Penantian di Ujung Senja #14

0
551
views

Altar menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di ruang tamu, lalu ikut berbaur duduk bersama mereka.

Sesekali mata Altar melirik ke arah pintu seperti sedang ada yang ditunggunya, gerak gerik Altar sedikit mengundang tanya di hati sang Bunda.

“Hmm … kau sedang menunggu seseorang, Nak?” Bu Hera mulai tidak sabar untuk tidak bertanya.

“Eeng … tidak, Bun,” jawab Altar, tangannya meraih buku majalah milik bundanya yang teronggok di meja.

“Sejak kapan kamu baca majalah terbalik seperti itu?” Pak Helmi menatap heran putranya.

Altar merutuki kebodohannya dalam hati. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa groginya, hingga orang tuanya dapat membaca gelagatnya yang gelisah.

“Apa yang sedang kamu fikirkan?” tanya Pak Helmi.

Sebagai orang tua Pak Helmi sangat tahu bahwa putranya sedang dilanda masalah hati. Pak Helmi merasa berhak mengetahui urusan putranya, untuk sekedar memberi solusi supaya putra sulungnya itu bisa sedikit terbebas dari urusannya.

“Altar, Bunda sama Ayah tahu kalau kamu ingin bicara sesuatu, katakan saja!” tambah Bu Hera meyakinkan Altar yang terlihat ragu untuk bicara.

Altar menarik nafas sejenak, “begini, Yah, Bun, Altar ingin meminta restu.”

Bu Hera dan Pak Helmi saling berpandangan dan saling melempar senyum, sebelumnya mereka sudah menduga apa yang hendak dibicarakan putranya, namun mereka memilih menunggu Altar yang menjelaskan secara langsung niatnya.

“Restu untuk apa?” tanya Pak Helmi pura-pura tidak mengerti.

“Restu untuk melamar Allea,” jawab Altar dengan nada percaya diri berharap orang tuanya merestui.

kembali Bu Hera dan Pak Helmi saling berpandangan, “apa kau sudah yakin dengan pilihanmu?”

Altar mengangguk yakin, “Insya Allah Altar yakin. Altar sudah mengenal Allea sedari kecil, meskipun kami sempat berpisah lama tapi perasaan kami tidak berubah,” papar Altar panjang lebar.

Secara tidak langsung Pak Helmi dan Bu Hera merasa gembira dengan pilihan putranya yang sesuai dengan keinginan mereka.

Walaupun Allea hanya seorang gadis yang besar di panti asuhan bagi mereka itu tidak masalah.

Allea di asuh sedari bayi oleh Umi Rita, seorang wanita solehah, hingga menjadikan Allea gadis sederhana tapi tidak kampungan, cantik natural tanpa dempulan berbagai make up.

Allea gadis yang lugu, tapi pintar terutama dalam menguasai Al Quran, serta sopan santunnya tidak perlu lagi dipertanyakan.

Dimata orang tua Altar, Allea bukan gadis sembarangan. Allea gadis berkepribadian langka di zaman yang semakin modern dan canggih, dimana para wanita sibuk memoles diri dan mengutamakan karir.

“Ayah sama Bunda tidak perlu banyak berfikir lagi, kami merestuimu, Nak.”

“Alhamdulillah, terima kasih Ayah, Bunda.” Altar mengusap wajah, suaranya sedikit bergetar saking gembiranya.

Sebenarnya Altar merasa yakin orang tuanya bakal memberi restu, namun tetap saja jawaban dari mereka membuat Altar bahagia setengah mati.

“Assalamualaikum.”

Altar dan kedua orang tuanya menoleh ke arah suara pria dan wanita yang mengucap salam.

“Allea … Rendi,” desis Altar.

“Alhamdulillah panjang umur. Allea masuklah, Nak,” ujar Bu Hera, diangguki oleh Allea.

“Rendi tidak diajak masuk Tante?” kata Rendi, ikut nyelonong masuk mengikuti Allea.

“Tidak disuruh juga sudah nyelonong masuk duluan,” celetuk Altar dengan tatapan tidak suka pada Rendi, karena datang bersamaan dengan Allea. Bahkan saudara sepupunya itu ikut pula duduk di dekat Allea.

