Noda Dalam Hidupku #05

0
90
views

Kutatap jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan. Di sana, dapat kulihat interaksi para manusia yang entah apa mereka bicarakan. Ada begitu banyak hal yang menyentuh kalbuku. Saat kulihat seorang anak kecil menyanyi di pinggir jalan. Sementara, temannya yang satu lagi menengadahkan tangan.

Aku tersenyum pedih.

Jendela adalah cermin dunia. Jika aku melihat diriku tersiksa, maka ada yang lebih tersiksa lagi hidupnya. Jika aku melihat diriku amat menyedihkan, ada yang lebih menyedihkan dalam hidupnya.

Dibalik jendela rumah sakit pun, aku dapat melihat sekelompok anak sekolah tengah berjalan bersama sambil mengobrol yang entah apa isinya.

Lagi. Aku tersenyum pedih.

Tepukan di bahu membuatku menoleh. Rupanya, itu adalah Mamah. Sosok yang sangat-sangat istimewa bagiku.

Hari ini. Aku telah diizinkan pulang setelah tiga hari dirawat. Mamah memberitahu bahwa yang membawaku ke rumah sakit kala itu adalah sepupu Ustazah Syifa, namanya Rais.

Mamah bilang, Rais itu satu sekolah denganku. Katanya dia anak sepak bola. Mamah berbicara seolah-olah kenal betul sosok Rais. Padahal, diriku saja sama sekali tak mengenali. Aku sering menonton pertandingan sepak bola di sekolah. Tapi, mengenal dan menganggumi para pemainnya itu tidak masuk listku.

Mamah menulis disebuah ponsel yang isinya memberitahukan jika Papah telah menunggu di parkiran rumah sakit. Kami pun mulai melangkah. Sepanjang jalan, hanya hening yang terdengar.

Aku yakin. Nyatanya suasana rumah sakit tidaklah sehening apa yang kudengar. Dapat kulihat hilir mudik para manusia yang entah mau ke mana tujuannya sambil mengap-mengap seperti tengah berbicara.

Sekitar setengah jam, kami sampai di rumah. Sedikit lelah, meningat mungkin karena efek diriku terbaring di rumah sakit setelah beberapa hari.

Aku duduk di ruang keluarga. Meraih remot televisi sehingga layar hitam itu berubah menampilkan gambar kartun.

Mamah datang dari dapur. Aku melihat mulutnya terbuka. Sepertinya Mamah berbicara.

Aku ingin bertanya. Tapi, mulutku seolah terkunci rapat. Aku hanya menautkan alis, bermaksud untuk bertanya.

Tiba-tiba Mamah luruh dilantai. Bahunya bergetar. Perlahan, aku pun bangkit dari duduk dan menghampiri Mamah. Mamah mendongak, lalu memelukku amat sangat erat.

Aku yang tak mengerti Mamah menangis, hanya bisa terdiam. Aku sama sekali tak tahu apa yang membuat Mamah sesedih ini.

Apakah karena aku?

***

Waktu terus bergulir dengan cepat. Acara kelulusan sekolahku, Mamah yang gantikan. Aku tak hadir.

Setiap hari, aku hanya mendekam di kamar seraya memandang jauh keluar jendela. Pandanganku kosong. Pikiranku mengembara jauh. Aku tak dapat menjawab saat Papah atau Mamah bertanya mengenai apa yang aku pikirkan. Sebab, semua itu kulakukan tak beralasan.

Kadang kala air mataku menetes, entah karena apa. Yang jelas, aku sangat terluka. Aku merasa tak cukup mampu lagi untuk berpijak di bumi.

Malam menjelang. Seluruh keluarga Mamah dan Papah datang ke rumah. Tapi, aku tetap mendekam di kamar. Kukunci pintu. Tak membiarkan seorang pun masuk ke dalam kamar.

Aku … terlalu takut ia kembali menemuiku.

Aku yakin ia pasti datang kemari. Sering aku bertanya, apakah ia tak punya rasa malu masih tampil di depanku?

Ponselku bergetar walau tak kudengar suara notifikasinya. Jariku mengesek layar sehingga pesan masuk itu dapat kubaca. Itu pesan dari Kak Rangga.

[ Assalamualaikum. Dek, kakak dengar kamu dirawat kemarin. Kenapa? Apa dia menyakitimu lagi? Maaf kakak tidak bisa menemani kamu. Kalau kakak bisa pulang, kakak pasti sekarang juga balik ke Indonesia. Tapi di sini kakak masih banyak pekerjaan. Maafkan kakak ya ]

Aku tersenyum tipis.

Kembali kuletakkan ponsel itu di atas ranjang. Sementara pandanganku menerawang langit-langit kamar. Aku sudah berjanji dalam hati. Selain menjauhi dia, aku akan belajar memberi jarak kepada Kak Rangga.

