Penantian di Ujung Senja #13

0
771
views

“Assalamu’alaikum.”
Altar mengetuk pintu rumah panti asuhan, terdengar sahutan dari dalam, tak lama pintu pun dibuka.

“Wa’alaikumssalam, kalian …!” Allea terkejut dengan kedatangan Altar dan Aldo ke rumah panti.

“Hai Allea,” sapa Altar dengan senyum khasnya.

“Hai … kalian ada apa datang kemari?” tanya Allea
menatap Adik dan Kakak itu bergantian.

Altar dan Aldo saling berpandangan. Altar terlihat bingung, ia lupa kedatangannya ke panti asuhan untuk apa?

“Eehh … ini Al, Dodo ingin mencari teman main disini,” ujar Altar sedikit gugup.

Altar melirik Aldo berharap Adiknya mengerti dengan maksudnya.

“Bukan itu …” sergah Aldo sambil menggeleng.

“Do, bukannya kita mau cari teman buat kamu?” potong Altar cepat sebelum Aldo meneruskan kalimatnya.

Allea mengerutkan dahi bingung dengan perdebatan yang ditimbulkan Kakak dan Adik itu.

“Tapi, Kak …!” Aldo hendak mengajukan protes kembali, lagi-lagi Altar memotong kalimatnya.

“Ayolah Do, jangan malu-malu,” kata Altar menyela kalimat Adiknya, membuat wajah Aldo cemberut.

“Sudah, sudah kalian tidak usah berdebat, ayo Aldo, ikut kak Allea,” lerai Allea, mulai faham situasi yang sebenarnya.

Tangan Allea menuntun Aldo menuju halaman belakang panti asuhan, Altar mengikuti dari belakang.

“mau kemana?” tanya Aldo penasaran.

“Nanti juga Aldo akan tahu,” jawab Allea.

“Nah, itu mereka. Kau pasti akan senang bermain dengan mereka.” Allea menunjuk segerombolan anak laki-laki sedang bermain bola.

“Fadlan, kemari …!”
panggil Allea ke salah seorang anak laki-laki.

Anak yang bernama Fadlan mengampiri Allea, “ada apa Kak Allea?” tanyanya.

“Fadlan, kenalkan ini Aldo. Kamu bisa ajak Aldo main bola, kan? dan tolong kenalkan Aldo sama yang lain ya.”

Fadlan mengangguk, “ayo Do ikut aku, kita main bola sama-sama, kau pasti suka,” ajak Fadlan dengan ramah. Aldo melirik ke arah Altar, dibalas anggukkan oleh Kakaknya itu.

Akhirnya Aldo mau diajak oleh Fadlan, Altar tersenyum senang melihat adiknya mau berkenalan dengan anak-anak yang lain dan mulai bermain dengan mereka.

“Silahkan masuk, Kapten Altar.”

“Hmm ….” Altar mengikuti Allea masuk kedalam rumah.

“Silahkan duduk!, aku ambilkan dulu minum.”

“Tidak usah Allea, aku sudah sarapan juga minum sebelum kemari,” tolak Altar dengan halus.

“Oh begitu,” balas Allea singkat.

“Allea bagaimana kalau kita ke markas senja, aku ingin kesana bersamamu.”

“Tapi, bagaimana dengan Aldo?”

“Tidak apa-apa kita tinggal sebentar, aku sengaja mengajaknya kemari supaya dia memiliki teman bermain.”

Allea berfikir sejenak dan akhirnya menyetujui ajakkan Altar. “Baiklah aku pamit dulu sama umi Rita.”

Altar mengangguk setuju.

Allea hendak pergi menemui umi Rita, namun wanita cantik berusia hampir setengah baya itu sudah berdiri di belakang mereka.

“Kapten Altar …!” seru Umi Rita tersenyum ramah saat melihat siapa pemuda tampan yang bersama Allea.

“Assalamu’alaikum Umi,” Altar mencium punggung tangan Umi Rita.

“Wa’alaikumssalam, apa kabarmu, Kapten Altar?”

“Alhamdulillah kabar Altar baik, bagaimana kabar Umi?” Altar balik bertanya

“Alhamdulillah kabar Umi baik juga, Nak. Kamu terlihar gagah sekali Kapten persis seperti ayahmu dulu,” puji Umi Rita berdecak kagum.

Altar tertawa pelan setiap menanggapi pujian dari orang-orang yang mengenalnya dimasa lalu.

“Umi, boleh Altar pinjam dulu Allea untuk pergi ke markas senja?”

“Silahkan Nak, kau tidak usah sungkan untuk datang kemari dan mengajak Allea, selama Allea sendiri tidak keberatan,”
tutur Umi Rita.

“Alhamdulillah, terimakasih Umi. Jika Altar meminta Allea apa Umi tidak keberatan?”

Sejenak Allea tertegun, seolah sedang mencerna ucapan Altar.

“Maksud Nak Altar meminta bagaimana?” tanya Umi Rita, belum bisa menangkap makna dari ucapan Altar.

“Altar meminta restu sama Umi untuk mengkitbah Allea.”

Deg

Allea terkejut dengan kalimat yang dilontarkan teman masa kecilnya itu, “Altar, ka-kamu …!” suara Allea serasa tercekat di tenggorokkan.

“Nak Altar tidak main-main?” tanya Umi Rita tak kalah terkejutnya dengan Allea, begitu mendengar penjelasan Altar.

“Dalam hal ini Altar tidak main-main,” jawabnya yakin.

“Seharusnya Nak Altar bicarakan dulu dengan bu Hera dan pak Helmi, jangan gegabah.”

“Altar rasa mereka tidak akan keberatan, mereka sudah mengenal Allea.”

“Tetap saja kami tidak bisa gegabah menerima niat sucimu tanpa sepengetahuan dan perundingan beliau.”

“Assalamu’alaikum.”

Suara wanita mengucap salam mengalihkan perhatian semua yang berada di dalam rumah.

“Wa’alaikumssalam” balas mereka.

“Bunda ….”

“Tante ….”

“Bu Hera ….”

“Lho … pada kumpul disini rupanya. Altar kenapa tidak bilang sama Bunda mau kesini, kan bisa sama-sama?” tanya Bu Hera dengan heran mendapati putra sulungnya berada di panti asuhan.

“Altar, bantuin Dodo carikan teman baru bun,” jawabnya kikuk.

“Hmm … nyari temen baru buat Aldo atau nyari calon buat Altar?” cibir Bu Hera.

Altar cuma nyengir sambil garuk-garuk tengkuknya, sedang Allea tersenyum malu dengan wajah merah merona.

“Silahkan duduk dulu Bu Hera. Ada tujuan apakah Bu Hera ke rumah kami?” tanya Umi Rita dengan nada sopan.

“Begini Umi Rita, kedatangan saya kesini hanya ingin memberitahukan bahwa putra bungsu saya dua hari lagi genap delapan tahun, dan saya serta suami ingin merayakan hari lahirnya Aldo di rumah ini bersama anak-anak panti asuhan, itu pun jika Umi tidak keberatan,” papar Bu Hera panjang lebar.

“Tentu saja saya tidak keberatan, malah saya sangat bersyukur sekali Bu Hera berkenan merayakannya di tempat kami bersama anak-anak yatim piatu,” kata Umi Rita dengan wajah sumringah.

“Alhamdulillah kalau begitu, kami akan menyiapkan semuanya, terimakasih banyak, Umi.”

“Iya, Bu Hera sama-sama. Saya juga ucapkan banyak terimakasih karena keluarga kalian sudah percaya pada kami.”

“Alhamdulillah.”

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here