Noda Dalam Hidupku #06

0
44
views

Peluh di pelipisku mulai menetes. Sorot mataku tajam menatap papan tulis yang berisikan paparan kitab Pathul Muin tertera di sana. Ustadzah Zahra telah berlalu beberapa saat yang lalu setelah sebelumnya beliau memerintahkan para santriwati untuk mencatat materi di papan tulis.

Tepukan halus di pundak membuatku menoleh. Aku tersenyum mendapati Fatimah di sampingku. Ia tengah menulis sesuatu di buku sebelum akhirnya menyerahkannya kepadaku.

[ Habis ini kita mencuci pakaian, yu! ]

Tulisannya rapi dan kecil. Komunikasi semacam ini sudah hal yang biasa. Fatimah amat mengertiku. Ia paling sabar menerima dan mengerti diriku.

Para santriwati telah mengetahui kekuranganku setelah hampir empat tahun mondok di sini. Awalnya semua terasa sulit. Aku tak bisa berkomunikasi banyak dengan mereka. Begitu pun sebaliknya. Sebab pendengaranku masih belum berfungsi. Kabar baiknya, tenggorokanku sudah tak sakit lagi.

Sebenarnya jika pulang, aku selalu memeriksakan diri ke dokter. Alhasil, tenggorokanku sudah tak lagi terluka. Dokter bilang, aku sudah mulai bisa berbicara. Dan benar, setelah sekitar dua tahun latihan, aku bisa kembali berbicara normal.

“Ayo! Lagian sebentar lagi juga para orang tua pasti berdatangan buat jemput kita,” kataku seraya menatap Fatimah.

Aku yakin ucapanku benar. Sebab sudah lama sekali, aku tak lagi mendengar suaraku sendiri. Sedih itu sering terjadi. Tetapi, aku selalu teringat ucapan seseorang. Mengenai sabar dan sukur. Seseorang yang telah jauh di sana.

Fatimah kembali menulis aksara di bukunya dan kembali menyerahkannya kepadaku.

[ Selamat berpisah Bu Haji ]

Aku dan Fatimah terkekeh. Walau dalam hati menyimpan sedih. Ini sudah bulan Maulid. Seperti biasa, seluruh santri dan santriwati akan dipulangkan ke kampungnya masing-masing selama satu minggu.

Setelah satu minggu kemudian, santri dan santriwati harus kembali ke pondok dengan batas waktu yang telah disesuaikan. Bila tidak, maka santri harus membayar denda.

Walau sudah diperingati akan ada denda. Selalu ada saja santri yang melanggar. Memang tak banyak. Sekitar dua sampai tiga orang.

Kurengkuh tubuh Fatimah. Memeluknya erat tak peduli dengan para santriwati lain yang mulai berhamburan keluar majelis karena mungkin mereka telah selesai mencatat.

“Aku bakal kangen kamu banget, Fat. Jangan sampai pacaran ya kalau pulang!”

Fatimah menepuk punggungku sedikit agak keras. Sementara aku terkekeh. Mungkin ia paham maksud ucapanku.

Kami melerai pelukan. Selanjutnya Fatimah mengap-mengap tak jelas. Aku yakin ia tengah berbicara yang entah apa isinya. Aku hanya tersenyum dan bergegas membereskan peralatan tulis lalu bangkit berdiri.

Fatimah ikut turut berdiri. Kami berjalan beriringan menuju kobong empat yang berada di lantai dua. Dari ujung koridor, dapat kulihat para santriwati mulai sibuk beres-beres.

Sudah menjadi jadwal umum, bila pondok memulangkan para santri maka wajib sebelum santri pulang harus membersihkan terlebih dulu kobong masing-masing.

Untungnya, aku dan Fatimah telah membersihkan rumah Kyai Zainuddin sehabis wirid shubuh. Jadi, siang ini kami tidak mengikuti piket bersih-bersih kobong dan malah memilih mencuci pakaian.

