Penantian di Ujung Senja #18

0
902
views

Satu minggu berlalu sejak acara ulang tahun Aldo putra dari Pak Helmi suseno dan Bu Herawati Dyah Yuniastuti, Altar dan kedua orang tuanya kini kembali berada di panti asuhan NURUL HIKMAH. mereka berkumpul bersama di ruang penerima tamu dengan Umi Rita Setia Asih dan Abah Hanif, Ayah dari Umi Rita, sekaligus sesepuh di rumah panti.

“Ada kepentingan apakah gerangan Pak Helmi dan Bu Hera juga Nak Altar datang kemari?”
Kata Umi Rita memulai pembicaraan dengan menanyakan langsung tujuan keluarga Altar datang ke rumah panti miliknya, tanpa mengurangi sikap sopannya.

“Begini Umi, kedatangan kami kemari bermaksud membicarakan kelangsungan hubungan anak-anak kita Altar dan Allea,” jawab Bu Hera, menjelaskan maksud kedatangannya.

Dengan wajah berbinar, Umi Rita mengusap wajahnya.
“Alhamdulillah, kalau begitu saya panggilkan dulu Allea, karena ini menyangkut dirinya, jadi Allea yang harus lebih tahu.”

“Allea di sini, Umi.” Allea Fahriani Syahputri datang dengan membawa nampan berisi minuman untuk para tamu.

Semua yang hadir menoleh ke arah Allea dengan senyum merekah di bibir mereka.

“Silahkan di minum Om, Tante,” timpal Allea setelah menaruh gelas minuman di atas meja, lalu duduk di samping Umi Rita.

“Terima kasih sayang, maaf sudah merepotanmu,” kata Bu Hera.

“Tidak Tante, sama sekali tidak direpotkan.”

“Aku tidak kau tawari minum?” tanya Altar dengan tatapan menggoda.

“Eeh … ma-maaf silahkan di minum!” jawab Allea dengan gugup, wajahnya memerah sambil menunduk menahan malu.

“Jangan menggodanya Kapten, lihat wajahnya memerah …!” hardik Bu Hera.

Semua terkekeh mendengar selorohan bundanya Altar.

“Allea, kami ke sini ingin menanyakan sama kamu,” Pak Helmi kembali serius membicarakan pokok utama tujuannya datang kemari.

“Apakah itu, Om?”

“Kami sudah sepakat melanjutkan hubungan kamu dengan Altar ke jenjang yang lebih serius, yaitu menikahkan kamu dengan Altar, bagaimana menurutmu?”

Jantung Allea sedari awal kedatangan Altar beserta orang tuanya sudah berdegup kencang, apa lagi kini ritme degupannya semakin bertambah. Allea melirikkan matanya ke arah Umi Rita lalu ke arah Abah Hanif yang sedari tadi hanya menyimak.

“Ikuti kata hatimu, Nak,” saran Abah Hanif, dibalas anggukkan oleh Allea.

“Om, Tante … Allea serahkan jawabannya sama Umi. Karena kepada Umi lah, Om dan Tante berhak meminta diri Allea.”

“Kenapa begitu, sayang? Kau lah yang akan menjalani kehidupanmu bukan Umi?” Umi Rita sedikit terkejut dengan permintaan putri asuhnya.

“Tanpa Umi Allea bukan siapa-siapa, tanpa Umi Allea belum tentu terawat hingga sekarang, Umi sangat berjasa dalam hidupku. Hidup Allea selama ini tergantung pada Umi, karena itu lah hanya Umi yang berhak memberikan Allea pada seseorang yang Umi restui.”

Semua yang hadir menarik nafas lega dengan wajah menggambarkan keharuan terutama Umi Rita yang tak mampu menahan bendungan air matanya. Dengan penuh kasih sayang Umi memeluk erat tubuh ramping putrinya.
Allea benar-benar menuai pujian dan mengundang rasa kagum disetiap ucapannya.

