Pembalasan untuk Pelakor

0
83
views
Ulang tahun putraku yang ke lima belas tahun, dia meminta orangtuanya berkumpul. Orangtua kandungnya, yaitu aku dan mantan suamiku, orangtua sambungnya, yaitu pasangan baru kami masing-masing.
 
Aku yang menyembunyikan pernikahan baruku dari mantan suami, karena permintaan anakku sendiri yang bernama Fatih. Sebenarnya enggan menuruti kemauan anak semata wayangku untuk berkumpul dengan papah kandung Fatih saat hari ulang tahunnya. Tetapi, aku sudah pernah menghancurkan mimpinya memiliki orangtua kandung yang lengkap. Perceraian orangtuanya terjadi ketika dia masih berusia empat bulan. KDRT dan pengurasan materi yang aku tidak bisa tolerir kembali. Dan dia sudah menikah kembali, dua bulan setelah keluar dari rumah, padahal bercerai resmipun belum. Sedangkan aku? Butuh waktu lima tahun untuk siap menerima sosok pria baru. Dan itupun harus dengan persetujuan anakku.
 
Bahkan anakku sendiri yang meminta, jangan mengundang dan memberi tahu papahnya perihal pernikahan aku dengan pria berkewarganegaraan asing itu.
 
Alasan anakku “He doesn’t need to know. Who the hell he’s Mom? ” (Dia tidak perlu tahu, memangnya dia siapa?)
 
Hari pertemuan itu sore ini, anakku meminta makan malam bersama di Tony Romas restorant. Kami akan bersiap-siap yang pastinya menunggu James, daddy sambung Fatih.
 
“Dad! I miss you! ” panggilan Fatih putraku kepada papah sambungnya. Mereka berpelukkan dan pria itu mengacak-ngacak rambut Fatih. James sudah pulang!
 
Mereka melupakanku, menuju kolam renang dan bermain berdua disana. Terlihat Fatih begitu dekat dan menyayangi James, dan juga sebaliknya. Sosok Papah yang Fatih butuhkan dia dapatkan dari James. Karena Mas Faiz papah kandung Fatih hanya menjenguk Fatih sebulan sekali.
 
“Bersiaplah. ” ucapan lembut suamiku bernama James. Pria yang menikahiku ketika usia Fatih tujuh tahun dan mereka berdua langsung cocok. Memintaku bersiap-siap untuk makan malam bersama permintaan Fatih.
 
Fatih terlihat tampan, dia tinggi seperti papahnya, namun kulit putih, hidung, bibir dan mata semuanya aku! Menggunakan kaos putih polos dan jeans hitam, tidak lupa jaket parasut tipis bewarna senada dengan jeansnya. Tentu saja converse favoritnya.
 
James? Jangan ditanya, usianya yang sudah empat puluh dua tahun, tetapi masih terlihat segar, siapa mengira pria itu berusia empat puluh dua tahun. Jeans berwarna navy, kemeja berwarna senada dengan menggulung bagian lengannya. Brown eyes, hidung yang mancung dan sudah lah!
 
Aku sendiri? James memilihkan gamis syari berwarna senada dengan yang dia pakai. Navy. Berikut hijabnya, melihat diriku di cermin. Ya Tuhan, inikah aku?
 
Tinggi seratus enam puluh lima centi meter, dengan berat badan lima puluh lima kilo gram. Sebelum aku menikah dengan James, berat badanku ada di angka delapan puluh sembilan kilo, cibiran gendut, susah memiliki anak karena berat badan yang berlebih. Dan dulu mantan suami selalu berkata “kecilkan badan kamu, seperti dulu kamu masih gadis. Jangan gendut lah. “
 
“Jangan menangis, hari ini ulang tahun putra kita Fatih. “
 
“Baiklah! ” terukir senyum kepada pria yang benar-benar menerimaku apa adanya aku dulu, dan dia selalu mengatakan aku akan membuatmu baru lagi. Hidup sehat, olahraga, asupan gizi, yoga dan perawatan. Serta pendidikan yang tidak lupa tanggung jawabku kepada kau dan Fatih.
 
Dia membuktikannya. Mobil siap, James memilih menyupir sendiri tanpa supir. Dia sudah hafal jalanan Jakarta. Fatih, sibuk dengan buku bacaannya.
 
Tony Romas. Mantan suami dan istrinya sudah disana, beserta satu anak mereka. Anak bawaan istri barunya, mereka sudah menikah hampir lima belas tahun tetapi belum memiliki anak kandung.
 
Tanpa ragu James merangkul Fatih berjalan ke arah mereka dan aku mengikuti mereka.
 
Ya Fatih salim kepada Papah dan Ibu nya, dan bersalaman dengan kakak tirinya. Menatap James dengan penuh tanda tanya.
 
“Ini Daddy, Pah! Daddy ini Papah kandungku. “
 
Terlihat Mas Faiz masih terkejut, bahkan tawaran berjabat tangan dari James masih tidak di sambut.
 
“Pah! “
 
Akhirnya mereka berjabat tangan dan James mengulurkan tangannya kepada Ibu Fatih, dan layaknya orang berkenalan.
 