Aneh memang.

Di saat yang lain sudah selesai mencuci. Aku dan Fatimah selalu terlambat. Bukan apa-apa, kami berdua selalu disuruh piket di rumah Kyai. Atau terkadang disuruh menjaga anak Kyai yang ke sembilan. Anaknya kembar dan baru berusia satu tahun.

Istilahnya. Kami mengalap barokah.

Sebagai santri, kami tak berani kabur dari piket. Sebanyak apa pun tugasnya. Entah kenapa, aku pun merasa amat bahagia di pondok. Berbaur dengan kelompok perempuan tanpa mengenal dan dekat dengan kelompok laki-laki yang membuat psikis kusemakin terganggu.

Akibat kejadian kala itu, ketakutan kusemakin menjadi. Termasuk, berdekatan dengan Kak Rangga. Aku pun perlahan berusaha menjaga jarak dengan Kak Rangga.

Semoga bisa.

***

Satu koper tergeletak di samping kakiku. Sementara satu tas lagi kusampirkan di bahu. Mataku awas melirik kanan dan kiri mencari wujud seseorang. Dua puluh menit telah berlalu. Namun, kedua orang tuaku masih belum datang juga menjemput.

Di antara hal yang termasuk membuatku kesal adalah menunggu. Entahlah, tak bisa dijelaskan sebab alasannya. Aku hanya mengklaim bahwa menunggu bukan lah sesuatu yang menyenangkan.

Ujung kerudungku terasa ditarik ke belakang. Otomatis aku langsung berbalik badan. Betapa terkejutnya … aku mendapati Kak Rangga. Dia … masih terlihat keren seperti empat tahun yang lalu. Padahal usianya sudah dua puluh tujuh tahun.

Dia tersenyum. Senyum yang jenaka. Tatapan teduhnya tak berubah. Rambutnya rapi disisir ke samping. Kemeja biru mudanya digulung sampai siku. Menampilkan jam tangan rolex yang melingkar di tangannya.

Dia merogoh ponsel di saku. Kemudian mengetikkan sesuatu di sana. Tak lama, sebelum akhirnya menyerahkannya kepadaku.

Aku menerimanya dengan hati-hati. Takut ponsel mahal itu akan jatuh. Kan, bisa sangat berabe.

[ Hai cantik. Kangen nggak sama kakak? Makin cantik aja ih! ]

Aku menyerahkan ponsel itu kepadanya seraya merotasikan mata.

Dasar gombal!

Ia terkekeh. Kemudian meraih koperku lalu menyeretnya. Sementara aku hanya mengikuti kemana kakinya itu melangkah.

***

Sepanjang perjalanan, pandanganku tak lepas memandang keluar jendela mobil. Ada rasa rindu yang selalu meletup saat waktu pulang tiba. Rindu kepada sosok kedua malaikatku yang mungkin tengah menunggu kepulangan diriku.

Suasana dalam mobil amat senyap. Atau memang karena aku tak bisa mendengar apa pun.

Karena nyatanya seperti itu, bukan.

Namun … ketenangan kutiba-tiba gundah. Sebab jalan yang sering aku lalui berubah alurnya. Aku melirik Kak Rangga. Tapi, ia tetap tenang.

“Kak, ini mau ke mana?” Kak Rangga menoleh. Dipastikan ia mendengar suaraku. Namun, tak lama ia kembali meluruskan pandangannya ke depan.

Aku semakin ketakutan. Segala pikiran negatif mulai berdatangan. Melintas di otakku yang kemudian membuat diriku mengeluarkan keringat dingin.

Tidak! Tidak! Kak Rangga tidak akan melakukan apa pun, bukan?

Sekitar dua jam menempuh perjalanan, tiba-tiba mobil Kak Rangga terhenti. Aku menoleh kanan dan kiri. Mendapati tempat yang amat sangat asing.

Kak Rangga turun terlebih dahulu diikuti olehku. Aku sempat menganga. Saat mendapati kami berdua pergi ke pantai.

