Nikah dengan Kakak Angkat #07

0
133
views

Adelia berkali-kali menghembuskan napasnya, agar rasa sesak di dalam dadanya sedikit berkurang. Ia tidak berhenti terus memikirkan permintaan ayah dan bundanya, tentang menikah dengan kakak angkatnya itu. Siapa lagi kalau bukan Zaidan, laki-laki yang selama ini sudah ia anggap sebagai seorang kakak. Adelia tidak habis pikir, dengan permintaan ayah dan bundanya. Mana mungkin ia menikah dengan Zaidan, sedangkan selama ini laki-laki itu adalah kakak baginya.

Tidak mungkin rasa sayang sebagai seorang kakak, tiba-tiba harus berubah sebagai seorang suami. Tentunya sulit bagi Adelia untuk menerimanya, menikah dengan kakaknya sendiri.

Adelia tahu, kalau Ayah Reyhan dan Bunda Melati. Tidak ingin, dirinya maupun Zaidan jauh dari mereka. Tetapi, bukan berarti mereka harus menikah juga, masih ada cara lain. Tentunya tidak dengan cara ini, sungguh Adelia tidak sanggup kalau harus menjalaninya.

Bicara tentang Zaidan dan menikah, Adelia tiba-tiba saja teringat sesuatu. Tentang suatu hari, saat Zaidan mengatakan ingin menjadikan Adelia sebagai istrinya.

Saat itu Adelia merengek, agar Zaidan mau menemaninya pergi menonton film terbaru. Awalnya Zaidan menolak, tapi Adelia tetap memaksa. Karena tidak tega, Zaidan pun akhir mau menuruti kemauan adiknya itu.

“Terima kasih, Abang. Nanti setelah nonton, beliin Adel makanan, ya!” pintanya.

“Hem, iya.” Adelia bersorak kegirangan, karena Zaidan mau menemani dirinya. Adelia tentunya tahu, kalau Zaidan paling tidak bisa melihat dirinya bersedih. Laki-laki itu akan selalu mengabulkan keinginannya, hal itu juga yang membuat Adelia bersyukur mempunyai kakak seperti Zaidan.

Zaidan dan Adelia sudah sampai di bioskop, di salah satu mall yang ada di Jakarta. Sebelum masuk bioskop, Adelia mengajak Zaidan untuk membeli popcorn terlebih dahulu. Sebagai kakak yang baik, tentunya Zaidan akan selalu menuruti keinginan sang adik.

Di saat mereka membeli popcorn, tidak sengaja Zaidan bertermu dengan teman perempuannya. “Hay, Zaidan,” sapanya.

“Hay, Lisa.” Adelia memperhatikan perempuan yang bernama Lisa itu, dia sangat cantik dan sepertinya juga seumuran dengan Zaidan.

“Kamu di sini ngapain? Mau nonton juga?” tanyanya.

“Iya,” jawab Zaidan singkat.

Lisa melihat ke arah Adelia. “Ini pasti adik kamu, ya? Duh, cantiknya,” pujinya.

Adelia tersenyum. “Iya, Kak. Aku adiknya Abang Zaidan, salam kenal.”

“Salam kenal juga! Nama kamu siapa, ya?”

“Adelia, Kak.”

“Namanya cantik, seperti orangnya.”

“Terima kasih, Kak.” Adelia terlonjak kaget, saat Zaidan tiba-tiba saja menarik tangannya untuk masuk ke dalam bioskop. Karena itu adalah pertama kalinya, Zaidan menyentuh dirinya setelah akil balig. Namun, saat itu Adelia tidak masalah, karena saat itu ia beranggapan kalau Zaidan memang kakak kandungnya.

Mereka sudah masuk dalam bioskop, Adelia hanya mengelus dada melihat tingkah kakaknya itu. Adelia tahu, kakaknya itu sama sekali tidak tidak pernah dekat perempuan. Ya, walaupun banyak perempuan yang ingin mendapatkan cintanya. Namun, entahlah apa yang ada dalam pikiran kakaknya itu, kenapa sampai saat ini tidak menikah.

Padahal kalau Zaidan ingin menikah, ia tinggal memilih perempuan yang banyak mendekatinya. Adelia tentunya tahu, kalau kakaknya mempunyai paras yang tampan. Banyak perempuan-perempuan di luar sana, yang mengejar cintanya. Namun, lagi-lagi kakaknya itu, tidak pernah melirik perempuan mana pun. Adelia bahkan sempat berpikir, kalau kakaknya itu tidak normal.

“Abang seharusnya tidak boleh bersikap seperti itu. Jangan terus-menerus tidak perduli dengan perempuan, kalau seperti itu terus kapan Abang punya istri,” ujar Adelia.

Zaidan menoleh. “Biarkan saja!” sahutnya.

Adelia mendengkus kesal. Kakaknya selalu saja seperti ini, tiap dikasih tahu selalu saja begitu. Hal itu juga yang sering membuat Bunda Melati, selalu gemas dengan Zaidan karena umur sudah masuk 30 tahun. Namun, belum punya istri juga.

“Jangan gitu, Bang. Nanti kalau Abang jomblo seumur hidup, bagaimana? Padahal Ayah dan Bunda ‘kan, sudah ingin punya cucu.”

“Anak kecil tidak usah ikut bicara! Kamu sama saja dengan Ayah dan Bunda, selalu saja membahas tentang istri.”

