Pemuja Setan #05

0
137
views

Kekayaan yang kudapat tidak membuatku bahagia. Aku malah merasakan ketakutan yang luar biasa. Belum lagi, aku dihantui rasa bersalah atas kematian Bu Nani dan Pak Sardi. Apakah harus ada yang ditumbalkan lagi? Kalau pemujaan ini terus berlangsung, akan banyak memakan korban. Dan bisa-bisa istriku pun turut menjadi tumbalnya.

Pikiranku kacau balau, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Sawah terbengkalai, hilang sudah semangatku.
“Mas, kenapa? Apa ada masalah di sawahmu?” tanya Sri.
Aku hanya menggeleng pelan.
“Lalu, kenapa Mas seperti ini? Aku perhatiin, Mas tidak bersemangat. Mas juga sekarang sudah jarang berkumpul dengan para tetangga? Ayolah Mas, ceritakan padaku!”
Kulihat raut sendu di wajah Sri, kurasa dia ikut larut dalam kegundahanku. Padahal dia tidak tahu apa-apa tentang pemujaan setan ini.

Jika aku menceritakan semuanya kepada Sri, mungkin dia akan marah besar. Namun, rasanya aku tak mampu memikul beban ini sendirian. Kalau aku menceritakan yang sesungguhnya, mungkin Sri bisa membantuku untuk lepas dari pemujaan setan ini.

“Sri … ada hal besar yang tidak kamu ketahui?” ujarku ragu.
“Hal besar apa, Mas?” Sri mulai penasaran.
“Kamu janji, untuk tidak marah setelah mengetahui semuanya?” tanyaku.
“Apa, Mas? Jangan buat penasaran!”
“Janji, jangan marah?”
“Ya, apa? Aku belum tau apa masalahnya! Apa kamu punya perempuan lain? Kalau iya, aku jelas marah!” teriak Sri.
“Bukan, tidak ada hubungannya dengan perempuan lain. Aku sangat menyayangimu, Sri.” Kucoba untuk menenangkan Sri.
“Lalu apa, Mas?” Sri mulai melunak.

Kepalaku tertunduk, aku bingung dari mana memulai untuk menceritakan semuanya.

“Mas … malah bengong.” Sri mengejutkanku.
“Mas sudah memilih jalan yang salah, Sri.”
“Jalan yang salah? Maksud Mas apa?” Sri memasang wajah bingungnya.
“Mas … e-e-Mas … Mas sudah mengikuti aliran sesat. Mas, pemuja setan.” Kutundukkan kepalaku, tak sanggup rasanya kumenatap Sri, kuyakin Sri kini terkejut mendengar pengakuanku.

“Apa? Pemuja setan? Kenapa, Mas lakukan itu?” tanya Sri dengan suara yang melengking.
Tubuhku lemas, lidahku kelu. Rasanya aku tak sanggup untuk menjawab pertanyaan Sri. Jangan untuk menjawabnya, menatap saja aku tak sanggup. Belum lagi mengenai kematian Bu Nani dan Pak Sardi terungkap akibat ulahku.

“Mas … jawab!” bentak Sri.
“Maafkan, Mas. Mas khilaf, Mas bosan hidup miskin, dihina orang. Belum lagi kamu yang dikucilkan karena saat itu belum juga dikarunia anak.” Kujawab pertanyaan Sri tanpa menatap matanya.

“Jadi, kekayaan ini adalah hasil dari pemujaan setan?” tanya Sri marah.
“Iya, semua dari pemujaan setan yang Mas jalani.”
“Lalu, apa lagi?” cerca Sri.
Yang kali ini, aku benar-benar tak sanggup untuk mengakuinya. Aku takut dia akan makan besar, sebab Ningrum juga ada karena bantuan setan yang bersemayam di tubuhku.

“Kamu, jangan diam saja!” Sri kembali membentakku. Aku terima jika Sri marah besar padaku, aku memang pantas mendapatkannya.