Ah, ya, sepanjang perjalanan tadi aku terlalu banyak ketakutan sehingga tak fokus memperhatikan pemandangan sepanjang perjalanan.

Kulihat Kak Rangga berdiri di tepi pantai. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Rambut hitam legamnya bergoyang karena angin yang menerjang.

Aku melangkah mendekati. Berdiri di sampingnya. Menikmati hembusan angin yang kencang. Melihat deburan ombak yang tengah berperang.

Tiba-tiba, aku merasakan pipiku basah. Aku sulit mengontrol diri sebab rasa rinduku ingin kembali dapat mendengar riuhnya deburan ombak.

Di mataku semua tampak sepi dan senyap. Seindah apa pun suguhan ciptaan Tuhan rupanya masih terasa kurang tanpa mendengar riuhnya suara yang tercipta.

Kurasakan sebelah tangan Kak Rangga terulur di bahuku. Dia tak menyeka air mataku. Seakan memerintahkan diriku berekspresi sebebas mungkin.

Sepatuku basah. Akibat deburan obat yang menyentuh bibir pantai. Tapi, hal itu justru tak urung membuatku berhenti menangis. Sebab justru hatiku semakin menjerit sakit.

Aku terduduk di atas pasir. Terisak seraya membenamkan kepalaku di kedua lututku.

“Ya Allah … Salma pengen lagi dengar ombak! Salma pengen lagi dengar suara orang tua Salma! Salma ingin dengar sholawat Nabi! Salma ingin dengar penjelasan guru-guru Salma!”

Aku berteriak frustasi. Sebab sekencang apa pun aku bersuara. Semua tak berubah.

Kak Rangga ikut duduk di sampingku. Tak menahan atau pun merangkul diriku agar tenang. Sekitar beberapa saat kemudian, akhirnya air mataku reda. Aku dan Kak Rangga membisu. Sama-sama menikmati pemandangan yang tersuguh di depan mata.

Pelan. Aku merenung. Mungkn jika Allah tak mengambil pendengaranku, justru yang kudapat ketakutan yang menyiksa. Mendengar setiap suara yang mungkin dapat membuat traumaku semakin bangkit.

Justru … seperti ini lah aku merasa aman. Tak perlu mendengar suara yang mungkin kembali membuat jiwaku menggila.

Aku menoleh. Saat tiba-tiba Kak Rangga menyerahkan sebuah kertas putih yang digulung dengan berpita kan merah.

Perlahan aku membukanya. Sehingga tulisan Kak Rangga dapat sempurna kulihat.

[ Bagaimana kabarmu, Dek? Kakak selalu mendoakan yang terbaik untukmu.

Oh iya. Kakak sekarang sudah bekerja di salah satu rumah sakit di kota. Kabar baiknya, kakak pun mulai mencicil untuk membangun rumah sendiri.

Dek, bolehkah, jika rumah itu kamu pun turut mengisinya? ]

Aku menyerahkan surat itu kepada Kak Rangga. “Maksud, mengisinya apa, Kak?”

Kak Rangga tak menjawab dan kembali menyerahkan surat yang berbeda kepadaku. Setelah menerimanya, aku bergegas membuka surat itu dengan terburu-buru.

[ Dek, menikahlah dengan kakak, ya. Kakak ingin menikahi, Adek. Menjadi pendamping untuk Adek agar bisa menua bersama ]

Aku mengerjap beberapa kali. Bahkan sampai tak sadar jika Kak Rangga telah jongkok di depanku.

Aku menatapnya dengan segala ribuan pertanyaan yang mendesak keluar. Aku tak percaya jika Kak Rangga melamar diriku yang bahkan sedikit pun tak ada cinta diantara kami berdua.

Kak Rangga menyerahkan surat ketiga. Dengan penuh kegugupan, aku menerimanya. Bahkan, rasanya nafasku tercekat dan otakku berhenti bekerja.

