Nikahi Aku dengan Cinta #06

0
52
views

“Yang bisa dilakukan wanita sepertimu selain menangis itu apa?” sindirnya lagi.
Penghinaan demi penghinaan selalu terucap dengan mudahnya. Apakah dia tidak sadar, perempuan manapun pasti akan menangis ketika mendengar orang terkasih tega mengatakan itu.
Tidak ingin menjawab, aku segera berlalu pergi menuju kamar. Mengunci pintu rapat dan berdiam diri di sana. Menangis hanya membuatku semakin lemah dihadapannya. Namun aku hanyalah wanita biasa yang memiliki hati dan perasaan yang mudah rapuh ketika mendapat bentakan.

Sungguh aku tidak pernah menduga setelah menikah akan merasakan duka sepahit ini. Apa karena berasal dari kalangan tidak mampu, orang sepertiku selalu tertindas? apa karena Mas Brian banyak berjasa hingga membuat tingkahnya sesuka hati?

Sebelum memutuskan menikah, seharusnya aku mengenal lebih dekat seorang dokter yang tiba-tiba hendak melamar gadis desa sepertiku. Dulu, emak menyakinkan bahwa Mas Brian berasal dari keluarga baik-baik.

Tanpa proses pacaran dan hanya taaruf beberapa bulan saja, pada akhirnya aku menyetujui dengan alasan patuh dan menerima siapapun lelaki pilihan emak.
Malamnya, aku keluar kamar untuk wudlu dan mengambil air minum.
Sampai di dapur, aku tertegun melihat Mas Brian sedang memasak.
“Selama numpang di rumah ini, harus paham kapan saatnya masak. Jangan sok jadi ratu,” ucapnya sambil melirikku sekilas.

Siapa yang sok jadi ratu? Bahkan tadi siang, sisa opor ayam yang kumasak sengaja dia berikan kepada keluarga Pak Somad. Meski menyisakan kuah, aku berusaha tidak mengeluh di hadapannya. Kurasa ratu manapun tidak ada yang diperlakukan seperti ini.
“Biar saya yang melanjutkan.” Aku melangkah mendekat ke arahnya.
“Nggak usah,” tolaknya mentah-mentah.

Aku menghela napas berat. Membuka wadah nasi, hanya tinggal satu porsi untuk dimakan. Itu artinya aku harus mengalah. Lagi pula aku yang salah karena lupa memasak nasi untuk makan malam.

Melirik telur yang Mas Brian masak, aku cukup sadar bahwa lelaki itu terlalu egois. Aku mengambil roti tawar dan mengolesi dengan selai coklat lalu membuat susu panas. Menu sarapan untuk makan malam sepertinya tidak menjadi masalah.
Aku membawa makanan ke dalam kamar. Kali ini sengaja tidak ingin satu meja makan. Semakin sering bertemu, kata-kata menyakitkan akan lebih sering kudengar. Pintaku, semoga Allah memberikan kesabaran yang lebih.

Aku berteman dengan sepi. Mencoba kembali aktif menulis dalam grup literasi. Suasana hati yang ada membuat ide berjalan begitu mulus. Andai saja Mas Brian berkenan membaca tulisan ini. Kupastikan ia akan lebih menghargai siapapun.
Muncul rencana untuk pergi sejenak. Selama ini, di antara kami tidak pernah saling merindu. Aku sadar, rumah tangga kami kapanpun bisa goyah karena sebelumnya dibangun tanpa pondasi cinta yang kuat.

Sebelum tidur, aku menghubungi Diva untuk mengajak pergi ke bazar buku.
Diva adalah sahabat baik selama kuliah. Sikapnya begitu baik dan perhatian kepada siapapun.

🍀🍀🍀

Adzan subuh membangunkanku. Aku beranjak mengambil air wudu dan sholat dalam kamar. Langit masih tampak gelap. Aku berbaik hati memasak nasi goreng untuk sarapan Mas Brian. Meski terlalu pagi, aku harus segera pergi.

[Pasangan aneh seperti kita perlu berpisah sejenak. Siapa tau ada getaran rindu ketika saling berjauhan. Selamat pagi dokter yang katanya tampan. Sudah biasa jika aku yang diabaikan, tapi jangan nasi goreng ini. Dia tidak salah apa-apa.] tulisku pada secarik kertas yang tertempel pada tudung saji.