“Ningrum, Sri.” Kugenggam tangan Sri, berharap kemarahannya bisa teredam.
“Apa? Ningrum? Maksud Mas apa?” Mata Sri melotot, bola matanya seperti hendak keluar saja.
“Kamu yang sabar. Ningrum adalah titisan setan yang ada di dalam tubuh Mas, Sri.” Kugenggam erat tangan Sri, tapi ia melepaskannya.

“Tega kamu, Mas. Aku tidak pernah malu hidup miskin. Aku juga tidak perduli dihina atau dikucilkan oleh siapa pun. Aku juga tidak pernah menuntut kemewahan kepada Mas. Lalu, untuk apa semua ini? Mas tega membuatku mengandung anak yang bukan keturunan manusia seperti kita. Dia itu titisan setan. Mas menjadikanku sarana untuk setan itu menitipkan penerusmu. Mas, jahat!” Bulir air mata Sri mulai membasahi pipinya. Terlihat sekali dia sangat terpukul dengan semua ini. Terlebih lagi mengenai Ningrum.

“Maafkan Mas, Sri. Mas dibutakan rasa dendam kepada mereka yang selalu menghina kita.” Pengakuan penuh penyesalan, menyesal mengikuti aliran sesat.
Sri terus menangis, dia tak lagi segarang tadi. Aku terus meminta maaf kepadanya.
“Bu Nani dan Pak Sardi adalah tumbal Mas?” tanya Sri disela tangisnya.

Aku hanya tertunduk tak menjawab pertanyaannya, Sri pun sudah paham akan kebisuanku.

Tak lama kemudian, tangisan Ningrum terdengar sangat kuat. Tak seperti tangisan bayi-bayi pada umumnya.
Sri dari tadi menangis tiba-tiba terdiam, kami saling berpandangan. Sri memegang erat tanganku, Sri sangat ketakutan. Tangisan itu terdengar mengerikan, aku pun merasakan apa yang dirasakan oleh Sri. Takut.

Tangisan itu semakin kuat, semakin membuat bulu kuduk merinding. Aku dan Sri tak berani melihat apa yang terjadi pada Ningrum.
Terdengar juga seperti ada yang menggoyang-goyangkan tempat tidur. Karena penasaran dengan yang terjadi, kuberanikan diri untuk melihat ke dalam kamar. Perlahan kudekati pintu kamar, kubuka pintunya dan alangkah terkejutnya kami berdua. Ningrum berada di pangkuan sosok seram bermata merah. Pantas saja dia menangis histeris, wajah makhluk itu sangat mengerikan. Mata merah, wajah nyaris hancur, mengeluarkan cairan darah dan nanah, rambut panjang yang acak-acakkan.

Sri terperanjat, berlindung di belakangku. Tubuhku gemetaran, tiba-tiba saja ada yang mendesak keluar dari tubuhku. Sakit seluruh persendianku, tubuhku mengejang seiring sesuatu yang hendak keluar dari dalamnya.

Sri yang memegang tubuhku terpental, kulitku terasa panas, memerah, seperti api yang membara.
Sri berteriak meminta pertolongan, aku masih bisa melihat apa yang terjadi walaupun aku dalam keadaan seperti orang kerasukkan.

**°**

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Terlihat Mak Jainab bersama seseorang lelaki tua berpakaian putih dan bersorban.
“Mak, tolong Mas Yono.” Sri memohon pertolongan kepada Mak Jainab.
“Iya, Sri. Kamu tenang. Mak kemari memang ingin melepaskan suamimu dari jerat setan yang ia puja,” ujar Mak Jainab.

“Ustadz, bisakah anda menolongnya?” tanya Mak Jainab sambil menunjuk ke arahku.
“Insya Allah, atas izin Allah, saya akan menolongnya.” Ustadz itu mulai mengeluarkan tasbihnya.

