Nikahi Aku dengan Cinta #04

0
98
views

Aku masih diam menahan gemuruh yang bergejolak dalam dada. Apa yang Mas Brian katakan sudah sangat jelas, bahwa kehadiranku dalam hidupnya semata-mata hanya untuk alasan tertentu. Kesehatan Bu Ratih memang semakin membaik semenjak Mas Brian menuruti kemauannya untuk menjadikanku sebagai istri. Meskipun selama ini dia begitu pandai memainkan sandiwara.

Setelah mengucap kalimat menyakitkan itu, Mas Brian segera melangkah pergi dengan sejuta kesibukan sebagai dokter. Dia sempat melihatku meneteskan air mata ketika rencana perceraian terucap dari bibirnya. Entah dimana letak hati yang sering dipuja banyak pasien itu. Sama sekali tidak pernah peduli bagaimana perasaanku.

Kini, ingatanku melayang memikirkan seseorang yang menjadi duri dalam pernikahan kami. Mengapa di dunia ini harus ada Dokter Nova? Mengapa wanita itu masih menjalin hubungan dengan Mas Brian? hal menyakitkan yang harus kusadari adalah keduanya saling mencintai. Cinta yang telah menutup hatinya untukku.

Aku kembali memperhatikan penampilanku di cermin. Menatap diriku di dalam sana dengan balutan gamis warna merah muda dengan hijab yang menutup dada. Kata emak, aku cantik. Memiliki bentuk tubuh ideal yang banyak di dambakan kaum hawa di luar sana. Ketika berada di samping Mas Brian, tinggiku sebatas pundaknya.

Aku penasaran seperti apa sosok Dokter Nova yang begitu dia cintai. Apa aku harus mengganti penampilan agar Mas Brian terpesona? Apa aku harus bertingkah bodoh untuk menarik perhatiannya? Hanya saja aku tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu.

Siang menjelang sore, aku berencana pergi ke sebuah mini market yang terletak di pinggir jalan raya. Karena tidak terlalu jauh, aku memilih berjalan kaki. Sampai di sana, aku segera mengumpulkan barang belanjaan untuk keperluan dapur. Mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk membayarnya.

Langkah kaki terasa berat untuk kembali pulang ke rumah itu. Terlalu banyak kesedihan yang tercipta ketika bersama Mas Brian. Di sebuah taman, aku memilih duduk untuk menenangkan diri. Melihat bunga-bunga beragam warna yang tumbuh di sekeliling taman.

“Kecantikanmu turun 70 persen kalau wajahnya cemberut begini,” ucap seseorang dari arah belakang.

Aku segera menoleh karena terkejut dengan suara yang tiba-tiba terdengar itu. Tak kusangka ada Mas Faris yang dulu pernah ingin melamar. Dia tampak tersenyum saat menatap mataku. Namun aku merasa tidak nyaman ketika lelaki itu duduk di sebelahku.

“Mas Faris kenapa ada di sini?” tanyaku penuh keheranan. Aku menggeser posisi lebih jauh darinya. Duduk berdua seperti ini sejujurnya membuatku takut apabila terkena fitnah.

“Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu ada di sini? pengantin baru biasanya ‘kan nempel terus sama suami.” ujarnya sambil menahan tawa.
Aku terdiam. Sepahit apapun cerita rumah tangga kami, tidak selayaknya membuka aib di depan orang lain. Aku berusaha tersenyum agar meyakinkan padanya bahwa aku baik-baik saja. Lagi-lagi aku hanya bisa diam.

Ada rasa penyesalan ketika dulu menolak lamaran dari lelaki ini. Mungkin saja jika menerimanya, aku tidak akan merasa sesakit ini. Mas Faris menatap mataku dalam penuh selidik. Aku segera mengalihkan pandangan sebelum dia membaca kesedihan hatiku.

“Inas, aku tidak akan menuntut kamu untuk bercerita. Aku hanya tidak rela kalau wanita sebaik kamu harus bersedih.” Perhatiannya kali ini membuatku berusaha menahan tangis.

“Maaf, Mas. Aku harus pulang,” ucapku sambil beranjak pergi dari hadapannya.

“Inas, tunggu.” sergahnya.
Kakiku terasa lemas ketika harus melanjutkan langkah. Dia masih berada di belakang, perlahan mendekat hingga membuat jantungku berdegup kencang.

“Inas, aku ingin tanya, apakah setelah menikah kamu bahagia?” tanya Mas Faris yang membuat derai air mata tumpah membasahi pipi.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here