Pesan ini agar dia mau sarapan dengan nasi goreng buatanku. Aku ingin pergi sejenak tanpa tau kapan kembali. Kurasa dia tidak akan pernah peduli.

Usai berkutat di dapur, aku beranjak mandi dan bersiap diri. Pergi sebelum Mas Brian bangun dan menggagalkan rencana ini. Menunggu Diva datang menjemput, aku duduk di serambi masjid sambil memandang lurus ke arah jalan raya.

Duduk termenung menikmati udara pagi, aku tersenyum ketika teringat mimpi indah semalam. Tangis keharuan tercipta saat kehadiran jagoan kecil yang tampak begitu lucu. Harapan hanya tinggal harapan. Pernikahan kami kian di ujung tanduk ketika dia sendiri ingin mengakhirinya.

Pesan yang kutulis pagi ini hanya sebagai pemanis. Pemilik hati keras seperti Mas Brian terkadang harus diberikan kata penuh rayuan untuk meluluhkan hati.

Tiba-tiba aku teringat dia pagi ini. Apakah sudah bangun? apakah dia sudah membaca tulisan itu? apakah di hatinya muncul rasa bersalah? kurasa dia tidak akan peduli bagaimana perasaanku. Ada tidaknya aku di rumah itu selalu luput dari perhatiannya.

“Nas, ayo. Kok bengong sih?” suara Diva membuyarkan lamunanku.

Gadis berpenampilan fashionable tampak menungguku di depan mobilnya. Ia memiliki mata yang bulat, pipinya sedikit gembil, hidungnya mancung dan bibirnya tipis.

Aku tersenyum sambil bergegas menghampiri. Diva terbiasa menggunakan mobil untuk aktivitas setiap harinya.

“Aku heran sama kamu, Nas? Tumben banget pagi-pagi sudah ngajak jalan. Suami sudah keurus belum?” tanya Diva ketika menjalankan mobilnya.

“Sudah masak nasi goreng kok,” jawabku sambil tersenyum.
Semalam, aku belum ingin menceritakan apapun kepada Diva. Melihat kehidupannya sekarang, menjadi quirky alone membuat gadis bermata bening ini tampak begitu bahagia.
“Sudah isi belum nas?” tanya Diva sambil melirik ke arah perutku.

Aku tersentak kaget ketika mendengar pertanyaan itu.
“Doanya ya,” sahutku asal.

Aku tau, bahwa doa saja tidak akan cukup untuk menghadirkan janin dalam rahimku. Mas Brian yang dingin tidak pernah ingin menyentuhku. Pertanyaan semacam ini sungguh menyiksa batin. Apalagi jika ibu yang sangat berharap memiliki cucu pertama dari kami.

Selama perjalanan, kudengar Diva banyak berkisah tentang kesibukannya sebagai pebisnis muda. Memiliki banyak toko pakaian dan sibuk jualan online. Sementara aku, meskipun sama-sama lulusan ekonomi, aku belum memiliki pekerjaan tetap. Yang mereka tau, aku terlalu beruntung diperistri seorang dokter muda yang berparas rupawan. Hanya saja aku tidak sebahagia yang mereka kira.

“Nas, kita makan bubur ayam Bu Leha ya, kangen nih.” Ajak Diva penuh semangat.
“Iya, ayo.” balasku dengan senang hati.

Mobil berbelok di sebuah warung bubur ayam tempat kami dulu menghabiskan pagi bersama. Nostalgia bersama sahabat kuliah membuatku sedikit melupakan beban kesedihan yang kurasakan.

Jam delapan pagi, kami segera menuju gedung tempat diselenggarakan bazar buku. Suasana gedung tampak ramai dipenuhi pengunjung yang datang. Aku menghampiri buku-buku yang terpajang rapi. Mencari novel yang beberapa hari ini membuatku penasaran ingin segera membeli.

“Aku bahagia melihat kamu tersenyum.” ucap seseorang dari arah samping.
Aku terkejut melihat Mas Faris tiba-tiba berada di tempat yang sama. Senyum manis itu membuatku takut jika terperangkap dalam pesona indahnya.

