Penantian di Ujung Senja #26

0
222
views

Allea Fahriani Syahputri menyambangi kamar mertuanya, dimana Bu Hera masih tergolek lemah karena jiwanya yang masih terguncang atas kabar menghilangnya putra tercinta dalam kecelakaan kapal Feri Ambarawa yang membawanya hendak pulang ke pangkuan orang-orang tercinta.

Allea menghampiri Bu Hera yang sedang meracau memanggil nama Altar, sungguh hati Allea merasa dihempaskan gelombang dahsyat ke dalam puing-puing kedukaan. “Bunda …!”

Bu Hera menoleh ke arah menantunya yang kini duduk di atas kasur di sampingnya, “sayang maafkan Bunda, Nak,” sahutnya sambil terisak.

“Tidak Bun, ku mohon jangan minta maaf, Bunda tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa harus minta maaf?” Allea mengusap bulir air mata di pipi Bu Hera.

“Bunda minta maaf atas nama putra Bunda, yang telah menyeretmu dalam kedukaan yang berkepanjangan.”

“Astaghfirullah’aladzim, Bun. Jangan berkata seperti itu, setiap manusia sudah memiliki garis hidupnya sendiri, dan ini salah satu garis kehidupan Allea. Jangan menyalahkan Altar maupun Bunda dalam hal ini.” Allea tak kuasa menahan lagi air mata yang sedari tadi sekuat mungkin ditahannya agar tidak menerobos keluar.

“Ya Allah Altar anakku, dimana kamu berada, Nak?” tangis pilu Bu Hera semakin menyayat hati Allea.

“Bunda, berhentilah bersikap seolah-olah Altar sudah tiada, percayalah pada Ayah bahwa Altar masih hidup.” Kata Pak Helmi berdiri diambang pintu.

“Tapi kenyataannya putra kita sudah tidak ada, Yah ….”

“Cukup Bunda … hentikan racauanmu. Tolong dengarkan Ayah! tidak terjadi sesuatu pada anak kita, Altar belum meninggal, dia akan kembali pada kita.” tegas Pak Helmi berusaha meyakinkan istrinya, membuat Bu Hera diam seketika.

Bu Hera akhirnya merasa tenang, setelah Pak Helmi terus meyakinkannya, “hari ini juga Ayah akan berangkat ke lokasi kejadian untuk memastikan bahwa Altar tidak ada dalam kecelakaan kapal itu, kalian tenanglah dan istirahat jangan berpikir yang tidak-tidak.”

“Ayah, ada yang bisa Allea bantu untuk keberangkatan Ayah kesana?”

“Tidak Allea, Ayah sudah menyiapkan semuanya. Ayah berangkat sekarang bersama Rendi, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumssalam, hati-hati Ayah, semoga berhasil membawa kabar gembira untuk kami.”

****

Sudah lima hari Pak Jendral Helmi Suseno berada di posko penampungan evakuasi korban kecelakaan kapal Ambarawa milik militer. Pak Helmi menghampiri salah seorang petugas tim SAR, “bagaimana informasi hari ini?”

“Maaf Pak Helmi, karena cuaca sedikit buruk, proses evakuasi sedikit terhambat.”

“Bisa saya melihat data korban yang sudah di evakuasi?” tanya Pak Helmi.

“Silahkan, Pak Helmi bisa tanyakan pada Letnan Efendi yang berada di sana?” anggota tim SAR itu menunjuk ke arah pria berpakaian loreng yang sedang memeriksa mayat yang berhasil diangkut ke darat.

Pak Helmi segera menghampiri Letnan Efendi, yang memang sudah dikenalnya, “selamat pagi letnan,” sapa Pak Helmi.

“Selamat pagi Pak Helmi, ada yang bisa saya bantu?” tanya Letnan Efendi dengan sikap hormat.

“Saya ingin melihat catatan para korban yang sudah berhasil di evakuasi.”

“Oh silahkan, ini catatannya.” Letnan Efendi menyerahkan sebuah papan dada berisi kertas-kertas catatan nama korban.

Dengan seksama Pak Helmi meneliti satu persatu data korban.
Terindentifikasi= 13 Orang (meninggal)
Yang tidak Terindentifikasi=5 Orang (meninggal)
Yang belum ditemukan=2 Orang.
jumlah keseluruhan 20 orang.

Pak Helmi menarik nafas berat, dari sekian data korban tidak ada yang sesuai dengan data putranya. Dalam hati Pak Helmi ada rasa ketakutan yang besar. Bagaimana jika dari sisa 2 orang yang masih dalam pencarian, salah satunya adalah putranya, bagaimana ia sanggup membawa kabar duka bagi mereka, yang sedang menunggu dirinya membawa harapan yang besar.
Sedangkan dirinya lah yang paling menyangkal berita hilangnya Altar.

“Lapor Letnan Efendi, kami sudah tidak menemukan lagi korban.” Seorang petugas Tim SAR menberi laporan sesuai ekspedisinya.

“Bagaimana bisa? dalam catatan masih terdapat dua orang lagi yang belum ditemukan.” Sergah Letnan Efendi.

“Kami sudah semaksimal mungkin, tapi sesuai penelusuran kami sejauh lokasi yang ditentukan kami tidak menemukan lagi adanya korban.”

“Kalian tidak bisa menghentikan pencarian kalian, jika dua orang lagi belum kalian temukan, perlu kalian tahu salah satu dari mereka adalah anak saya …!” seru Oak Helmi menyela dengan suara keras, mulai timbul emosinya.

“Tenang Pak Helmi, kami memahami perasaan anda yang kehilangan putranya, biarkan kami menyelesaikannya dengan cara kami.” Letnan Efendi menenangkan Pak Helmi yang mulai tersulut emosi.

“Bagaimana saya bisa tenang, putra saya belum ditemukan, tapi kalian sudah mau berhenti mencari …!”

“Begini saja, kita tunggu sampai besok, jika sampai besok pagi korban tidak juga ditemukan sesuai laporan dan batas waktu pencarian habis, terpaksa kami hentikan.”

Pak Helmi akhirnya pasrah dengan keputusan Letnan Efendi yang disepakati Tim SAR.

****

Allea perlahan melangkah ke luar, berdiri di atas balkon kamar atas, sisa-sisa air hujan menetes di dedauan, bagaikan air mata Allea yang kerap kali tak henti menetes. Bibirnya menyunggingkan senyum syahdu, dengan mata terpejam Allea mendongakkan wajahnya ke atas.

“Aku tahu kau akan pulang kembali padaku, aku tahu kau sedang melihatku tersenyum, karena engkaulah alasanku untuk selalu tersenyum dan kau tak kan membiarkanku larut dalam kedukaan.
Kau tahu? penantian sepuluh tahun teramat menyiksaku, dan setelah kau kembali seolah aku mendapatkan anugerah paling indah dalam sejarah hidupku.” Allea menyeka air matanya yang semakin deras mengalir.

“Pulanglah, kumohon!” lirihnya.

Tok … tok … tok
suara ketukkan di pintu menyadarkan Allea yang larut dalam kesedihan, bergegas Allea menghampiri pintu lalu membukanya, “Bi Atin, ada apa?”

“Punteun Neng ngaganggu, dibawah ada Umi Rita ingin bertemu sama Neng Allea.”

“Baiklah Bi, Allea segera turun.”

Bi Atin mengangguk lalu meninggalkan Allea. Setelah mencuci muka agar terlihat sedikit segar Allea bergegas turun menghampiri umi Rita yang menunggunya di ruang tamu.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here