Noda Dalam Hidupku #01

0
53
views

“Argh ….”
Aku meringis. Merasa ada sesuatu yang terasa ngilu di bawah sana. Terasa pedih dan nyeri di waktu yang bersamaan. Mencoba bangkit, aku berdiri seraya mengedarkan pandangan.

Tuhan, apa yang terjadi?
Sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi di kamar ini. Memejamkan mata, mencoba mengingat sesuatu yang mungkin tersisa di dalam ingatan.

“Aaaaa ….”
Aku berteriak panik. Saat sekelabat bayangan kembali teringat menebus lewat alam bawah sadarku. Hanya air mata yang mampu mewakili perasaan. Betapa hancurnya, saat kembali mengingat peristiwa terpahit itu terbayang.

Keringat dingin mengucur membasahi baju tidur yang aku kenakan. Ini mimpi. Tapi, masih terasa pahit saat kembali teringat.

Aku mengatur deru nafas yang tak teratur. Menarik nafas lalu menghembuskan nya secara berkala. Baiklah, aku merasa lebih baik.

Aku beringsut turun dari ranjang. Mencari saklar sehingga ruangan yang gelap itu terang. Berjalan pelan, menuju kamar mandi.

Sebelum melangkah menuju kamar mandi, aku sempat melirik jam di dinding yang masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Baik, masih ada waktu untuk shalat tahajud.
Setelah membersihkan diri. Aku menggelar sejadah, dan melaksanakan shalat tahajud delapan rakaat. Tapi, pada saat sujud terakhir. Aku tak bisa menahan hawa panas yang menjalar di dekat area mata. Seperti, ada sesuatu yang akan keluar.

Sesuai salam, air mataku meleleh tak terbendung. Aku menangis dalam hening. Mengingat, memori menyeramkan yang selalu ingin kukubur selamanya.

Ini sulit.
Walau sudah berapa kali aku mencoba menepis dengan berbagai cara. Nyatanya, memori pahit itu masih terekam jelas di dalam pikiranku.
Dan yang dapat aku lakukan hanyalah mengadu, berserah, kepada-Nya.

***

Aku tercenung. Memperhatikan beberapa aktivitas yang ada di depan mataku. Segerombolan laki-laki yang tengah asik memperebutkan bola agar bisa menendangnya ke gawang. Ada pula, sekumpulan para gadis yang tengah asik berbincang. Dan … ada pula yang tengah bahagia menikmati waktu dengan pasangan.

Perihal pasangan, aku hanya mampu tersenyum miris.
Er … merasa ingin, walau aku tak yakin mampu.

“Ngapain, sih, di sini mulu?” Ah, dia temanku. Namanya, Riska. Orangnya suka K-POP dan suka makan banyak. Katanya, dia adalah tong sampah. Jenis makanan apa pun, akan masuk ke dalam perutnya. Tanpa pilih-pilih.
Aku menoleh. Tersenyum tipis lalu kembali memalingkan pandangan. “Biasa. Dari pada bosen di kelas.”

Riska duduk di sampingku. Tempat duduk yang berada tepat di samping lapangan sepak bola. “Kirain, nyari gebetan.”

Aku hanya terkekeh. Riska, tahu, aku tak pernah dekat dengan lelaki mana pun. Sering kali, dia mencoba mendekatkan kudengan beberapa lelaki. Tapi, aku menolak.

“Rubahlah, status jomblomu, Salma!” serunya dengan penuh penekanan.
“Nggak ah, males.”
“Eh, jangan dong! Lagian ada kabar bagus, nih!”
Aku menoleh. “Apa?”
Riska mengulas senyum lebar. “Ada yang naksir sama kamu, Sal! Namanya … Yasir.” Aku menghembuskan nafas berat lalu menggeleng. “Ish! Kita udah mau lulus, Sal. Jangan jomblo terus!”
“Lagian, pacaran juga bukan jaminan buat deket sama jodoh, Ris!”
“Aish!” Riska menggerutu. Tapi, dia tetap duduk di sampingku.
Kami menikmati keheningan seraya menikmati pertandingan sepak bola di lapangan.

***

“Salma!”
“Salma!”
Aku tetap melangkah. Menghiraukan suara yang menyeru namaku. Ada rasa takut yang selalu menjalar tak menentu setiap makhluk berjenis kelamin ‘laki-laki’ mencoba mendekat. Padahal, aku tahu. Mereka tak akan berbuat jahat kepadaku, kan?
Seseorang mencekal sebelah tanganku sehingga sukses membuatku menoleh. Aku menatapnya sengit dan menepis tangannya kasar.
Dia terlihat gugup. “Maaf,” katanya.

