Pemuja Setan #04

0
185
views

Sejak aku menemui Mbah Prapto, kehidupanku berubah drastis. Pelanggan bakso semakin bertambah, bahkan permintaan untuk acara pesta dan acara lainnya juga aku terima. Tibalah saatnya malam jumat kliwon, aku harus melakukan ritual mandi sebelum bersetubuh dengan istriku. Meneteskan air dari botol ke air mandiku, keluar aroma menyegat yang memenuhi rongga hidungku. Setelah mandi, kurasakan perasaan yang tak biasa. Rasa ingin bercumbu terasa semakin kuat, ini bukan aku yang sebenarnya. Sri yang dari tadi sudah tertidur, terkejut dengan kedatanganku yang memang secara tiba-tiba.

**°**

Saat paginya kurasakan sakit diseluruh persendian, seperti sudah mengangkat beban berat. Di tubuh Sri juga kutemukan lebam-lebam, apa yang sudah terjadi tadi malam? Aku tak bisa mengingat apa yang sudah terjadi.

Sri merintih kesakitan, tubuhnya sulit sekali untuk digerakkan.
“Sudahlah, Sri. Kamu istirahat saja,” ujarku sambil berdiri hendak keluar kamar
“Hmm ….” Bahkan untuk berbicara saja Sri tak mampu.

**°**

Tak lama kemudian, Sri mengabarkan kalau dia tengah mengandung. Kebahagiaan yang bertubi-tubi kuterima, aku teringat akan Mbah Prapto. Akan kutemui dia esok hari.

Keesokan harinya, aku sudah tiba di rumah Mbah Prapto. Aku hendak membayar jasanya, dia sudah memenuhi keinginanku. Kuberikkan sejumlah uang untuknya, akan tetapi dia bukan hanya mengharap dibayar dengan uang, namun juga dengan tumbal. Aku terkejut, merasa sudah terjebak. Aku sudah menjadi pemuja setan, sebab itulah aku harus mempersembahkan tumbal untuknya.

“Urusan kita belum selesai, kau harus memberikan tumbal!” ujar Mbah Prapto.
“Tu-tumbal?” tanyaku terbata.
“Ya … tumbal!” Kembali Mbah Prapto menegaskan ucapannya.
“Jika anakmu terlahir sebagai laki-laki, dia akan melanjutkan pemujaanmu, dan bila anakmu terlahir perempuan, maka dia akan menjadi tempat bersemayamnya para jiwa-jiwa manusia yang menjadi tumbalmu!”

Aku sangat terkejut, haruskah anakku mengikuti jejakku sebagai pemuja setan?
“Kau jangan lupa, hartamu bahkan keturunan yang ada di rahim istrimu adalah bagian pertolongan setan yang bersemayam di tubuhmu, saat ini!” Ucapan Mbah Prapto menyadarkanku dari lamunan. Aku benar-benar terjebak di lingkaran setan.

“Selama kehamilan istrimu, kau harus mempersembahkan sesajen untuk setan yang ada di tubuhmu. Kau hanya perlu mempersiapkan darah ayam kampung, kembang tujuh rupa, dan juga kemenyan. Letakkan semua benda itu di sebuah kamar khusus,” lanjut Mbah Prapto.
Aku sedikit merasa lega, karena sesajennya tak cukup sulit. Aku masih bisa mempersiapkannya.
“Baik, Mbah.” Kuanggukkan kepalaku, tanda mengerti dengan perintahnya.
Aku pun pulang ke rumah.

Kehamilan Sri berbeda dengan kehamilan wanita pada umumnya. Perutnya membuncit lebih cepat, sedangkan umur kehamilannya masih sangat muda. Para tetangga beranggapan Sri mengandung anak kembar. Namun, aku yakin ini adalah campur tangan setan yang kupuja. Selagi Sri baik-baik saja, aku pun tak perlu merasa khawatir.
Sri pun merasa bobot tubuhnya semakin besar, dikehamilannya nafsu makan Sri bertambah berkali-kali lipat. Mungkin, anak titisan setan itu ikut memakan apa yang Sri makan. Entahlah ….

**°**

Terdengar keributan dari arah luar, aku segera keluar. Ternyata warga sudah berkumpul, aku pun ikut bergabung dengan mereka. Mencari tahu apa yang telah terjadi.
“Ulah siapa ini? Kenapa kejadiannya sama dengan yang dialami Bu Nani?” teriak salah seorang warga. Tentu saja aku sudah dapat menerka, ke mana arah cerita mereka.
Para warga mengemukakan pendapatnya masing-masing, yang membuat suasana jadi riuh.

“Sabar, mohon semua bersabar. Kita akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kampung kita ini?” ujar Pak Rt menenangkan warganya.
“Saya takut, akan ada korban selanjutnya Pak Rt,” ucap seorang warga.
“Iya … betul itu ….” sahut warga lainnya.
Aku memilih untuk diam, ini semua adalah ulahku.
“Sudah-sudah, masalah ini nanti kita bahas. Yang jelas sekarang, kita urus pemakaman Pak Sardi,” ujar Pak Rt.

