Penantian di Ujung Senja #12

0
431
views

“Allea … kenapa kau ada disini? dan ini …?” Ayunda menatap intens Altar dengan mata terbelalak dan mulut sedikit menganga.

“Masyaa Allah kau … Altar ceking?” seru Ayunda, tangannya menunjuk ke arah Altar.

Altar membalas seruan Ayunda dengan senyuman. Ayunda menatap Altar dari kepala hingga kaki.

“Apa kabar, Yunda?” tanya Altar masih memperlihatkan senyumnya.

“Alhamdulillah, aku baik. Yaa Allah kau berubah sekali, Al. Eeh … maksudku Kapten Altar,” ralat Ayunda.

Altar tertawa pelan, sedang Allea hanya tersenyum.

“Apa memang aku terlihat begitu berubah?”

“Tentu saja, kau berbeda sekali dengan yang dulu.”

“Begitukah…?”

Ayunda mengangguk, “dulu kamu kurus banget kaya anak busung lapar, tapi sekarang, woow … ganteng banget.”

Altar kembali tertawa mendengar ucapan polos Ayunda yang blak-blakkan.

“Aku tidak menyangka sampai segitunya aku dulu.”

Mereka tertawa lepas mengingat masa lalu mereka.

“Kenapa kalian ada di luar? kenapa tidak masuk?” Ayunda kembali bertanya dengan nada heran.

“Altar hanya mengantarku saja, Nda. sekarang juga mau pulang,” sergah Allea cepat.

Allea melirik ke arah Altar. Altar membalas lirikkan Allea dengan tatapan seolah enggan untuk pergi.

Andai boleh menawar sebenarnya Altar ingin lebih lama lagi, tapi ia mengerti waktu sudah cukup malam dan dirinya pun butuh istirahat. Sejak kepulangannya tadi ia sama sekali belum merehatkan tubuhnya.

“Sebaiknya, aku pulang dulu, hari sudah malam,” ucap Altar akhirnya.

“Kau tidak ingin masuk dulu Kapten?” tanya Ayunda.

“Besok saya kemari lagi untuk bertemu umi Rita.”

“Hm, ya sudah kalau begitu.”

“Baiklah, aku pergi, Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumssalam,” balas Allea dan Ayunda.

Allea mengantar kepergian sahabat masa kecilnya itu dengan tatapan mata yang masih menyimpan kerinduan yang mendalam.

“Eheemm ….”

Deheman Ayunda menarik kesadaran Allea dari dunianya.

****

“Dodo … bangun, Do.” Altar mengguncangkan tubuh Adiknya yang masih betah bergulung dalam selimut.

Aldo seakan tidak terusik dari tidurnya.

“Ayo anak malas bangun sudah siang.” Kembali Altar membangunkan Aldo dengan menarik selimutnya.

“Iihhkk … Kakak apaan sih? ganggu saja,” sentak Aldo menarik kembali selimut yang ditarik Kakaknya.

“Bangun Do banguuun … ayo ikut Kakak jalan-jalan.”

“Ngga mau! kakak sendiri saja, Aldo masih ngantuk.”

“Dasar pemalas. Ok, kamu boleh tidak ikut tapi nanti harus mau belajar ngaji sama kak Allea tanpa perlu melihat permainan di ponsel kak Allea,” canda Altar dengan menyematkan sedikit ancaman.

“Kok gitu sih Kakak!” protes Aldo, menyingkirkan selimut yang menutupi wajahnya.

“Tentu saja,” jawab Altar sambil bangkit dari tempat tidur Aldo.

“Tunggu Kak! Aldo ikut ….”

Altar tersenyum penuh kemenangan. Aldo bergegas ke kamar mandi.

“Kita mau kemana sih, Kak?” tanya Aldo mengikuti langkah Kakaknya dengan malas.

“Ke rumah panti hasuhan NURUL HIKMAH.”

“Mau ngapain kesana?”

“Supaya kamu bisa berbaur dengan anak-anak yang lain.”

“Aldo ga butuh teman, main di kamar sambil main playstation sudah cukup buat Aldo.”

“Itu salah Do, itu kurang bagus buat perkembangan kamu. Kalau kamu tidak ingin punya teman hidupmu akan kesepian, kita tidak bisa hidup sendiri, teman punya peran tersendiri. Suatu saat kamu akan butuh orang lain.” Altar menjelaskan dengan kata-kata yang mudah difahami Adiknya.

“Tapi Aldo punya Ayah sama Bunda juga Kakak, itu juga sudah cukup,” Kata Aldo kukuh dengan pendiriannya.

“Itu tidak cukup. Ayah sama Bunda tidak selamanya ada, begitu juga dengan Kakak, percayalah sama Kakak jika kau sudah memiliki teman hidupmu akan lebih seru.”

“Tapi kak …!”

“Ssstthh … kita sudah sampai, nanti saja Kakak jelaskan lagi.”

Sejenak Altar mengedarkan pandangannya ke setiap halaman Panti asuhan Nurul Hikmah, sepuluh tahun ia tidak melihat tempat ini, sedikitpun tak ada yang berubah.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here