“Adel benar lho, Bang. Abang tuh, tidak bisa bersikap manis dengan perempuan. Padahal banyak lho, perempuan yang suka sama Abang. Ya, tapi … Abang aja yang selalu bersikap dingin.”

Zaidan hanya diam. Ia hanya mendengarkan, ocehan dari adiknya itu.

“Setidaknya Abang itu bersikap manis, sama seperti sikap Abang ke Adel. Ya, walaupun kadang menyebalkan, tapi ‘kan Abang selalu sayang dengan Adel.”

“Ya sudah, kalau begitu Abang nikah sama kamu aja.”

“Abang nih ada-ada saja, mana mungkin kita menikah.” Adelia terus tertawa, sambil masukan popcorn ke dalam mulutnya.

Saat itu Adelia memang tidak menanggapi ucapan dari Zaidan, baginya itu adalah sebuah candaan. Namun, sekarang ucapan itu seperti menjadi kenyataan. Apa yang dikatakan Zaidan, mungkin saja sebentar lagi akan terjadi.

Adelia tidak tahu, dulu apa maksud Zaidan bicara seperti itu. Tetapi, bukankah laki-laki itu tahu, kalau Adelia bukan adik kandungnya. Lantas apa alasannya bicara seperti itu dulu? Atau jangan-jangan ….

Adelia segera menggeleng, ini pasti tidak mungkin. Mana mungkin, mereka berdua kakak adik. Tidak mungkin, jadi suami istri.

***

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Adelia, ia bangkit dari duduk. Ia membuka pintu itu, untuk mengetahui siapa yang datang.

“Ada apa, Bi?” tanyanya saat pintu terbuka.

“Ini, Non. Bu Melati pingsan, Pak Reyhan akan membawanya ke rumah sakit,” jawabnya.

Seketika badan Adelia menegang. Apa yang terjadi dengan Bunda Melati? Sakit apa bundanya itu? Beberapa hari ini, setelah kejadian Ayah Reyhan dan Bunda Melati. Meminta ia yang menikah dengan Zaidan, Adelia seperti menghindari kedua orang tuanya itu. Adelia hanya mengurung diri di dalam kamar, bahkan untuk makan saja harus dibujuk.

Apa karena sikapnya, Bunda Melati jadi seperti ini? Tiba-tiba muncul rasa bersalah di hati Adelia, karena telah membuat wanita yang paling disayanginya seperti ini.

“Maafkan Adel, Bunda!” Dengan cepat, Adelia langsung berlari keluar. Ia langsung menghampiri, Ayah Reyhan yang akan membawa Bunda Melati ke rumah sakit.

“Ayah, Bunda kenapa?” Raut kekhawatiran, tidak bisa dibohongi. Apalagi, saat melihat wajah bundanya yang terlihat pucat.

“Syukurlah, kamu mau menemui Ayah dan Bunda, Del,” ujar Ayah Reyhan.

Adelia menunduk. Ia tahu, sikapnya selama ini salah. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu, dan berakibat bundanya jadi seperti ini. “Maafkan Adel, Yah!” lirihnya.

“Tidak apa-apa, Del! Ayah mengerti, sekarang kamu temani Ayah untuk membawa Bunda ke rumah sakit.”

Adelia mengangguk. Ia langsung masuk mobil, seperti apa yang ayahnya katakan.

Di dalam mobil, Adelia tidak ada henti-hentinya untuk memeluk Bunda Melati. Badan bundanya itu terasa panas, dan wajahnya semakin terlihat pucat. Hati Adelia seakan teriris, saat melihat kondisi bundanya seperti itu. Ini semua salahnya, coba saja jika ia tidak bersikap seperti itu. Mungkin saja, Bunda Melati tidak akan sakit seperti ini.

“Maafkan Adel, Bunda! Adel salah, tidak seharusnya Adel bersikap seperti itu. Ini semua salah Adel, karena sikap Adel Bunda jadi kepikiran.” Adelia terisak, sambil memeluk sang bunda.

Bunda Melati menggeleng pelan. “Tidak, Sayang! Adel tidak salah, Adel berhak marah dengan Bunda. Tapi, percayalah, Nak. Kalau Bunda, ingin yang terbaik untuk Adel. Bunda sangat menyayangi Adel, Bunda tidak ingin jauh-jauh dari kamu, Sayang.”

“Adel juga sayang, Bunda. Adel janji, tidak akan meninggalkan Bunda! Sekali lagi, maafkan Adel, Bunda.”

“Iya, Sayang. Bunda tidak pernah marah dengan Adel.”

“Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, Del. Di sini tidak ada yang salah, hanya mungkin kita semua kurang komunikasi. Ayah janji, setelah Bunda sehat. Ayah akan meluruskan semua, agar kamu juga bisa tenang.” Kali ini, Ayah Reyhan yang ikut bicara.

Adelia tersenyum. “Iya, Yah.”

“Tapi percayalah, Del. Kalau Ayah dan Bunda, hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan juga Zaidan. Tidak ada niat di hati kami, untuk membuat kamu dan Zaidan bersedih. Kami ingin kalian bahagia, karena kebahagiaan kalian juga kebahagiaan kami.”

“Iya, Ayah. Adel paham, dan janji tidak akan bersikap seperti itu lagi. Adel akan berusaha, jadi anak yang baik. Dan mematuhi, apa pun yang Ayah dan Bunda inginkan.”

Bersambung

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here