Penantian di Ujung Senja #22

0
854
views

Satu bulan telah berlalu tanpa kabar dari Altar, suami yang kerap kali dirindukannya dalam genangan air mata, namanya yang selalu Allea sematkan dalam do’a.

Sosok yang selalu ditunggu tiap detik kabar beritanya, hingga detik ini dalam sujudnya Allea memohon pada sang kholiq, untuk memberinya secercah harapan agar penantiannya tidak sia-sia dan jiwanya tidak selalu dirundung duka.

Hingga do’a itu pun terjawab, Suara ponsel di atas meja rias menolehkan wajah sembab Allea dengan cepat. Selama ini, ponsel itu seakan ikut mati seiring kepergian si pemberi. Dan, kini ponsel itu tiba-tiba menjerit seolah mengundang naluri Allea untuk segera menghampiri.

Masih dalam balutan mukena Allea menyambar ponsel, air matanya kembali berderai melihat nama yang tertera di layar pipih itu. “Bang Altar, Subhanallah Yaa Allah ….”

Dengan tangan gemetar Allea menekan tombol JAWAB, “Assalamu’alaikum, Bang Altar …!” sapa Allea dengan suara bergetar menahan haru.

“Wa’alaikumssallam, istriku. Bagaimana kabarmu, Sayang?” Suara Altar di sebrang Telpon, bercampur dengan suara gemuruh angin.

Allea berusaha menahan tangis agar tidak pecah, ia tidak ingin di kesempatan ini Altar mendengar suara tangisnya yang bisa mengakibatkan kekhawatiran sang suami. Allea tidak ingin menambah beban fikiran Altar selama mengemban tugasnya.

“Alhamdulillah, aku baik-baik saja, bagaimana kabar Abang di sana?”

“Alhamdulillah, secara fisik Abang baik dan sehat, tapi secara batin Abang begitu sakit dan tersiksa karena merindukanmu, Allea.”

Allea mengigit bibir bawah menahan haru, malu dan gembira dengan ungkapan isi hati suaminya. “Aku juga sangat merindukanmu, teramat merindukanmu. Kenapa baru sekarang Abang memberiku kabar? Tahukah Abang? Di sini kami begitu gelisah dan khawatir dengan ke adaanmu di sana?”

“Maafkan Abang, Sayang. di sini sinyal sangat sulit sekali, memiliki handpone pun serasa tak berguna. Abang bisa menghubungimu karena Abang bersikeras menaiki tempat dataran tinggi untuk mendapatkan sinyal demi mendengar suaramu.”

“Masyaa Allah …!”

“Sayang, bisakah bawa ponselnya pada Bunda, Abang ingin bicara dengan Bunda.”

“Iya Bang, Allea cari dulu Bunda,” sahut Allea dengan nada gembira.

Allea setengah berlari mencari ke beradaan mertuanya dengan menyambangi kamar beliau.

“Ayah, Bunda …!” seru Allea sambil mengetuk pintu, tak berapa lama pintu di buka.

“Ada apa sayang?” tanya bu Hera dengan wajah heran. Pak Helmi ikut berdiri di belakang istrinya.

“Bang Altar telpon, Bun. Abang ingin bicara sama Bunda.”

“Allahu Akbar, Altar … akhirnya, sini telponnya, Nak!” ujarnya dengan tidak sabar.

“Assalamu’alaikum, bagaimana keadaanmu, Nak …?”

“Wa’alaikumssallam, Alhamdulillah kabar Altar baik, Bun. Maaf Altar baru bisa memberi kabar karena kesulitan komunikasi, semoga kalian semua baik-baik di sana?”

“Alhamdulillah kami semua baik, Nak. Kau tidak usah mengkhawatirkan kami, pikirkan kesehatanmu dan jaga keselamatanmu, karena di sini ada yang sangat merindukanmu dan menunggumu pulang.” Bu Hera tersenyum sambil melirik ke arah Allea yang tersipu malu dengan ucapan mertuanya.

“Ayah ingin bicara denganmu.” Bu Hera menyerahkan ponsel pada suaminya.

