinggi, bahwa putranya masih hidup tidak pernah menyerah untuk mencari keberadaan putranya itu. Bahkan pak Helmi menyebarkan informasi ke semua sahabat seperjuangannya semasa bertugas dulu.
Dan kabar itu pun tak luput dari telinga seseorang. Sejauh apapun jarak memisahkan hingga bermil-mil akan terasa dekat jika Allah sudah menunjukkan kehendakNya.

“Azkha, kau melamunkan apa..?” tanya seorang gadis dengan wajah ceria.

“Marisa, entah kenapa aku ingin sekali pergi ke kota bunga.” Jawab pemuda yang bernama Azkha.

Keinginan Azkha sontak membuat wajah Marisa berubah. “Tapi untuk apa kamu ingin ke kota Bandung?”

“Entahlah Marisa dorongan hatiku begitu kuat, seolah-olah ada yang menungguku di sana.”

“Dengar Azkha tempatmu disini, lahirmu di kota Blitar ini, bukan di Bandung, kau tidak memiliki sanak saudara di sana, untuk apa kau kesana?” Marisa berusaha meyakinkan Azkha, agar pemuda itu mengurungkan keinginannya pergi ke kota Bandung.

Marisa seakan dihinggapi ketakutan besar jika Azkha sudah menyebut kota Bandung.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaTrue Love # 07
Berita berikutnyaBiografi Jack Ma
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here