Lantunan ayat suci, menggema di rumah ini. Membuatku semakin kepanasan, semakin kesakitan. Ada yang mendesak ingin keluar dari tubuhku. Tangis Ningrum pun tak dapat dibendung lagi. Mengundang para tetangga menyaksikan apa yang tengah terjadi. Tak ada yang berani menenangkan Ningrum, sebab Ningrum berada di dalam pangkuan makhluk menyeramkan.

Semakin ustadz itu membacakan ayat-ayat suci, semakin kencang pula tangis Ningrum, dan semakin kuat dorongan sesuatu yang akan keluar dari dalam tubuhku. Hingga akhirnya, ustadz itu melemparkan tasbihnya ke arahku. Aku menjerit kesakitan, ada bayangan hitam keluar dari tubuhku. Tubuhku tiba-tiba lemas tak berdaya. Suasana hening, tangis Ningrum pun tak terdengar lagi. Makhluk menyeramkan itu tak terlihat lagi, begitu juga dengan Ningrum.

“Ustadz … Ningrum?” tanya Sri yang terkejut melihat Ningrum yang menghilang.

Ustadz itu tak langsung menjawab pertanyaan Sri, dia membantuku untuk berdiri dan merebahkan tubuhku di sofa.
Tubuhku terasa sakit sekali, persendian terasa nyeri.

“Dia bukan anak kalian, dia adalah titisan setan dan akan kembali ke asalnya.” Ucapan ustadz itu mengejutkan seluruh warga yang menyaksikan kejadian ini.
Sri kembali menangis, dia sudah terlanjur sayang kepada Ningrum. Dia berpikir Ningrum adalah anaknya, sehingga dia terpukul ketika tahu bahwa Ningrum bukan manusia biasa.

“Bagaimana dengan Yono?” tanya Mak Jainab.
“Dia sudah terbebas dari persekutuannya dengan setan.”
“Alhamdulillah.” Terdengar Mak Jainab dan juga beberapa warga yang mengucap syukur.
Sesaat aku bahagia bisa terlepas dari jeratan setan itu. Namun, tak lama kemudian di tengah-tengah keramaian warga, ada penampakkan arwah Bu Nani dan Pak Sardi. Mereka menatap marah kepadaku. Wajah pucat mereka, dengan mata merah membuat kesan angker jika melihat mereka.

Kupikir semua sudah berakhir, tapi tidak. Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi, pasti itu tangisan Ningrum. Semua orang yang ada di sini merasa ketakutan. Tangisan itu menyeramkan, arwah Bu Nani dan Pak Sardi sudah berada di dekatku. Aku yakin, mereka meminta pertanggung jawabanku atas kematian mereka.
Ya, aku harus mengaku di depan seluruh warga atas meninggalnya mereka berdua, aku harus menerima hukumannya.

“Saya mau mengakui bahwa, kematian Bu Nani dan Pak Sardi adalah ulah saya. Saya siap menerima apa saja hukumannya,” pengakuanku, seiring suara tangisan bayi yang entah dari mana asalnya. Sang Ustadz terus melantunkan ayat-ayat suci, hingga akhirnya suara tangisan itu hilang dengan sendirinya.

**°**

Setelah kejadian hari itu, mengantarkanku ke balik jeruji besi. Ini adalah hukuman bagiku, aku ikhlas menjalaninya.
Hari-hariku terus dihantui oleh tangisan bayi.

Ilmu hitam yang aku jalani, membuat jiwaku terganggu. Aku seperti orang gila yang melihat apa yang tak terlihat oleh orang lain.
Sungguh kumenyesal, kemiskinan membutakan mata hatiku, merobohkan imanku. Semoga disisa umurku ini, aku bisa memperbaiki kesalahanku.
Sri selalu berada di sisiku, walaupun dalam keadaan kami terpisah oleh jeruji besi.

-TAMAT-


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here