“Altar, kapan tugasmu selesai dan kembali pulang?” tanya pak Helmi tanpa basa-basi mengingat waktu Altar tidak banyak, ditambah suara yang bergemuruh di sebrang telpon sangat mengganggu pendengaran.

“In Syaa Allah secepatnya Altar pulang, Yah. Tugas sudah selesai tinggal menunggu perintah dari atasan.”

“Baiklah kalau begitu, segeralah kembali dengan selamat.”

“In Syaa Allah, Yah.”

Pak Helmi menyerahkan kembali ponselnya ke tangan Allea sambil menganggukkan kepala sebagai isyarat memberi izin pada menantunya untuk kembali ke kamar, ia tahu gadis itu masih ingin bercakap dengan suaminya.

“Jadi, kapan Abang pulang?” tanya Allea setelah berada di kamar.

“Secepatnya, dalam hitungan sepulu hari dari sekarang.”

“Alhamdulillah, aku sudah tidak sabar menunggu kepulanganmu.”

“Abang juga sudah tidak sabar ingin segera memelukmu. Kau tahu Allea? Di sini aku berhasil menaklukkan musuh tapi tidak berhasil menaklukkan rasa rindu pada istriku.”

Allea tertawa pelan, wajahnya sudah terlalu matang akibat mendengar gombalan Altar, untung lelaki itu tidak melihat semburat merah di wajahnya, andai dia melihat mungkin rasa malunya bertambah.

“Segeralah pulang untuk menggapai harapanmu bersamaku, Kapten.”

“Alleaa, ssrrrkkhh aaahhjkhrrkll … tut tut tut …??”

Allea melihat sambungan telpon dari Altar mati. Mungkin sinyal di sana sudah cukup memberinya waktu untuk bersua lewat lisan.

Allea mendekap ponselnya, senyum terbit di bibirnya bukanlah sebuah senyum ke hampaan, kali ini senyum penuh harapan. Wajahnya kembali merona mengingat gombalan Altar yang sempat di lontarkan di akhir percakapan, Allea menutup mukanya merasa malu sendiri.

****

Nun jauh di pulau yang agak terpencil penuh dengan hutan belantara, Altar baru kembali dari mendaki dataran tinggi untuk sekedar mencari sinyal dan berharap keburuntungan memihaknya.
Sesuai harapan sinyalpun menyapa, Altar tanpa membuang waktu segera menghubungi wanita yang teramat dirindukannya siang maupun malam.

Setelah merasa senang dan puas mendapat kabar dan menebarkan sedikit gombalan pada sang istri, Altar kembali ke markas tenda militernya.

“Selamat sore Kapten anda dari mana?” sapa Sersan Fahmi sambil memberi hormat.

“Sore Sersan, saya dari atas bukit sana.” Altar menunjuk bukit yang tadi ia singgahi.

“Untuk apa anda kesana Kapten?” Sersan Fahmi mengerutkan dahi heran.

“Untuk mencari sinyal, saya ingin telpon ke rumah karena sudah satu bulan ini saya belum memberi kabar keluarga saya terutama istri saya.”

Sersan Fahmi mangut-mangut faham, “bagaimana kabar keluarga Kapten? dan kabar istri anda?”

“Alhamdulillah mereka baik-baik saja, semoga kita bisa segera kembali pulang ke rumah kita sersan.”

“Iya kapten, saya sudah tidak sabar ingin segera pulang untuk kumpul bersama dengan keluarga kecil saya.”

“Berdo’alah Sersan semoga kita segera terbebas dari lingkungan yang liar dan ganas ini dan segera kembali ke rangkulan orang-orang yang mencintai kita.” Altar menepuk bahu sersan Fahmi lalu memasuki tendanya.

“Aamiin, Kapten. Apa lagi anda sebagai pengantin baru tentunya sangat merindukan istri anda,” seloroh Sersan Fahmi dibalas tawa pelan oleh Altar.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaHotel The 101 Darmawangsa Terbakar
Berita berikutnyaPulau Berdarah #24
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here