Pemuja Setan #03

0
172
views

Seminggu setelah kepergian Bu Nani, sepertinya warga di sini tak lagi mempertanyakan tentang kematiannya. Mereka kembali sibuk dengan rutinitasnya masing-masing.
Begitu juga denganku, sibuk mengurus sawah yang baru saja kumiliki. Belum lama ini aku membeli sawah milik Pak Arya, tokoh masyarakat di kampungku.

“Wah … nak Yono sekarang sudah kaya. Sudah bisa beli sawah,” ujar Bu Susi.
“Enggak kok, Buk. Uang pembeli sawah ini adalah tabungan saya dan istri.”
“Ya sama aja toh, Yon. Karena kamu dan Sri rajin menabung makanya kamu bisa kaya dan beli sawah itu,” ujarnya lagi.

Kugarap sendiri sawah itu. Tidak luas, tapi tidak pula kecil. Berhubung putriku masih sangat kecil, sehingga Sri tidak bisa meninggalkannya sendiri di rumah, maka aku memilih untuk pulang ke rumah untuk makan siang. Sebenarnya, para petani lainnya mengajakku makan siang bersama di gubuk sederhana yang ada di sawah, namun kutolak.

“Yon, sini gabung. Makan siang bareng,” ajak mereka.
“Terima kasih, saya makan siang di rumah saja. Sri udah nungguin. Permisi.” Aku beralasan kalau Sri sudah menunggu di rumah.

Di perjalanan pulang ke rumah, aku melewati rumah Mak Jainab. Sejak kejadian itu, Mak Jainab jarang sekali kelihatan. Apa mungkin dia sakit? Aku teringat akan pesan Mbah Prapto, untuk melempar bungkusan yang berbalut kain kafan itu ke rumah orang yang pernah melihat wajah seram putriku. ‘Ah, aku tak tega melakukannya kepada Mak Jainab. Janda tua yang banyak menolong persalinan wanita-wanita di kampung ini,’ batinku.

Kulewati rumah yang tampak tak berpenghuni itu dan kembali melangkah pulang ke rumah. Saat tiba di rumah, putriku tengah menangis. Sri terlihat menimang-nimangnya, namun tangisnya tak kunjung berhenti. Kuambil alih tugasnya untuk menggendong Ningrum. Ya, sebuah nama telah melekat pada putriku.
Setelah kugendong, tangisan Ningrum berkurang dan lama kelamaan dia kembali tertidur.

“Kenapa, setiap aku yang mencoba mendiamkan Ningrum tak pernah berhasil. Kalau sudah Mas yang gendong, seketika dia diam dan tertidur?” tanya Sri heran.
“Sama saja, Sri. Mungkin Ningrum lebih nyaman digendong sama Mas.” jawabku.
Tentu saja Ningrum tak mau digendong oleh Sri, Sri hanya tempat Ningrum berkembang sembilan bulan di rahimnya. Karena Ningrum adalah titisan setan yang telah menggauli Sri melalui perantara, yaitu aku. Maka sudah pasti, Ningrum akan lebih nyaman bersamaku, sebab setan itu sudah bersemayam di tubuhku.

“Ya udah, aku siapin makan siangmu ya, Mas. Kalau Ningrum udah tidur pulas, letakkan saja dia di atas tempat tidurnya.” Sri pergi ke dapur meninggalkanku dan Ningrum.

**°**

“Mas, kejadian itu terulang lagi,” ujar Sri panik.
“Kejadian apa?” tanyaku.
“Kejadian wajah Ningrum berubah menjadi seram.” Aku terkejut mendengar ucapan Sri.
“Si-apa-siapa yang lihat?” tanyaku sedikit terbata.
“Pak Sardi, Mas. Kenapa mereka selalu bilang begitu, Mas? Wajah Ningrum nggak seram, tapi kenapa mereka ….”
“Sudahlah, Sri. Mereka hanya berhalusinasi saja.” Kupotong omongan Sri.

Sore itu, kukendarai motorku dengan kecepatan sedang. Kutenteng sebuah plastik hitam, tentunya itu adalah bungkusan berbalut kain kafan. Sebab, Ningrum sudah harus diberi tumbal.
Rumah padat penduduk membuatku sedikit kesulitan untuk melempar bungkusan itu. Takut ada yang lihat dan curiga kepadaku. Dengan mengamati situasi dan kondisi akhirnya benda berbalut kain kafan itu sudah berada di sekitar rumah Pak Sardi. Aku pulang dan memantau dari rumah.

“Dari mana, Mas?” tanya Sri.
“Dari warung kopi,” jawabku.
“Oh ….”
“Ningrum, mana?” tanyaku.
“Tuh, Ningrum udah pinter senyum-senyum.” Sambil menunjukkan Ningrum yang lagi berbaring di tempat tidur.
“Ya udah, kamu temenin sana. Nanti dia nangis lagi,” perintahku.
“Iya, Mas.” Sri pun masuk ke kamar.
Lalu, aku melanjutkan aktifitas di kamar belakang. Wadah kecil berisi air dan bungkusan berbalut kain merah juga sudah berada di dalamnya.

