Penantian di Ujung Senja #08

0
227
views

Pak Helmi membawa keponakkanya untuk masuk. Rendi sejenak mematung di tempat begitu melihat ada dua orang wanita yang belum dikenalnya.

“Om mereka siapa?” tanya Rendi, matanya memandang ke arah Umi Rita yang tersenyum ramah kepadanya. Lalu Rendi menatap ke arah Allea dengan raut wajah terpesona melihat ke ayuan wajah Allea.

“Ayo, duduk dulu Ren. Kenalkan ini Umi Rita dan ini putrinya Allea Fahriani Syahputri, guru ngajinya Aldo. Mereka tetangga di sini yang sudah kami anggap keluarga.”

Rendi manggut-manggut mendengar penjelasan Tantenya.

Rendi mengulurkan tangan mengajak berjabat ke arah Allea, namun gadis itu menangkupkan jari tangannya di depan dada, begitupun Umi Rita.

Pemuda tampan yang bernama Rendi itu menarik kembali tangannya, dengan rasa heran.
“Om ….”

Pak Helmi tertawa melihat tingkah bingung kepenokannya. “Begitulah sikap seorang muslim menyambut uluran jabat tangan yang bukan mahromnya, Ren,” jelas Pak Helmi.

“Ooh … maaf.” Rendi mengangguk malu.

Tiga jam sudah berlalu, mereka bersabar menunggu kedatangan Altar. Setelah puas bercerita Rendi mulai terlihat asyik bercanda dengan Aldo, sekali-kali mata Rendi mencuri pandang ke arah Allea.

Tak terasa dari kejauhan, sayup-sayup adzan dzuhur berkumandang. Umi Rita berpamit untuk kembali ke rumah panti karena harus mengurus anak-anak, begitu juga Allea ikut pamit, hendak melakukkan shalat dzuhur bersama Umi Rita dan yang lainnya.

Bu Hera dan Pak Helmi sempat mencegah Allea pulang, dan meminta melaksanakan shalat dzuhurnya di rumah mereka saja, tapi gadis itu menolak dengan alasan nanti sore akan kembali lagi.

“Ya sudah kalau begitu, jangan lupa ya nanti sore kemari lagi.”

“Insya Allah Tante.”

****

Tiga puluh menit setelah kepergian Umi Rita dan Allea. Bel rumah kembali berbunyi, Bu Hera mengurungkan niatnya yang hendak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

“Biar saya saja yang buka, Bi,” cegah Bu Hera sambil melangkah menyambangi pintu.

Bi Atin mengurungkan langkahnya yang hendak membuka pintu dan kembali ke dapur.

Begitu Bu Hera membuka pintu, matanya membelalak sempurna. Kali ini Bu Hera benar-benar tidak percaya, matanya mengerjap seakan ingin memastikan bahwa pemuda tampan dan gagah yang memakai baju loreng lengkap dengan topi baret hijau, serta tas ransel yang bergantung di punggungnya itu adalah yang selama ini ditunggunya.

“Assalamu’alaikum Bunda,” sapanya.

“Wa-Wa’alaikumssalam, Altar! Ya Allah, katakan pada Bunda, Nak, bahwa Bunda tidak bermimpi?”

“Ini benar nyata, Bun. Altar pulang,” ujarnya tersenyum simpul.

Tanpa menunggu aba-aba lagi Bu Hera memeluk putranya, mereka berdua menangis berpelukkan erat penuh kerinduan.

“Yaa Allah, terima kasih akhirnya putraku kembali,” ucap Bu Hera sambil berlinang air mata.

Dengan berurai air mata Bu Hera menangkup wajah putra tersayangnya.

“Bagaimana kabar bunda?”

“Alhamdulillah Nak, seperti yang kamu lihat, Bunda sangat bahagia kamu pulang. Bunda merasa baru bangun dari tidur panjang, Bunda merasa dapat kekuatan dengan kehadiranmu.” Bu Hera menciumi putranya penuh haru.

“Maafkan Altar Bun, sudah membuat Bunda cemas dan sakit.” kembali Altar memeluk dan mencium punggung tangan Bundanya.

“Tidak sayang, kau tidak perlu minta maaf, bunda cuma rindu kamu saja. Bunda sangat mengerti dengan keadaanmu apa lagi tugasmu, karena bunda tahu kau bukan milik Bunda sendiri tapi milik Negara juga.”

“Oh iya bun, ayah sama Aldo dimana? Altar rindu sama mereka.”

Bu Hera dengan antusias merangkul lengan Putranya untuk masuk dan mengajaknya untuk menemui Ayah serta Adiknya. Mereka sama-sama saling merindukan.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here