Our Secret #01

0
675
views

“Hai”

“Hello”

“Assalamualaikum”

Tiga pesan messenger masuk di ponsel Utami. Setelah dua pesan masuk dalam bahasa Inggris. Ketiga kalinya, orang di seberang mengucapkan salam. Tak ada photo profil di layar monitor. Sehingga Utami tak tahu seperti apa rupa lawan chattingnya.

Sebenarnya enggan membalas pesan orang asing. Keisengan mereka menjadi alasannya. Pengalaman mengajarkan jika pesan di balas, maka tak lama kemudian mereka akan menelpon.

Panggilan bertubi sudah pasti. Meski menolak berulang panggilan datang. Haruskah di jawab salamnya. Bukankah menjawab salam itu fardhu hukumnya. Gamang menghampiri hati.

“Waa’laikumus salam.”

Utami hanya menjawab di hati tanpa mengucapkan lisan atau membalas chat dengan tulisan.

“How are you ?”

“I’m muslim from Saudi Arabia”

“Where are you come from ?”

“Waa’laikumus salam, ” jawab Utami.

Selembar photo pria muda dengan senyum menawan terpampang di hadapannya. Tangannya memegang cangkir kopi. Tampan. Wajahnya khas wajah orang Asia timur. Tanpa jambang atau kumis. Sepertinya habis cukuran begitu klimis.

Sangat muda dan elok rupa. Cakep bener nih orang. Gumam hati Utami. Astaghfirullah. Utami istighfar di hati. Wajahnya serasa begitu familiar. Ada desir aneh menyelinap di hatinya. Ini kali pertama melihatnya. Tapi, mengapa rasanya wajah itu telah lama ada hadir dalam hidupnya.

Accept pertemanan tapi tak tahu rupa teman FBnya. Hanya sebuah tulisan hadir di profil orang ini. Biarlah hanya sekedar tambahan pengikut dari sekian kawan dalam list miliknya.

“You want coffe ?”

“No thanks”

Hari itu tiga belas Maret, hari pertama mereka chating di messenger.

Utami perempuan berusia empat puluh tahun. Sudah berkeluarga, memiliki dua orang anak. Anaknya yang pertama sudah beranjak dewasa kini sudah SMA. Anak kedua berusia lima tahun. Jarak kedua anaknya memang terpaut jauh.

Hasan, nama teman baru Utami di Facebook juga telah menikah. Memiliki dua orang anak juga. Usia Hasan baru tiga puluh tahun. Hasan menikah di usia belia. Anaknya kini berusia lima dan tiga tahun. Sepasang anak perempuan dan laki-laki. Cantik dan tampan mewakili paras ayah dan bundanya. Utami gemas melihat photo mereka. Hasan mengirim untuknya.

Setiap hari mereka chating bersama. Saling berbagi cerita keadaan negara masing-masing. Berlanjut dengan problematika rumah tangga menjadi bahasan menarik bagi topik pembicaraan. Kadang berbicara hal yang tak penting untuk menjadi tema ketika chating.

Witing tresno jalaran Soko kulino. Hadir cinta karena biasa. Itulah yang di rasakan Utami. Rasa yang di pendam sendiri. Kian membuncah di dada. Sedangkan Hasan sikapnya biasa saja. Betapa bodohnya mencintai orang lain yang bukan pasangannya. Mencintai orang yang tak menganggap dirinya ada.

Dasar pemahaman agama yang kuat, kemudian menyadarkan kekeliruan atas rasanya. Perang batin merasa salah chating dengan orang tanpa mahram, hingga jatuh hati dengan lawan.

Utami tahu bagaimana keluarga Hasan dari ceritanya. Juga tahu semua anggota keluarganya. Beberapa lembar photo Utami lihat dari kirimannya. Hasan juga demikian. Semua mereka katakan dengan terbuka tentang seluruh anggota keluarga.

Utami tak mengerti. Seorang adik baginya, bisa berubah menjadi cinta. Mengapa rasa cinta hadir tanpa pernah bisa di usir.

Utami tahu kekeliruannya. Harus mengakhiri ini semua. Sebelum rasa itu berkembang kian dalam. Aku harus pergi. Inilah yang terbaik. Sakit hati ketika pesannya jangankan di balas di bacapun enggak. Padahal di lihatnya Hasan lama online. Ah tersiksa dengan memendam rasa sendiri.

“I’m must go now. I ‘m think bad always chat with you every day. I’m muslimah but chat with you without mahram. That bad. So must stop that. You are not my family. Not my mahram.But we chat every day. Saya memakai hijab tapi tak pandai menjaga diri. Sorry I’m must go. Thank for all.”

Dengan menangis Utami menulis kalimat itu. Utami memencet kata blokir dari pertemanan Mereka di Facebook. Berharap sudah selesai tak lagi bisa berkomunikasi.

Selamat tinggal Hasan. Aku harus pergi. Maaf jika itu akan membuat sejuta tanya tentang alasan aku menjauhimu. Bukan salahmu ketika rasa itu datang juga bukan pinta ketika rasa itu bermuara dan bertahta di jiwa.

Tuhan betapa malu diri ini. Jatuh hati pada orang asing. Rasa yang tak seharusnya datang di saat diri sudah berkeluarga dan umur tak lagi muda.

Ingin rasanya menepis. Tapi, gejolak hati kian mengiris. Ingin membuang rasa entah mengapa kian menggelora. Semoga sang waktu menjadi pengobat luka di dada.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here