Perlahan tapi pasti, rumah Pak Sardi mulai terlihat di pantulan air tersebut.
Benda itu mulai bergerak-gerak dan mengeluarkan asap pekat. Suasananya sudah mulai gelap, pertanda malam akan datang. Muncul sesosok makhluk menyeramkan, menembus dinding rumah Pak Sardi. Sosok itu terus mencari keberadaan Pak Sardi, lalu sosok itu berhenti di depan sebuah kamar. Menghilang dan kini dia sudah berada di dalamnya. Pak Sardi terlihat tengah berpakaian, kemungkinan ia baru selesai mandi. Ketika ia membalikkan tubuhnya, ia terkejut dan mencoba menghindari makhluk itu. Beberapa kali ia terjatuh dan bangkit lagi, saat ia meraih kenop pintu, ternyata pintu itu terkunci. Ia mencoba membukaanya dengan tangan yang gemetaran. Kunci itu terjatuh, susah payah Pak Sardi meraihnya dari lantai, sosok itu semakin mendekat. Saat kunci sudah di tangannya, tubuh Pak Sardi kaku, makhluk mengerikan itu sudah berada tepat di belakangnya. Tak menunggu lama, sosok itu mendekatkan gigi taringnya ke leher Pak Sardi. Darah segar mengucur dan mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya ambruk bersama genangan cairan merah berbau amis itu.
Sosok itu hilang dan aku kembali tak sadarkan diri. Saat siuman, bungkusan kain kafan itu sudah berada di sini.

Bau tubuhku sangat amis, terdengar Ningrum tengah menangis. Dari kejauhan kulihat ada bayangan putih yang kembali masuk ke tubuh anakku. Seketika anakku yang tadinya menangis langsung diam.
‘Lebih baik aku mandi saja,’ ucapku dalam hati.

Setelah mandi, aku kembali ke kamar menemui Sri dan Ningrum. Ningrum tampak lebih tenang dari biasanya, sehingga Sri bisa lebih santai.
“Mas, tau gak kabar Mak Jainab?”
“Enggak, memangnya kenapa dengan Mak Jainab?” tanyaku heran. Sebab memang semenjak kejadian itu, Mak Jainab suka mengurung diri.

“Kata tetangga di sini, dia seperti orang yang sedang ketakutan. Seperti ada yang mengganggu atau mengejar dia. Padahal tidak ada siapa-siapa.” Sri bercerita dengan seriusnya.
Apa mungkin, ini ulah Mbah Prapto? Soalnya dukun itu pernah bilang, siapa pun yang melihat rupa seram Ningrum berarti dia ancaman bagiku. Sedangkan, aku tidak tega menghabisi nyawanya.

“Terus, sekarang Mak Jainab di mana?” tanyaku.
“Kemarin, anaknya yang tinggal di kota datang untuk menjemput Mak Jainab. Kemungkinan, Mak Jainab masih berada di rumah anaknya.”
“Oh ….”

Syukurlah jika Mak Jainab menjauhi kampung ini, setidaknya aku tak perlu menumbalkan dia. Namun, tak ada yang tak mungkin bagi Mbah Prapto. Bisa saja dia melakukannya dari kejauhan.

**°**

Sebenarnya, aku tak pernah mau berurusan dengan yang namanya dukun, ritual dan lain-lain yang berbau mistis. Kemiskinan ini sungguh menjatuhkan martabatku. Semua memandang hina kepadaku dan istriku.
Dulunya, aku hanya penjual bakso keliling. Setiap hari, mulai dari sore hingga malam hari mengelilingi kampung ini. Penghasilanku jauh dari kata cukup, kadang-kadang jangankan untung, modalnya tidak kembali. Ditambah lagi, istriku yang terus dikucilkan karena belum hamil juga.
Hingga suatu ketika, aku bertemu dengan temanku sesama pedagang bakso, dia menyarankan agar aku menemui Mbah Prapto untuk merubah nasibku. Awalnya aku tak yakin semua itu akan berhasil, namun keinginanku untuk membalas penghinaan mereka lebih kuat dari rasa tak yakinku.

“Bagaimana dengan bayarannya, Sep?” tanyaku kepada Asep.
“Kamu tenang aja, dia meminta bayaran setelah semua yang kamu inginkan sudah didapatkan.”
“Baiklah, Sep. Aku akan segera menemui Mbah Prapto,” ujarku yakin.

**°**

Aku mendatangi Mbah Prapto yang tengah komat-kamit sambil membakar kemenyan. Tanpa basa-basi, dia langsung tau maksud hatiku. Sehingga aku tak perlu berlama-lama ada di gubuknya itu.

Mbah Prapto membaca ajian-ajian yang aku sendiri tak mengerti apa isinya. Dengan semangat membara Mbah Prapto menempelkan telapak tangannya ke punggungku. Ya, posisiku tadi membelakanginya. Serasa ada yang masuk ke dalam tubuhku, sakit sekali rasanya. Seluruh persendianku terasa nyeri, tubuhku tiba-tiba merasakan panas yang luar biasa. Seperti ada api yang tengah membara di dalamnya.

Mbah Prapto berhenti membaca mantranya dan memintaku untuk berbalik.
“Dia kini sudah berada di tubuhmu. Dia akan selalu memudahkan urusanmu,” ujar Mbah Prapto. Entah dia siapa yang dukun itu maksud, yang pasti aku kini sudah menjadi pemuja setan.

“Ingat! Kau harus bersetubuh dengan istrimu di malam jumat kliwon. Namun, sebelum itu kau harus melakukan sebuah ritual sebelum persetubuhan itu. Kau harus mandi dengan air ini. Kau campur beberapa tetes air di botol ini ke dalam air mandimu. Lalu, kau siram merata ke seluruh tubuhmu. Sekali lagi kau harus ingat, malam jumat kliwon!”

Aku mengangguk pertanda mengerti dengan apa yang dukun itu perintahkan. Setelah kuterima botol kecil yang berisi air yang aromanya sangat menyengat, aku permisi untuk pulang.

“Baiklah, Mbah. Saya permisi pulang dulu. Saya akan kembali setelah semua yang saya inginkan sudah saya dapatkan.”
“Hmmm ….” Hanya itu jawaban dari Mbah Prapto.

Aku pulang dengan perasaan bahagia, apa yang aku inginkan akan segera aku dapatkan. Aku menyeringai sinis.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca sebelumnya

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here