Rendi terkekeh menanggapi ucapan Altar. Rendi merasa senang bisa bertemu Allea di perjalanan dengan tujuan yang sama. Allea adalah gadis yang telah mengobrak abrik hatinya pada pandangan pertama beberapa hari yang lalu. Pucuk dicinta ulampun tiba, pepatah yang pas buat Rendi.

“Kalian bertemu dimana? kok, bisa datang kemari bersama-sama?” tanya Bu Hera.

“Kita dipertemukan di perjalanan dengan tujuan yang sama Tante. Mungkin sudah kehendak Allah mempertemukan saya sama Allea,” jawab Rendi dengan percaya dirinya.

Allea hanya tersenyum, sudut retinanya melirik ke arah Altar yang terlihat gusar.

“Maaf Tante, sudah waktunya Allea mengajar Aldo.”

“Oh, iya silahkan sayang. Aldo ada di kamarnya, kamu langsung saja kesana ya!”

Allea menganguk lalu bangkit dari duduknya bersamaan dengan Altar dan Rendi.

“Kalian mau kemana?” tanya Pak Helmi. Matanya menyorot bergantian ke arah Altar dan Rendi dengan tatapan menyelidik.

“Saya mau antar Allea ke kamar Aldo, Om,” jawab Rendi dengan cepat menjawab pertanyaan Pak Helmi, sebelum keduluan Altar yang hampir membuka mulut hendak mengucapkan kata yang sama dengan Rendi.

Allea terlihat bingung dengan sikap kedua pemuda tampan dan gagah ini.

“Kalian tidak perlu repot antar Allea, dia sudah tahu letak kamar Aldo dimana tidak mungkin nyasar,” timpal Bu Hera, seolah memahami kebingungan Allea.

“Allea sebaiknya kamu segera ke kamar Aldo sebelum mereka berdua perang saling berebutan.”

Allea tersenyum simpul mendengar ucapan Pak Helmi, “iya Om, permisi.”

“Rendi …” seru Bu Hera, saat melihat Rendi hendak melangkah mengikuti Allea.

Rendi nyengir dan kembali duduk dengan lesu, “tapi Tante
!”

“Sudah, jangan banyak protes. Duduklah Om ingin menanyakan kabar keluargamu.”

“Altar, kamu mau kemana?” tanya Bu Hera.

“Eeng … Altar mau ke kamar Bun, ambil ponsel,” jawabnya.

Altar segera berlari menaiki tangga sebelum orang tuanya kembali mencegah.

Altar memasuki kamarnya, lalu menyambar ponsel di atas nakas, dengan bibir tersenyum Altar mengetik sesuatu di layar pesan, lalu mengirimkannya.

****

Allea tanpa kesulitan mulai mengajari Aldo mengenalkan huruf-huruf hijaiyah yang belum semua dihapalkan Aldo. Anak berbadan subur itu terlihat antusias belajar, karena sebelumnya Allea membujuk Aldo dengan game di ponsel barunya.

“Tiing …” suara tanda pesan masuk ke ponsel Allea. Gadis itu meraih ponselnya lalu membuka pesan yang dikirim seseorang.

“Altar,” desis Allea mengrnyitkan dahinya. Dengan rasa penasaran Allea membuka pesan yang dikirim Altar.

“Assalamu’alaikum calon istriku.”

Mata Allea terbelalak, mulutnya yang menganga ditutup oleh jarinya.

Belum sempat Allea membalas pesan Altar, Aldo menanyakan huruf yang hijaiyah lain yang belum dihapalnya.

“Tiing …” Kembali ponsel Allea mendapat pesan, dengan cepat Allea membacanya.

“Kenapa tidak menjawab salamku?”

“Wa’alaikumssalam, maaf aku sedang mengajari Aldo.” Allea mengirim balasan pesan yang diketiknya.

“Oh, aku ke kamar Aldo sekarang,” balas pesan Altar.

Deg

Jantung Allea mulai berdetak cepat, sia-sia rasanya tadi menghindar dari debaran hebat yang timbul karena berdekatan dengan Altar.

Allea menghindari Altar dengan alasan sudah waktunya mengajari Aldo mengaji. Malah sekarang Altar hendak datang ke kamar Aldo.

Hati Allea semakin berdebar saat mendengar langkah kaki yang mendekat ke kamar.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here