Trauma dalam diriku sudah memperlihatkan akibatnya. Aku tak ingin lebih menderita dari semua ini. Dan … tak menyakiti perasaan di sekitarku.

Beberapa hari kemudian, aku pergi ke rumah Ustazah Syifa. Beliau sangat terkejut mengetahui kondisiku setelah aku ceritakan melalui kertas putih yang berisikan tulisanku.

“Salma, yakin?” Ustadzah Syifa membalas tulisanku sesaat setelah membaca surat kedua yang aku tulis. Aku memperhatikan raut wajah Ustazah Syifa yang sedikit berubah. Dari sini dapat kulihat kedua bola matanya berair.

Kembali aku menulis dikertas putih dan memberikannya kepada Ustazah Syifa.

Ustadzah Syifa membaca tulisanku lagi. Tiba-tiba beliau terisak dan memelukku. Aku tak tahu apa yang beliau katakan. Hanya mencoba menebak apa yang membuat beliau sesedih ini.

Ustazah Syifa merelai pelukan. Beliau dengan cepat menulis di atas kertas putih lalu memberikannya kepadaku.

Aku menerimanya lalu membacanya dengan perlahan.

[ Ustazah sangat senang kamu mau mondok, Sal. Tapi ustazah sangat khawatir. Apalagi kondisimu seperti ini. Walau, memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semuanya bisa dapat terjadi. Ustazah mendukungmu. Kapan angkat berangkat? ]

Tanganku kembali bergerak untuk membalasnya.

[ Terima kasih banyak Ustazah. Salma berharap bisa secepatnya berangkat. Salma tidak mau tetap di rumah. Mengubur mimpi Salma hanya karena keterbatasan Salma ]

Malam itu, aku pamit kepada Ustazah Syifa. Malam yang sangat mengharu biru sebab kami sama-sama menumpahkan air mata. Jarak akan membuat rindu dalam benak kami saling tercipta.

***

Siapa orang tua yang akan rela melepas anaknya untuk berlayar di tengah laut sendirian? Tidak ada bukan.

Mungkin sebab itu pula kedua orang tuaku tak mengizinkan aku mondok. Namun setelah berbagai usaha aku membujuk. Mereka akhirnya mengizinkanku walau kutahu itu sangat berat bagi keduanya.

Mamah dan Papah mendaftarkan aku ke pondok yang berada di pulau Jawa Timur. Sebelum berangkat hari Rabu nanti, Mamah dan Papah sibuk mempersiapkan segala kebutuhanku.

Sebelum berangkat aku memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter. Sepulang dari sana, Mamah menulis di sebuah kertas putih yang berisikan hasil pemeriksaan tadi siang. Mamah bilang, ingin membeli alat untuk membantu pendengaranku.

Tapi, dokter rupanya masih belum bisa mengizinkan. Karena gendang telingaku sudah pecah dan terdapat luka yang masih sensitif bila harus mendengar berbagai macam suara. Oleh sebab itu, hanya resep obat yang beliau berikan.

Tepat di hari Selasa. Seseorang datang ke rumahku. Seseorang yang … sempat menolongku kala itu. Seseorang yang tak pernah aku sangka sebelumnya. Dia … Rais. Sekarang, aku tahu siapa dia Rais. Dia adalah lelaki yang ‘sok kenal sok dekat’ di sekolah.

Aku sempat heran dia bertamu. Mamah sangat menyambut dia dengan hangat walau tak bisa kudengar isi celotehannya.

Rais tampang lebih dewasa saat mengenakan t-shirt hitam yang dipadukan dengan celana jeans. Rambutnya yang sedikit berwarna cokelat itu terlihat rapi. Gayanya terlihat keren. Aku baru menyadari atau memang sebenarnya gayanya seperti ini?

Aku melihat Mamah mengajak Rais berbicara. Awalnya semua terlihat biasa saja. Namun, lama kelamaan aku melihat mimik keduanya berubah. Rais menatap lantai ruang tamu dengan tatapan sendu. Sementara kedua bola mata Mamah berair.

Kali ini. Aku ingin sekali mengetahui apa isi pembicaraan Mamah dan Rais.

Dadaku kembali terasa sesak menanggung pedih. Tiba-tiba bendungan di pelupuk mataku jebol. Membasahi pipiku.

Aku bergegas menulis di sebuah kertas lalu menyerahkannya kepada Rais. Dia menoleh. Menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

Dia menerima kertas itu lalu membacanya. Tak lama, dia membalas dan memberikannya kepadaku.

[ Enggak. Hanya pembicaraan ringan saja kok. Pembicaraan mengenai lamaranku suatu saat nanti ]

Aku menatapnya tajam. Entah, aku merasa sangat pedih apabila ada sosok yang ingin mendekatiku lebih dari ini. Benci, takut, khawatir yang semua menjadi satu.