“Bu Hera dan Pak Helmi, sepertinya sudah tidak ada rasa ragu di hati saya, dengan senang hati saya menyerahkan Allea untuk menjadi pendamping putra anda, saya percaya Altar akan menjaga putri saya sebagaimana nak Altar menjaga orang tuanya,” papar Umi Rita panjang lebar.

“Alhamdulillah, kalau begitu kita tanya Altar kapan dia siap menjalankan acara pernikahannya,” ucapan Pak Helmi mengundang semua wajah menoleh ke arah Altar seakan menunggu jawaban yang dilontarkan Pak Helmi.

“Altar minta pernikahan ini dilaksanakan lima hari dari sekarang.”

Semua yang mendengar jawaban Altar terkejut, bahkan Allea membelalakan matanya. “Apa kau tidak salah berucap Altar? bagaimana bisa secepat itu pernikahan ini dilaksanakan?”

“Kenapa tidak Ayah? bukankah niat baik harus disegerakan?” jawab Altar enteng

“Iya memang, tapi tidak semudah itu, Nak. Kita belum mempersiapkan apapun, kita tidak boleh main-main dalam hal ini, karena ini menyangkut masa depan dan sunah dalam agama.” kali ini Bu Hera menimpali memberi pengertian pada putra sulungnya agar tidak gegabah mengambil keputusan.

“Kita tidak perlu menyiapkan yang lainnya, Bun. Cukup tempat untuk ijab Qobul dan penghulu untuk menikahkan kami.”

“Jangan gegabah Altar, kau seorang ABDI negara pernikahanmu perlu proses dan itu membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memiliki dokumen sesuai prosedur seorang tentara.”

“Altar mengerti masalah itu Yah, Altar hanya meminta ijab Qobul untuk menghalalkan Allea dulu. Untuk resepsi dan pengurusan dokumen beserta urusan-urusan yang lainnya bisa menyusul.”

Pak Helmi menarik nafas berat, ada rasa ragu dari tarikkan nafasnya, apa yang diminta putranya bisa saja dengan mudah dilaksanakan, untuk biaya bagi mereka bukan masalah, untuk tempat di sebelah panti asuhan ini terdapat masjid besar bisa digunakan untuk acara walimahan, dan untuk penghulu tinggal menghubunginya saja.

Urusan yang lainnya bisa dilakukan setelah menghalalkan mereka, jika perlu Pak Helmi berencana mengadakan resepsi sesuai dengan tradisi ke tentaraannya.

“Baiklah, Yyah menyetujui keinginanmu.” Pak Helmi memberikan ultimatum terakhirnya.

“Tapi Pak Helmi, kami belum menyiapkan apapun apa lagi untuk biaya pernikahan ini,” kata Umi Rita dengan nada khawatir.

“Kalian tidak perlu khawatir semua biaya Altar sudah lama menyiapkanya,” Altar meyakinkan Umi Rita dan Allea yang terlihat cemas.

“Baiklah, kesepakatan sudah diambil dan pernikahan putra putri kita akan dilaksanakan lima hari lagi bertempat di masjid Al’mujahidin di sebelah panti asuhan ini, bagaimana, Umi, Abah?”

“Kami menyetujuinya Pak Helmi.”

“Alhamdulillah.”

****

“Kau melamunkan apa?” Allea menghampiri Altar yang sedang duduk di sebuah batu di markas senja.

Setelah pertemuan dan perundingan untuk acara pernikahan keduanya, Altar mengajak Allea ke markas senja, tempat kenangan masa kecil mereka. “Aku sedang memikirkanmu,” Altar menatap lekat wajah Allea yang bersemu merah karena ucapannya.

“Aku merindukan semuanya, semuanya yang berkaitan denganmu Allea.”

Allea menyerahkan sebuah kotak, “aku merawat kotak ini dengan baik, isinya pun masih utuh.”

Dengan tangan sedikit gemetar Altar menerima kotak itu, kotak berisi barang-barang mereka yang ia masukkan sepuluh tahun yang lalu.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaPulau Berdarah #20
Berita berikutnyaSeindah Senja #05
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here