Pembunuh itu Bernama Baby Blues

0
247
views

“Habis lahiran gak boleh mandi!”
“Habis lahiran gak boleh makan buah, nanti rahimnya dingin!”
“Habis lahiran gak boleh makan nasi disiram kuah!”
“Habis lahiran gak boleh keramas!”
“Habis lahiran gak boleh sisiran!”
“Habis lahiran gak boleh makan yang amis-amis!”
“Habis lahiran gak boleh tidur siang, nanti darah putihnya naik!”
“Habis lahiran gak boleh nekuk kaki!”
“Habis lahiran gak boleh makan malam!”

Serentetan perintah itu terus-menerus kudengar seselesainya aku melahirkan. Satu dua hari sampai satu minggu lamanya, aku merasa okelah, semua demi kebaikanku. Lama kelamaan, aturan-aturan tak beralasan itu membuatku muak.

Sebagai ibu muda yang baru memiliki anak, aku masih belum bisa beradaptasi dengan keberadaan bayi yang harus kuurus. Aku tinggal dengan mertuaku yang selalu bilang ini dan itu, dengan segala larangan dan aturannya. Orangtuaku sudah meninggal, jadi aku tak bisa memilih untuk diurus ibu kandungku setelah melahirkan.

Kata-kata larangan bisa sampai sepuluh kali kudengar dalam sehari. Dari mulai aturan makan sampai cara tidur, kasarnya dari buka mata sampai nutup mata semuanya dilarang.

Semua membuatku stres, ditambah dengan drama ASI yang tidak keluar sampai hari ketiga, akhirnya pada hari keempat, ASI ku keluar, dan pada minggu pertama kelenjar susu membengkak dan menyebabkanku meriang.

Aku sempat mengutuk kehamilanku sebelumnya, “tahu gini, gak usah punya anak!” aku membatin.

Merasa sakit, ditambah dengan larangan, menahan lapar dengan perut yang terisi seadanya karena menahan hasrat makan membuatku stres. Bayi yang terus menerus menangis membuat tingkat stresku melonjak ke level tertinggi.

Aku berteriak di kamar, membentak bayi Juna, bayi mungil yang baru saja ku lahirkan.
“DIAM! Kamu kira hanya kamu yang boleh menangis. Aku lelah, aku capek ngejagain kamu, ngurusin kamu siang-malam!”

Bukannya diam, tangisan Juna malah makin menjadi, aku gendong dia, kudekatkan wajahku ke arahnya.
“Diam, Juna. DIAM!”

Mungkin teriakanku terdengar sampai luar, Ibu mertuaku langsung masuk dan mengambil Juna dari gendonganku, menenangkannya. Seketika Juna diam.

“Riska, kamu ini kenapa? Anak nangis bukannya didiamin, malah dibentak-bentak? Dia masih kecil, belum juga sebulan umurnya, ibu macam apa kamu?” cerca Ibu mertuaku, kemudian membawa Juna ke kamarnya.

Aku duduk di kasur, menutup wajahku kemudian menangis sejadi-jadinya, entah kenapa rasanya aku merasa begitu frustasi saat ini. Dua jam kemudian, jam 5 sore, ibuku membawa Juna ke kamarku lagi.

“Riska, ini susuin dulu nih si Juna!” ucap Ibu mertuaku.
Aku histeris melihat Juna menangis, alih-alih menyusui Juna, aku malah berlari ke dalam lemari, menutup pintu dari dalam, menutup kedua telingaku, dan menangis.

“Gak, Buk. Aku gak mau anak itu!” teriakku dari dalam lemari.
“Riska, kamu ini kenapa? Juna nangis mau ASI, malah masuk dalam lemari pake nangis-nangis pula!” ujar Ibu mertuaku.

“Ada apa, Buk?” tanya Sony, suamiku.
“Ini loh, Nak. Istrimu ini, Juna mau ASI malah masuk ke dalam lemari terus nangis,” Ibu mengadu pada suamiku.

Seketika pintu lemari terbuka, Mas Sony menarik tanganku keluar dari lemari.
“Riska, kamu apa-apaan sih? Itu Juna nangis, kamu malah kayak gini, Ibu macam apa kamu? Aku capek pulang kerja malah lihat pemandangan seperti ini!” ucap suamiku dengan nada tinggi.
“Aku takut sama tangisan Juna, Mas,” jawabku sambil terisak.
“Loh, apa-apaan kamu ini, Juna kan lahir dari rahim kamu, masa takut sih, Dek. Bayi itu butuh ibunya, butuh dipeluk dan disusui, piye toh, kamu? Sini kupeluk dulu,” ucap Mas Juna.

Perlahan aku menjadi tenang, Juna sudah tertidur lagi di pelukan Ibu. Dengan perlahan kuambil dia dari pelukan ibu mertuaku. Drama hati itu berakhir, aku kembali menyusui Juna, menggendongnya dan mendekapnya lagi.

Sebulan berlalu, rasa stres kian melanda. Aku tak pernah bicara sepatah katapun lagi. Aku kapok, setiap kali aku curhat pada suamiku, dia tidak pernah memihakku.
“Mas, aku capek jagain Juna. Bisa gantian sebentar?” tanyaku.
“Aku pun capek kerja, kamu pegang Juna lah, itu kan tugas kamu, kan kamu ibunya,” jawab suamiku acuh tak acuh.

Belum selesai drama dengan Juna dan suamiku, kembali drama terjadi, ketika aku kembali mengerjakan pekerjaan rumah tangga, diiringi dengan tangisan Juna. Aku tetap diam dalam stresku. Entah mana yang harus kuurus lebih dulu, pekerjaan rumah tangga yang menumpuk dengan ocehan Ibu yang selalu mengatakan rumah berantakan, mempertanyakan aku ngapain aja sampai pekerjaan rumah terbengkalai, atau meredakan tangisan Juna yang selalu ingin berada di dekatku. Sedetik saja aku meninggalkannya, maka ia akan otomatis menangis.

Aku lelah, tak ada yang bisa ku ajak bicara, tak ada yang mengerti perasaan dan kelelahanku. Semua menghakimiku, semua menyalahkanku.

Puncaknya pada malam itu, aku bertengkar dengan Mas Sony. Pertengkaranku dengan Mas Sony diiringi dengan tangisan Juna yang kian menjadi. Lagi-lagi Ibu mertuaku menggendong Juna dan menenangkannya, hingga Juna tertidur di kamar beliau. Aku masuk ke dapur, menangis, aku lelah dengan semua ini.

Tiba-tiba terdengar bisikan di telinga kananku, “Riska, ambil pisau itu dan sayat pergelangan tanganmu, kau akan ikut aku dan meninggalkan segala kelelahanmu saat ini, mendapatkan ketenanganmu kembali sebelum ada bayi itu.”

“Riska, jangan nekad. Juna butuh kamu. Sembilan bulan dia ada dalam dirimu. Siapa lagi yang akan mengurusnya jika bukan kamu, Ibu kandungnya?” bisik suara di telinga kiriku.

Suara-suara itu terus menerus terulang dan bersahut-sahutan, membuatku hilang akal, akhirnya sisi iblis yang menang. Kuambil pisau dan menyayat kedua pergelangan tangan, darah mengalir dari sana, kemudian tertawa.
“Hahahaha, akhirnya aku bisa melampiaskan rasa sakitku. Puas kan kalian membuatku jadi begini? Selamat tinggal Juna, selamat tinggal Mas Sony, semoga kalian bahagia,” ucapku dengan senyuman.

By: G.V. Sella

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here