Nikahi Aku dengan Cinta #05

0
82
views

Impian merajut keluarga harmonis sepertinya hanya menjadi angan. Luka batin sebagai istri semakin menyiksa hati dan jiwaku. Berkali-kali Mas Faris menguatkanku dengan kalimat lembut penuh perhatian. Sedari tadi, mata elangnya tak henti menatap begitu dalam. Aku sadar, tidak sepantasnya menangisi dukaku di hadapannya.

Menyeka air mata, aku harus segera pulang sebelum Mas Brian melihatku tidak sengaja bertemu laki-laki lain.

“Maaf, Mas. Aku harus pulang. Mas Brian sudah menunggu di rumah,” ucapku asal bicara.

“Mau aku antar?” tawarnya dengan tersenyum.

“Tidak usah, Mas. Terima kasih.” tolakku dengan ramah.

“Inas, kalau ada perlu jangan segan-segan menghubungiku ya. Kapanpun aku siap membantu. Aku tunggu kabarmu,” ucapnya lagi.

Aku terhenyak. Untuk apa Mas Faris menunggu kabarku? untuk apa aku harus memberi kabar? tidak ingin berlama-lama, aku segera berlalu pergi dari hadapannya. Meski berat untuk kembali ke rumah itu, tapi aku memiliki tanggung jawab besar sebagai istri.

Sampai di gerbang, aku terkejut melihat mobil Mas Brian sudah terparkir di garasi. Entah kenapa sore dia pergi tidak lama. Tiba di ruang tamu, kulihat dia sedang duduk dengan melipat kedua tangan di dada.

“Tau nggak kesalahan kamu apa?” gertaknya kasar dengan menatap mataku tajam.

Aku terdiam di tempat. Memikirkan apakah dia melihatku di taman? apakah karena belum membersihkan rumahnya? batinku bertanya-tanya.

“Kenapa diam? telinga kanan kiri sama mulut masih berfungsi dengan baik ‘kan?”

Aku membelalakkan mata. Keterlaluan ketika mendengar Mas Brian mengucap kalimat itu dengan nada penuh kebencian.

“Salah saya apa? saya keluar sebentar ke minimarket. Maaf tadi tidak sempat izin,” jawabku dengan nada sendu.

“Jadi seperti ini kelakuan wanita pilihan ibu. Bilang sama pacar kamu, tunggu status janda baru bisa pacaran bebas.” Suaranya terdengar penuh penekanan.
Aku mengucap istighfar dalam hati. Sepertinya akan percuma jika menjelaskan siapa Mas Faris di depan lelaki yang menatapku tanpa cinta. Perlahan, air mata turun untuk kesekian kali. Bahkan lebih sakit dari luka sebelumnya.

“Jangan kamu anggap saya cemburu. Apalagi takut kehilangan. Bagaimana pun kamu harus ingat, status pernikahan ini belum berakhir. Itu artinya, kamu pahami sendiri.” Tegasnya kembali.

Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Rasa sakit kian menyesakkan dada. Apakah ini yang harus kubayar sebagai balas budi kepada Mas Brian yang telah meringankan biaya rumah sakit ibu dulu?

“Yang bisa dilakukan wanita sepertimu selain menangis itu apa?” cibirnya tanpa perasaan.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here