Pejuang Sayur

0
81
views

Pagi pukul 4.30, dikala semua mata masih terpejam dan terlelap, aku dengan mata yang masih sayup-sayup berusaha bangun dari tidurku. Meraih ikat rambut yang kulempar ke sembarang arah, lalu mengingkatnya bebas.

Berjalan ke dapur, lalu kubuka kulkas dan mulai mencari sayuran yang tersisa didalam sana. Satu ikat sawi hijau dan tahu tiga buah, aku rasa cukup untuk lauk sarapan pagi ini.

Hanya butuh waktu setengah jam, aku pun selesai memasaknya lengkap dengan tempe goreng yang hanya tinggal setengah papan.

Pukul lima shubuh, aku beranjak ke kamar mandi lalu berwudhu untuk menunaikan sholat shubuh. Selesai sholat, aku membangunkan anakku yang sulung dan suami untuk menunaikan sholat shubuh. Rutinitas yang bisa dibilang mungkin sama dengan keluarga-keluarga lainnya. Bangun, memasak serta mengantar anak sekolah juga aktivitas-aktivitas lainnya.

“Kak, ayo sarapan dulu,” perintahku pada si sulung yang tengah asik menonton tv sembari memakai seragam sekolahnya setelah mandi.

“Iya, Mah…” teriaknya.

“Mah, masak apa? Papah dah laper, nih!” seru sang suami yang mulai duduk di ruang makan.

“Cuma sawi sama tahu dan tempe goreng pah,” jawabku dengan menyodorkan piring yang sudah terisi nasi padanya.

“kayaknya enak nih, Mah,” pujinya.

“Cobain dulu, baru komentar.”

Si sulung pun membaur di meja makan, sedang si bungsu masih terlelap di kamar.

“Mah, hari ini bawa bekal, ya!” pinta si sulung yang mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.

“Iya, nanti mamah siapkan, Sayang.”

Mereka terlihat sangat menikmati masakanku hingga tak tersisa secuil pun di piring mereka. Bahagia, meski tak ada ucapan terimakasih dari mulut mereka, setidaknya piring yang bersih setelah selesai makan, itu sudah cukup membuat bibirku mengulum senyum.

“Jangan cape-cape, Mah. Kalau repot ya beli saja, makanannya. Tapi…masih enak masakan mamah, sih. Heeee….” celoteh sang suami setelah ia selesai makan lalu beranjak menuju wastafel.

Aku hanya memanyunkan bibir. Lelah, letih, namun terbayar lunas dengan melihat mereka yang sangat menikmati masakanku.

******

Selesai sarapan, pukul 6.30 aku pun bersiap mengantarkan si sulung ke sekolah. Tak lupa aku mencium tangan sang suami lalu diikuti si sulung. Beruntung suami berangkat kerja pukul delapan, setidaknya putra kami yang kedua masih bisa ia jaga sembari menungguku pulang.

Selesai mengantar anak sekolah, aku pun mampir di salah satu toko sayur langgananku. Dari tempat motorku terparkir, aku dibuat terpesona dan terharu dengan melihat pemandangan ibu-ibu yang tengah antre dan rela berjubal demi berbelanja sayur untuk memenuhi isi dapur mereka. Ada yang mengenakan daster dengan warna yang semakin memudar, wajah yang masih polos tanpa make up, ada pula yang dengan susah payah menggendong bayinya serta ada pula yang berbaju dinas lengkap dengan make up yang terpoles sempurna di wajah mereka.

Mereka dengan telaten memilih berbagai sayuran yang hendak mereka beli. Bahkan ada ibu ibu diluar sana yang membeli sayur dan lauk pauk yang sudah siap makan. Salut. Itu yang ada didalam pikiranku saat itu. Ntah apa yang ada didalam pikiran mereka saat pagi hari selain berbelanja sayur atau lauk pauk demi memenuhi kebutuhan makan keluarga mereka.

Rutinitas ini bisa saja membosankan untuk sebagian ibu-ibu yang sibuk bekerja di luar, namun sebaliknya aktivitas ini justru dianggap sebagai bentuk merefreshingkan diri bagi ibu-ibu yang hanya berdiam diri di rumah karena setelah itu tidak ada waktu untuk mereka bersua dengan dunia luar lagi.

Ya…
Aku menamai mereka sebagai “Pejuang Sayur”, selain sebagai bentuk tanggung jawab istri kepada suaminya dan ibu kepada anak-anaknya, yang terpenting adalah mereka hanya ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Memasak masakan yang lezat juga sehat untuk keluarganya tanpa kita tau jumlah uang belanja yang mereka dapat, masalah apa yang sudah membebani mereka, seberapa lelah tubuhnya dan sekantuk apa matanya saat memasak. Mereka hanya ingin satu, menjadi istri dan ibu yang terbaik di mata suami dan anak-anaknya.

Wahai suami atau calon suami juga anak-anak, taukah kalian, sensasi apa yang kita, para wanita atau ibu rasakan di pagi buta, saat mata masih kantuk, tubuh masih lelah dan pegal dan siang serta sore dengan telaten menyiapkan makanan untuk kalian demi membuat kalian nyaman setelah bangun tidur atau selesai berkativitas sudah tersedia masakan dengan aroma yang menggiurkan di meja makan?

Coba tanyakan pada istri atau ibumu? Lalu jangan lupa, ucapkanlah “terima kasih” pada mereka setelah menyantap makanan yang mereka hidangkan. Aku yakin mereka akan sangat bahagia melebihi dari apapun.

Tidak percaya? Silahkan dicoba dan lihatlah senyum dan binar di wajah ibu atau istri kalian.

Happy Morning….

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here