Penantian di Ujung Senja #20

0
914
views

Allea Fahriani Syahputri keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe panjang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Gadis itu terhenyak langsung menutup rambut dengan handuk, melihat Altar duduk bersila di atas tempat tidur, dengan mata memandang ke arahnya sambil menyunggingkan senyum.

Altar gemas melihat sikap malu-malu Allea. “Kemarilah, Allea!”

Dengan jantung berdegup kencang, hati berdebar tidak karuan, Allea menghampiri Altar yang sudah merubah duduknya dengan kaki menjuntai ke bawah.

Allea duduk di samping Altar dengan menundukan wajah, tidak berani membalas tatapan pemuda yang kini sah jadi suaminya.

Altar menarik dagu Allea agar menatap dirinya, lalu menangkup wajah sang istri. Dengan suara pelan Altar merapalkan doa pada ubun-ubun kepala gadis itu.

Mata Allea seketika membasah, merasa terharu. Hatinya masih belum percaya, Altar kini menjadi suaminya, kepala nahkoda rumah tangga. Sungguh indah buah janji yang mereka ikrarkan sepuluh tahun lalu, terwujud atas kehendak yang Maha Kuasa.

Altar menarik wanitanya ke dalam dekapan serta menebarkan kecupan-kecupan kecil penuh cinta di kepala dan seputar wajah Allea. Gadis itu memejamkan mata. Desiran halus menyapa keduanya.

“Allea, kau kini sudah menjadi istriku. Kita jalani rumah tangga kita dengan keharmonisan, sebagaimana Khadijah yang selalu penuh ke ikhlasan mendampingi Muhamad Sallalahu Allaihi Wa’sallam dalam menjalankan risalahnya. Kita jadikan Allah Subhanahu wa Ta’alla landasan hidup kita agar kita selamat dunia dan akhirar.”

Allea mengangguk, menaggapi setiap perkataan Altar yang begitu mengena di hatinya. Gadis itu semakin hanyut dalam tangis bahagia.

“Sayang, sebaiknya kita salat isya dulu, memohon perlindungan Allah dan meminta ridho-NYA untuk kelanggengan rumah tangga kita.”

Allea mengangguk dan membiarkan Altar beranjak dari duduknya memasuki kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Keduanya begitu khusyu menjalankan salat berjama’ah. Altar dan Allea meneteskan air mata, dalam doa mereka tak henti mengucap syukur atas kebahagiaan yang mereka raih.

Tok … tok … tok
“Assalamu’alaikum.”

Suara ketukan dan salam menyudahi aktifitas pengantin baru itu dalam menjalankan ibadahnya.

“Wa’alaikumssallam,” sahut keduanya.

“Aku bukakan dulu pintunya, Bang.” Altar mengangguk, bibirnya mengulum senyum, ini pertama kali Allea menyebutnya Abang.

“Ayah … silakan masuk, Yah!” Allea sedikit heran melihat raut wajah mertuanya agak berbeda, terlihat muram.

“Iya, Sayang. Ayah ada perlu sama suamimu.”

“Oh … Bang Altar di dalam baru selesai salat.”

“Ada apa, Ayah?” tanya Altar kini berdiri di samping Allea.

“Bisa Ayah bicara sebentar pada kalian, ini sangat penting,” ucap Pak Helmi dengan suara pelan.

Altar dan Allea saling berpandangan.

“Kita bicara di ruang tamu saja, Bunda kalian serta Umi Rita sedang menunggu.” Tanpa menunggu jawaban pak Helmi meninggalkan putra dan menantunya dalam rasa kebingungan.

Altar terkejut mendapati Rendi berada di antara mereka menggunakan seragam loreng lengkap dengan ransel besarnya.

Yang membuat Altar lebih terkejut lagi, di sana berdiri juga Sersan Fahmi dan langsung memberi hormat begitu Altar datang.

Sersan Fahmi adalah sahabat sekaligus ajudan Altar. Dia pria yang setia mendampingi sang Kapten

“Ada apa ini?” Altar tak bisa menahan rasa penasarannya, pemuda ikut duduk berbaur dengan yang lain di ikuti Allea duduk di sampingnya.

“Silahkan duduk dulu Sersan Fahmi!” Sersan itu menuruti perintah Kaptennya.

“Bisa jelaskan ada apa?”

“Maaf Kapten, kami menganggu hari istimewa anda, tapi kami tidak bisa menolak perintah atasan, bahwa kita harus berangkat malam ini juga,” tutur Sersan Fahmi menjelaskan.

“Perintah apa yang kau bawa, Sersan Fahmi?” Suara tegas dan berwibawa terlontar dari mulut Altar.

“Terjadi kerusuhan di perbatasan Kapten dan Komandan membutuhkan bantuan kita, segera.”

Krrriiing …

Suara Telpon rumah menggema, segera diangkat oleh bu Hera, tak lama wanita itu memanggil putranya.

“Nak, telpon dari atasanmu.”

Altar segera meraih gagang telpon dari bundanya. “Assalamu’allaikum.”

“Wa’alaikumssallam, Kapten segera lah ke lokasi kejadian, kami membutuhkan bantuanmu, Sersan Fahmi sudah menjelaskan pada anda?” Suara Komandannya di sebrang Telpon.

“Siap, Komandan! perintah dilaksanakan.” Altar menutup Telpon, tanpa menghiraukan pandangan semua orang pemuda itu bergegas kembali ke kamar, Allea berlari kecil menyusul di belakangnya.

Tanpa banyak bicara Allea membantu suami berkemas barang yang mesti di bawa sekarang juga. Altar mendekati sang istri yang masih sibuk memasukkan barang miliknya ke dalam tas ransel.

Altar menyentuh lembut jemari Allea, sehingga wanitanya itu menghentikan gerakkan mengemas barang.

Tiba-tiba Altar menarik Allea ke dalam pelukan, mendekap erat seakan tidak ingin terlepas lagi. Ia harus pergi dan entah kapan bisa kembali. “Maafkan aku, Sayang. Aku harus pergi di saat kita baru dipersatukan.”

Allea mulai terisak. “Pergilah suamiku! Mereka membutuhkanmu,” ucap Allea disela-sela isak tangisnya.

“Sayang, kau bisa mencegahku pergi. Kau berhak atas diriku dan aku akan menuruti kehendakmu.” Altar mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi mulus istrinya.

“Tidak Kapten! aku tidak bisa egois memikirkan perasaanku sendiri, sedang di sana banyak nyawa yang membutuhkanmu, kau milik mereka juga, Kapten.”

Begitu berat yang diucapkan Allea, ia harus ditinggalkan oleh orang yang baru saja dipersatukan dengannya, tapi ia sadar tidak bisa egois, negara membutuhkan Altar.

“Kumohon jangan menangis! Aku tidak bisa melangkah jika melihatmu seperti ini.”

“Pergilah suamiku! Doaku menyertaimu, aku akan baik-baik saja, dan aku akan menunggu ke pulanganmu di markas kita. Markas senja.” Allea pasrah dan ikhlas dengan kepergian suami sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan.

Altar mengecup kening istrinya begitu lama dan dalam, lalu mengecup bibir Allea yang bergetar. Pemuda itu segera meraih tas ranselnya dan ke luar kamar sambil memeluk pinggang sang istri.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaCinta yang Menuntun Langkahku #18
Berita berikutnyaPulau Berdarah #22
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here