[ Dek, kakak nggak peduli dengan semua kekurangan, Adek. Sudah lama kakak memendam perasaan ini. Tapi, kakak selalu memendamnya sebab kakak tak ingin Adek ketakutan. Pikirkanlah terlebih dahulu. Selama apa pun kakak akan menunggu jawaban, Adek ]

Aku menggeleng.

Tidak! Ini tidak bisa terjadi. Sebab aku telah menunggu seseorang. Seseorang yang sangat jauh jaraknya dari diriku.

Kak Rangga menatapku. Tatapan pilunya menyiratkan permohonan padaku. Sementara bibirku terasa kelu. Jantungku bertalu lebih cepat dari biasanya.

Akhirnya, hanya keheningan lah yang menjadi jawaban dariku. Sebab, hatiku seolah-olah lumpuh saat ini.

***

Kaki jenjangku melangkah secara perlahan. Membuka pintu bercat putih yang telah lama tertutup rapat. Ada rindu yang menyeruak saat melihat tata letak di kamar ini tak ada yang berubah. Semua masih terlihat sama.

Sudut bibirku tertarik. Membentuk lengkungan di sana. Kuedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.

Ah, betapa nyamannya kamarku ini.

Di atas meja belajar. Kutemukan sepucuk surat. Lengkap dengan prangko yang berasal dari Turki.

Aku terkekeh kecil. Amat bodoh sekali dia. Ini sudah zaman modern, tapi masih sangat apik menggunakan surat kertas hanya untuk mengirim kabar.

Ini sudah surat ke dua puluh enam yang kuterima darinya. Kuhirup dalam-dalam aroma surat itu. Aroma yang mengantarkan kerinduanku kepadanya.

Sejak awal, rasa itu memang belum sempat hadir du hatiku. Namun, seiring berjalannya waktu. Ia seperti mengajarkan diriku, bahwa setiap laki-laki tidak lah seperti si biadab itu. Dia selalu mencoba membuat pemikiranku berubah. Dan sampai akhirnya, surat-surat itu tidak hanya berhasil menjamah pikiranku, melainkan hatiku juga.

Perlahan, kubuka amplop surat itu sampai surat itu terlihat menyembul. Jariku membuka lipatan surat sehingga aksaranya mulai terlihat sempurna.

[ Teruntuk : Sang Rembulan

Yang indahnya dan jauhnya dari diriku.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakaatuh

Bagimana kabarnya, Sal? Masih baik seperti bisa? Semoga selalu seperti itu.

Bagaimana kabar hatimu, Sal? Masih kosong seperti bisa? Semoga secepatnya aku menjadi pengisinya. Aamiin.

Kabarku? Alhamdulillah di sini aku baik. Kuliahku berjalan lancar dan teman-temanku sehat.

Ada kabar baik yang ingin kusampaikan. Jika tidak ada halangan, setelah kelulusan tahun depan aku akan pulang ke Indonesia. Dan … kabar baiknya, aku dan keluargaku akan melamarmu dengan segera. Agar cinta di hatiku menjadi halal dan mendapat pahala.

Terima kasih, Sal. Berkat doamu, sampai empat tahun ini aku masih bisa mencintaimu tanpa ragu. Bahkan, kadar cintaku masih tetap sama seperti sedia kala. Semoga … secepatnya kamu juga menyusul rasa cintaku.

Jangan pernah bersedih terlalu larut atau mengeluh yang amat berlebihan. Merenunglah! Sebab sejatinya nikmat Allah jauh daripada apa yang telah hilang dari diri kita.

Maka dari itu, bila suatu saat kita tidak bersama walau telah berusaha. Jangan lah marah dan berburuk sangka kepada Allah. Sebab bisa jadi, kebersamaan kita dapat menjadi murka Allah atau mungkin saja tidak terbaik untuk kita berdua.

Terus berdoa dan perbaiki prasangka.

Salam manis dariku : Sang Pujangga ]

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here