Penantian di Ujung Senja #07

0
197
views

Allea Fahriani Syahputri berusaha meyakinkan Aldo bahwa dirinya tidak berbohong, meski nyatanya memang iya.

“Kakak pembohong …” teriak Aldo keras.

Bu Herawati berjalan dengan cepat menghampiri suara teriakan yang ditimbulkan putranya, dan segera menyerobot masuk.

“Aldo, kenapa kamu berteriak seperti itu?”

“Ma-maaf Tante, Allea-”

“Kak Allea pembohong, Bunda,” seru Aldo dengan wajah marahnya.

“Aldo jangan bicara seperti itu sama Kak Al. Allea tolong maafkan Aldo ya!” kata Bu Hera merasa tidak enak dengan sikap putranya.

“Tidak apa-apa Tante. Tante, bisa Allea bicara sebentar.”

“Boleh Al, silahkan.”

Allea menjelaskan dengan suara pelan kepada Bu Hera kenapa Aldo meneriakinya pembohong. Bu Hera terlihat mangut-mangut sambil tersenyum.

“Aldo dengar Bunda, ya! Kak Allea tidak berbohong, tadi Kak Al terburu-buru datang kesini jadi ponselnya tertinggal.”

“Iya kah Bunda?” Aldo mulai melunakkan suaranya

“Iya sayang, besok Kak Allea bawakan, asalkan kamu mau belajar lagi sama Kak Allea, gimana setuju?”

Aldo mengangguk setuju, karena Bundanya ikut meyakinkan anak itupun percaya.

Diruang tamu Pak Helmi sedang membaca sebuah surat, senyum mengembang di bibirnya mengundang tanya di benak Bu Hera yang sedang berjalan ke arahnya bersama Allea.

“Ayah, kenapa senyum-senyum sendiri?”

“Ini Bun, coba baca surat ini,” ujar Pak Helmi menyodorkan selembar kertas yang segera disambut oleh Bu Hera dengan rasa penasaran.

“Surat dari siapa, Yah?”

“Tadi ada pengantar surat dari POS kesini,” jawab Pak Helmi.

Bu Hera segera membaca surat yang diterimanya dari suami dengan suara cukup keras.

*Assalamualaikum.

Apa kabarnya Bundaku, juga Ayah dan Adikku Dodo?
semoga kalian dalam keadaan baik-baik saja. Altar merindukan kalian semua.
Dan..
.
Altar ingin memberitahukan bahwa Altar juga baik-baik saja tak kurang satu apapun. Ini semua berkat Do’a kalian, Altar bisa melalui hari-hari Altar dengan baik disaat jauh dari kalian.
Dan dengan surat ini pula,
Altar ingin memberitahukan, bahwa Altar saat ini sedang dalam perjalanan pulang.
In Syaa Allah besok pagi Altar sampai di rumah.
Oh iya, Altar juga sangat merindukan senja dan
seseorang yang ingin Altar temui. Katakan padanya tunggu kepulanganku besok.

Wassalamu’alaikum.

ALTAREXA ALFIANSYAH PRAMESTI*

“Alhamdulillah Yaa Allah, akhirnya putraku akan segera pulang, setelah Lima tahun bertugas.”

Bu Hera tak mampu lagi membendung air mata bahagianya. Bu Hera memeluk Allea yang berdiri terpaku.

“Altar juga merindukanmu, sayang,”
ucap Bu Hera.

Allea hanya bisa mengangguk, hatinya bergejolak merasakan segala rasa yang sulit untuk diungkapkan. Tanpa sadar cairan bening meleleh di pipinya.

“Besok kamu kesini pagi ya sayang, kita sambut kepulangan Altar bersama-sama.”

“Insya Allah Tante,” jawab Allea sambil menyeka air matanya.

Allea pamit pulang dengan perasaan yang tak menentu. Gadis itu tak bisa mendeksprisikan perasaannya sendiri.

Bu Hera langsung menyuruh Bi Atin mempersiapkan penyambutan kepulangan putranya besok.

***

Pagi begitu cerah, secerah wajah dah hati orang-orang yang berada di dalam rumah keluarga Altar. Mereka akan menyambut kepulangan Sang buah hati setelah sekian tahun bertugas di medan latihan yang minim komunikasi.

Karena sebagai TENTARA dalam masa tugas atau latihannya tidak diperbolehkan membawa ponsel. Sekalinya membawa ponsel bilamana dibawa di daerah latihan yakni daerah hutan belantara, sangat sulit mendapatkan sinyal.

Allea dan Umi Rita kini sedang berada di rumah besar Bu Hera untuk ikut menyambut kedatangan sang Kapten Altar.

Suara bel rumah berbunyi, sontak semua yang berada di dalam rumah memalingkan wajahnya ke arah pintu.

Tanpa menunggu lebih lama Bu Hera berlari ke arah pintu dengan raut wajah sedikit menegang. Begitu pintu dibuka seorang pemuda gagah dan tampan menggunakan pakaian loreng, lengkap dengan tas ransel besar di pundak menyapa si pembuka pintu, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumssalam, apa kabarmu, Nak?” Bu Hera memeluk erat pemuda gagah itu dengan mata berkaca-kaca.

“Alhamdulillah Rendi baik, Tante. Om dan Tante apa kabar?”
Pemuda yang bernama Rendi balik bertanya

Dengan sigap pemuda itu memeluk Pak Helmi yang berdiri di samping istrinya.

“Alhamdulillah Om dan Tante baik juga, kamu semakin gagah saja, Ren?”

“Tentu Om, selama di medan latihanlah yang membuat badan Rendi seperti ini.”

Pak Helmi terkekeh sambil menepuk-nepuk bahu keponakannya penuh rasa bangga.

Bu Hera celingak celinguk seakan mencari seseorang. “Rendi, dimana Altar?”

“Astaghfirullah, Rendi hampir lupa Tante, Altar tadi disuruh mampir dulu ke rumah Sersan Handoyo, mungkin agak siangan dia kesini.”

“Yaa Allah Bunda sudah rindu sekali padamu, Nak,” gumam Bu Hera menarik nafas kecewa.

“Ayo masuklah Ren! istirahat di dalam sambil menunggu Altar,” ajak Pak Helmi membawa keponakannya untuk masuk.

Allea yang sedari tadi menunggu dengan debaran hati yang sulit dikendalikan, kembali harus menelan kecewanya, saat mengetahui yang datang bukanlah sahabat kecilnya tapi pemuda yang tak dikenalnya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here