Rais kembali menulis dan aku kembali menerima tulisannya.

[ Nanti kalau mondok jangan lupaian doain aku, ya. Kita sama-sama akan berpisah ]

[ Memang kamu mau ke mana? ]

[ Tempat yang jauh hehe. Tapi nggak usah khawatir aku akan pulang suatu hari nanti. Sama sepertimu, aku juga punya mimpi yang harus aku kejar dan menggapainya ]

[ Semoga berhasil ]

[ Makasih. Belajar yang bener, ya, di pondok. Jangan sampai salah niat. Siapkan semua niat kamu sebelum berangkat. Apa pun yang terjadi di sana yang membuatmu tak suka, bertahanlah. Tiket surga itu nggak gampang, kan? ]

[ Iya. Makasih. Kamu juga ]

[ Jangan singkat-singkat dong balasnya. Aku pengin sebelum berangkat bisa membaca tulisanmu lebih panjang ]

[ Untuk? ]

[ Dikenang dalam relung hatiku terdalam. Eaa …. ]

Aku menatap Rais dan ia pun sebaliknya. Tak lama tawanya pecah. Tawa yang dapat kulihat tanpa mampu kudengar renyahnya tawa itu.

Rais kembali menulis. Kali ini sedikit lebih lama. Apakah isinya lebih panjang?

Sekitar beberapa menit, akhirrnya kertas itu diserahkan kepadaku. Aku sempat menatapnya barang sejenak. Mencoba memastikan surat yang sudah di tanganku. Ia mengangguk seraya mengulas senyum.

[ Teruntuk : Salma Nur Fadilah

Aku tak bisa merangkai banyak puisi atau bahkan syair cinta. Yang dapat aku persembahkan hanyalah seberkas perasaan yang telah lama aku pendam. Jangan tanya alasan mengapa rasa cinta itu hadir. Sebab, rasa itu adalah anugrah pemberian Allah yang tak bisa kamu pilih dimana ingin berlabuh. Juga, jangan menolakku dengan mengatakan kekuranganmu. Sebab manusia itu adalah sebuah paket dari kelebihan dan kekurangan. Mencintaimu itu artinya aku harus sanggup menerima kelebihan dan kekuranganmu tanpa bertanya, mengeluh apalagi pergi untuk meninggalkan.

Salma, pesanku, jangan pernah bersedih atas apa yang terjadi padamu. Sebab perkara di dunia sangatlah ringan. Sedih, senang, marah, deritamu hanya sementara. Aku tahu, mengatakan tak semudah menjalani.

Namun dengan kamu bersabar dan menjalani dengan penuh keridhoan. Justru rasa cintaku semakin menggebu tak terbendung. Sebab, aku yakin, rasa cintaku tak salah. Karena telah mencintai hamba Allah yang sangat bertaqwa. Seperti kata Uwais Al Qarni, beliau tidak terkenal di penduduk bumi namun beliau amat sangat terkenal di penduduk surga.

Jika ia berladang dengan berbakti kepada orang tuanya. Maka jadikanlah kekuranganmu sebagai ladang kesabaran yang kamu pupuk untuk meraih ridho-Nya.

Bukankah, pondasi hidup ini hanyalah sukur dan sabar?

Dan bahwa ada ayat yang juga mengatakan bahwa orang yang bersabar itu bersama Allah. Nikmat yang besar dan membuatmu jauh daripada Allah itu akan membuat celaka. Tapi, nikmat kecil yang bisa membuatmu bersandar, tabah, dan mendekat kepadanya itu akan menyelamatkan.

Salma, selagi aku belum bisa menghalalkan cintaku. Doakan lah aku. Doakan aku agar cinta ini tetap tumbuh dalam mahliga keridhoan-Nya. Tak luntur karena jarak. Dan tak berkurang karena melihat kekurangan.

Salam manis dariku, Muhammad Rais Fauzan Al Qarni ]

Tak terasa air mataku berlinang. Aku tak pernah tahu, selama ini ia menyimpan perasaan. Aku tak mempu membalas surat darinya yang menurutku sangat menyentuh hati itu.

Aku hanya berharap. Waktulah yang akan membalasnya. Entah berpisah atau bersama. Aku juga tak menyangka Rais masih tetap mencintaiku setelah tahu segala kekuranganku. Percaya atau tidak, aku melihatnya dengan kedua bola mataku saat ia menitikkan air mata sambil menulis surat itu.

Kami saling berpandangan. Merekam jejak sosok dirinya yang mungkin tak akan dapat lagi kulihat di kemudian hari. Hingga akhirnya, dia pamit pulang. Meninggalkan sebuah kenangan berupa surat yang tengah kugenggam.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here