“Mas Faris ada disini juga.” Aku merasa malu teringat kemarin telah menangis di hadapannya
“Cari buku aja, sih. Sama siapa, Nas?” tanya dia sambil mengedarkan pandang ke kanan kiri.
“Sama Diva. Itu dia di sana.” Aku menunjuk Diva yang tampak sedang serius melihat beberapa lukisan yang terpasang di dinding ruangan.

Kulihat Mas Faris hanya mengangguk.
“Cari buku, apa? biar aku bantu.”

“Novel judulnya Muridku Kekasihku, Mas.” Jawabku yang membuat Mas Faris mengernyitkan dahi sambil mengamati kumpulan buku yang berjajar rapi.

“Apa warna covernya?” tanya dia lagi.
“Biru. Bagian tengah ada gambar love warna putih,” jawabku memberitahu.
Mas Faris berjalan pelan sambil mengamati dengan seksama. Tak lama kemudian, dia kembali menghampiriku dengan membawa buku yang kuinginan.

“Ini, bukan?” tanya dia sambil tersenyum puas.
Novel tersebut kini sudah berada di tangan kanannya. Entah kenapa aku merasa payah ketika tidak mampu menemukan novel itu sendiri.

“Terima kasih, ya. Mas.”
“Bentar ya, biar aku bayar sekalian.” kata Mas Faris sambil berlalu pergi dari hadapanku.
Aku mengejarnya untuk berniat menolak. Namun Mas Faris tetap membayar buku itu untukku. Perasaan hati benar-benar sungkan atas seluruh perhatiannya.

“Ini, Nas. Novelnya. Kemarin aku juga sempat baca versi ebooknya. Sekarang jadi penasaran sama novel Dosenku Mantan Kekasihku. Kamu nggak tau, kan? Dulu aku pernah berani nembak dosen pembimbing. Kebetulan dia janda muda. Eh malah ditolak mentah-mentah.” Curhatnya yang membuatku menahan tawa.

Tak kusangka Mas Faris begitu terbuka dengan kisah cintanya ini.
“Nostalgia nggak ngajak-ngajak.” Diva datang menghampiri dan duduk di sebelahku.
“Cerita apaan sih, kayaknya lucu,” tanya Diva heran.

Mas Faris kembali menceritakan masa lalunya hingga membuat Diva tidak henti-hentinya tertawa.

“Terus pas bimbingan lagi, gimana?” tanyaku penasaran.

“Pura-pura amnesia aja sih,” balasnya santai.

Kami bertiga tertawa lagi. Membuatku dilanda penasaran dengan kelanjutan kisah dalam novel itu. Ponsel milik Diva berbunyi. Ia menerima panggilan dari seseorang. Wajahnya tampak memerah mendengar kabar yang tidak kutahu.

“Iya, Ma. Aku segera kesana.” Jawab Diva di akhir panggilan.
“Oma habis jatuh di kamar mandi. Sekarang dibawa ke rumah sakit. Aku harus kesana.” Wajah Diva tampak begitu khawatir.

“Aku ikut ya?” pintaku yang langsung mendapat anggukan dari Diva. Biar bagaimanapun, aku mengenal nenek Aminah yang sering menasehati kami dulu.

Meninggalkan Mas Faris, kami berjalan cepat menuju parkiran. Kali ini, Diva melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di rumah sakit, kami di arahkan menuju ruang Instalasi Gawat Darurat. Di ruang tunggu, tampak keluarga Diva sedang duduk menantikan kabar. Raut wajah gusar membuat suasana begitu tegang. Sesekali ibunya menyeka air mata berusaha menyembunyikan kekhawatiran di depan Diva. Tak lama kemudian, salah seorang dokter ditemani dua suster keluar dari ruangan itu.

Aku terkejut melihat Mas Brian ternyata menangani langsung nenek Aminah. Kulihat dia tampak menjelaskan tentang kondisi pasien barunya.

Sesaat netra kami bertemu. Aku segera mengalihkan pandangan menyadari rencanaku untuk pulang ke rumah emak hari ini sepertinya akan gagal.

Derap langkah sang dokter kini menghampiri.

“Maaf bu Inas. Ada hal yang ingin saya sampaikan. Tolong ke ruangan saya, ya.” ucap Mas Brian sambil melirikku penuh tanda tanya.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here