“Ada apa?”
Dia Ammar. Teman sekelas yang selalu mencoba mendekatiku. Tapi, aku tak pernah memberi dia akses. Sekali lagi, aku benar-benar takut.
Entahlah. Aku tak bisa menjabarkannya.

Ammar memegang tengkuknya. “Mmm … malam ini ada cara nggak?”
Aku mengangguk mantap. “Ada.”

“Apa?”
“Mengaji.”
Ammar bungkam.
Aku tak berbohong. Setiap malam, aku memang selalu berangkat ke rumah Ustazah Syifa – guru mengaji privat yang rumah tak jauh dari rumahku.
“Kalau liburnya hari apa?”
“Nggak ada libur,” jawabku judes.
“Masa, sih?”
Aku tersenyum tipis. “Eh, ada, kok. Nanti, kalau aku meninggal baru ngajinya libur.”
Aku tak menunggu jawaban Ammar dan berlalu begitu saja meninggalkannya. Karena, raut wajah telah membisu sesaat setelah mendengar ucapanku.

***

“Mah, ini mau ada siapa?” Kuperhatikan raut wajah Mamah yang nampak bahagia.
Mamah tersenyum. “Mau ada Paman Jaka ke sini.”

Satu … dua … tiga detik. Aku hanya mampu mematung.
Aku mengerjap beberapa kali. “Paman Jaka?”
Mamah mengangguk mantap sambil tetap fokus memotong bolu pandan yang baru dibuat. Sementara aku, bahkan bernafas pun merasa sesak. Rasanya, aku sudah tak mampu lagi menopang badanku sendiri.

Mamah yang tampak heran dengan sikapku menoleh. “Kamu kenapa?” Kening Mamah berkerut.
“Ah … nggak, Mah. Mmm … aku … ke atas dulu, Mah.”
Tanpa menunggu jawaban Mamah. Aku berlari ke kamarku yang berada di lantai dua. Sesampainya di kamar, bergegas aku mengunci pintu lalu duduk bersisian di atas ranjang.

Mataku kembali memanas. Ada nyeri yang semakin menikam bagian dada. Aku menggeleng seraya merapalkan doa. Berharap aku tak bertemu dengan makhluk biadab malam nanti.

***

Baru saja aku melepaskan mukena setelah melaksanakan shalat isya. Terdengar suara riuh di lantai dasar.

Aku menarik nafas panjang. Aku tahu, Paman Jaka pasti telah datang. Berbeda dengan sebagain orang yang akan merasa senang bila sanak saudara datang. Aku justru, bergidik takut.

“Salma, turun! Paman Jaka sudah datang!” teriakan Mamah membuatku terpaksa turun ke lantai dasar. Sebelum turun ke bawah, kukenakan kerudung hitam lalu memakai jaket tebal untuk menutupi lekuk tubuh yang nampak terlihat dibalik piyamaku.
Pelan. Aku mendekat ke ruang tamu. Di mana Mamah dan Papah tengah asik berbincang dengan Paman Jaka dan istrinya.

“Eh, Salma. Sini, bibi bawakan oleh-oleh dari Palembang!” Bibiku menepuk kursi di sebelahnya yang masih kosong.

Dengan hati-hati aku mendekat. Setelah pantatku nyaman duduk di atas kursi, aku mengedarkan pandangan. Memastikan makhluk biadab itu tak ikut kemari.
“Sal, tolong ambilkan bolu di atas meja makan!” perintah Mamah langsung aku turuti.
Dengan langkah ringan, aku berjalan ke dapur. Begitu terlihat sepiring bolu di atas meja makan, aku langsung membawanya.

“Eh, Salma!”
Mataku membulat. Dadaku kembali terasa sesak. Jantungku bertalu dengan cepat. Kakiku terasa amat lemas.

Aku hanya mampu mematung menatapnya. Menatap makhluk, biadab di depanku.
Dia tersenyum. Seolah tak pernah ada yang terjadi.

“Aku ke sana duluan ya! Awas, tuh, piringnya jatuh!” setelah itu dia berlalu begitu saja. Meninggalkanku yang sudah hampir kehilangan nyawa.

Bersambung

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here