Aku memilih untuk tidak ikut, dengan alasan Ningrum tengah rewel dan mereka pun memahaminya.
“Mas, kenapa gak ikut?” tanya Sri saat aku baru saja masuk ke dalam rumah.
“Mas capek, Sri,” kataku.
“Kenapa ya Mas, akhir-akhir ini ada kejadian aneh di kampung kita?” tanya Sri.
“Entahlah, Sri,” jawabku singkat.
Sri pun mengerutkan dahinya, tanda kebingungan yang melanda.

**°**

Rasanya, aku ingin mengakhiri pemujaan ini. Aku tak tega harus mengorbankan nyawa-nyawa orang yang tak bersalah. Ya, walaupun Bu Nani dan Pak Sardi pantas menerimanya. Sebab mereka berdua yang kerap menghinaku. Aku memang pernah ingin membalas penghinaan mereka, tapi tidak dengan cara menghabisi nyawa mereka. Aku pun tak pernah menyangka kalau mereka tumbal pertamaku.

Aku tertidur dengan rasa tidak tenang, pikiranku selalu terusik rasa bersalah. Tiba-tiba, aku sudah berada di tempat yang sangat asing bagiku. Bola mataku berputar mengelilingi tempat di mana aku berdiri. ‘Dimana ini?’ tanyaku dalam hati.
Lalu, dari kejauhan terlihat asap putih pekat. Kuberpikir ada kehidupan di sana, kucoba untuk mendekatinya. Belum lagi sampai pada tujuanku, asap itu memudar. Muncul sosok menyeramkan, dengan mata merah, rambut panjang acak-acakkan, tubuh penuh bekas luka yang bernanah, kuku panjang yang berwarna hitam. Sosok itu menatapku lalu menyeringai dengan sinis. Seketika aku pergi menjauhinya, sepertinya aku tak dapat lolos dari makhluk menyeramkan itu. Rasanya aku sudah sangat jauh dari sosok itu, namun kenyataannya dia muncul lagi. Tepat di hadapanku, bahkan bukan satu, dua, tiga dan kini sosok itu semakin banyak.

Aku terkepung dengan segerombolan makhluk menyeramkan. Semua menatap dengan tatapan tajam, mata merah menambah kesan amarah yang membuncah. Semuanya makin mendekatiku, seakan mereka akan menerkamku, seperti mereka menghabisi nyawa Bu Nani dan Pak Sardi.

Namun, aku tak tinggal diam. Kucari sela-sela untuk bisa terbebas dari kepungan mereka. Bau amis menyengat membuatku kesulitan untuk mencari jalan keluar. Sesekali aku harus menahan napas agar tak terhirup aroma tak sedap itu. Aku seperti dikejar zombi, perlahan tapi pasti mereka hampir dekat denganku.
Jantungku berdegup kencang, napasku tersengal-sengal. Tak pernah kubayangkan akan mengalami hal aneh seperti ini. Mengapa mereka menyerangku, bukankah aku bagian dari mereka?

‘Bug ….’ Aku terjatuh, dan ini di kamarku. ‘Apakah aku tadi bermimpi?’ tanyaku dalam hati. Entahlah, tadi itu terasa sangat nyata. Syukurlah kalau ini hanya sebuah mimpi. Pasti ada alasan dari mimpiku ini, aku harus menemui Mbah Prapto.
Aku kembali tidur dengan tubuh yang basah oleh keringat. Mimpi itu benar-benar seperti kenyataan. Buktinya, jantungku benar-benar berdetak lebih kencang, dan napasku juga tidak teratur.

**°**

Esok harinya aku kembali menemui Mbah Prapto. Menanyakan arti mimpiku.
Sesampainya di sana, aku dikejutkan dengan suara dukun itu. Belum lagi aku masuk ke rumah itu, dia sudah langsung mengetahui kedatanganku.
“Berani-beraninya, kau punya niat untuk meninggalkan pemujaan ini!” Aku sontak terkejut mendengar ucapan Mbah Prapto. ‘Sial, aku benar-benar lupa. Mbah Prapto bisa membaca pikiran seseorang.’
“Aku bisa membaca pikiranmu. Kini kau menyesal mengikuti pemujaan ini? Bukankah, kau bahagia dengan apa yang kau peroleh saat ini. Harta, keturunan, dan juga membalaskan dendam kepada orang-orang yang menghinamu!” Kembali Mbah Prapto mengomel dari dalam gubuknya. Sedangkan aku masih terpaku di teras rumahnya.

“Kau tak bisa meninggalkan pemujaan ini begitu saja, Yono. Kau sudah abadi menjadi pemuja setan!” pekik Mbah Prapto.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, aku yang ingin menyudahi pemujaan, aku malah terjebak ke aliran sesat ini. Aku sudah abadi, bahkan jika aku mati, aku tetap menjadi bagian dari mereka.

Kuurungkan niat untuk menemui Mbah Prapto. Sebab aku sudah tahu jawaban atas mimpiku tadi malam.
“Pergilah! Jangan pernah ada niat di hatimu untuk meninggalkan pemujaan ini. Atau kau akan merasakan akibatnya!” ujar Mbah Prapto penuh amarah.

Kukendarai motorku melaju, meninggalkan jalan setapak yang telah membuatku terjerumus ke dalam ilmu sesat, ilmu hitam.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca sebelumnya

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here