“Andin.” James memanggilku dan berjalan mendekat ke mereka. Yang aku lihat pertama kali adalah Amel, ibu sambung Fatih. James menyiapkan kursi untukku dan kami duduk bersama untuk pertama kalinya. Amel, wanita yang pernah menghinaku bahwa Faiz bosan denganku, dia memintaku berkaca diri, gendut, tua. Sedangkan dia? Walaupun sudah memiliki satu anak, tetapi tubuhnya masih langsing. Berbeda dengan aku. Memamerkan semua pemberian Mas Faiz, termasuk memasang kawat gigi sebagai salah satu perawatan agar Mas Faiz tidak melirik wanita lain.
 
Makan malam ini menurutku terlalu kaku, Faiz dan Amel terdiam. Selingan obrolan Fatih dengan Daddynya membuat Faiz geram, terlihat bagaimana raut wajah Faiz melihat Fatih dan James begitu dekat dan mereka mengobrol santai dengan bahasa inggris.
 
“Kau cantik Mamahnya Fatih. ” suara Amel terdengar.
 
“Terima kasih. “
 
“Berapa kali operasi? ” pertanyaan Amel membuat Fatih emosi, namun James meremas paha Fatih yang duduk disebelahnya, kode agar Fatih tenang.
 
“No, Mamah tidak pernah operasi.”
 
“Oh, gigimu terlihat sangat rapi. “
 
James meremas tanganku, sabar Andin, sabar. Faiz? Dia masih diam sama seperti dulu.
 
“Ya Bu, Mamah melakukan perawatan giginya.”
 
“Sama seperti Ibu dulu ya. ” dengan senyum menyindir.
 
“Tidak! Ibu membutuhkan empat tahun menggunakan kawat gigi seingat Fatih. Tetapi Mamah? Hanya satu tahun. Dan Mamah menggunakan invisalign, merk alat ortodonti lepasan buatan Amerika tempat Daddyku lahir. Dengan harga yang fantastis.”
 
“Ibu baru mendengarnya. “
 
“Yeah! ” Fatih menjawabnya dengan kesal.
 
“Pantas kamu sekarang berubah Andin. Jauh lebih cantik dari sebelumnya, dan menikah dengan pria asing yang kaya raya. “
 
Sudah muak rasanya!dulu Amel juga melakukan body shaming kepadaku, mengataiku gembrot, tua, dan tidak menarik!dan memilih diam, karena sebelum aku menikah dengan Faiz, Amel bukanlah rivalku, dia jauh dibawahku. Tetapi Faiz hanya tipe laki-laki yang banyak menuntut haknya tanpa menjalankan kewajibannya.
 
“Amel, bukan kaya yang menentukan istri itu cantik atau tidak. Tetapi menikah dengan pria yang tepat, sehingga aku seperti ini. Jika saja aku salah kembali memilih pasangan hidup, aku mungkin masih seperti dulu. Jadi semua tergantung suami yang kita pilih. ” melirik Faiz dan Amel, ya Amek sekarang dia masih langsing. Dan Faiz dengan perut buncitnya.
 
“Ok cukup, aku ingin berterima kasih kepada kalian sudah datang makan malam bersama di hari ulang tahunku. ” sela Fatih dengan kesal. Dia tahu betul Ibunya selalu membuat masalah, walau hanya bertemu dengan mereka sebulan sekali, Fatih selalu marah jika kembali dari rumah mereka. Fatih tidak suka Mah, mereka selalu membicarakan kejelekkan orang lain termasuk mamah. Padahal mamah tidak pernah sedikitpun membahas mereka. Fatih tidak suka. Ya itulah curhatan Fatih jika habis bertemu Papah dan Ibu sambungnya.
 
“Ah! Ini kado dari Papah dan Ibu. ” Faiz membuka suara, sebuah macbook yang sebenarnya Fatih sudah memilikinya.
 
“Terima kasih Pah.” dia tetap sopan kepada Faiz Papahnya.
 
Fatih melihat kepadaku dan James, hadiah?
Aku dan James tersenyum. “Show him. ” pinta James.
 
Memberikan amplop putih kepada Fatih, dan dia bingung. Membukanya dan dia melotot!
 
“Mah, Dad?! “
 
“Ya itu hadiah dari Mamah dan Daddy. Adik kembar!”
 
Aku hamil dan itu kembar. Faiz berdiri dan langsung pergi meninggalkan kami semua, disusul Amel. Kecuali Kakak tiri Fatih, dia bernama Aprilia.
 
Salim kepadaku dan James “Tante kau ternyata memiliki hati yang cantik. “
 
Aprilia menangis histeris “Ibu tidak mau memberiku adik, karena Papah Faiz akan meninggalkan Ibu, jika Ibu berbadan gendut. ” dan berlari meninggalkan kami.
 
Cantik? Hal terpenting itu hati. Dan tetap, memilih pasangan yang tepat membuat hati seorang wanita bahagia yang membuatnya menjadi wanita paling cantik di alam semesta. Cantik memang butuh biaya, tetapi pria yang tepat? Berapapun biayanya murah sekalipun dan membuat hati istri bahagia maka aura kecantikkanya akan keluar. Mau coba? Bawa sesekali istri kalian makan di luar, tidak perlu mahal. Atau bawakan hadiah sederhana seperti daster, ya itu membuat mereka bahagia. Jika hati sudah bahagia, itulah kecantikkan istri. Menurutku, bagaimana menurutmu?
 
Penulis by : Erliana Sunardi
 
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here