Nikah dengan Kakak Angkat #06

0
196
views

Hidup terkadang, tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, bisa saja terjadi pada kehidupan kita. Hanya ikhlas lah, yang bisa dilakukan. Atas semua takdir, yang diberikan oleh Allah Swt.

“Zaidan ingin pulang ke apartemen, Bunda,” pamitnya.

“Apa tidak bisa kamu di sini saja, Sayang? Bunda tidak ingin jauh-jauh dari kamu.” Suara Bunda Melati terdengar sangat memohon.

“Maaf, Bunda! Bukannya Zaidan tidak mau, tapi Bunda tahu sendiri ‘kan. Kalau Zaidan tidak enak kalau berada di rumah ini, Bunda tahu ‘kan kalau ada Adelia di sini.”

“Bunda tahu, Sayang. Tapi, Bunda, tidak ingin jauh-jauh dari kamu.”

“Bunda sendiri kan tahu, kalau Zaidan dan Adel bukan mahram. Kita tidak mungkin tinggal serumah, Bunda juga tahu kalau Zaidan selama ini menghindar agar tidak terjadi fitnah.”

“Tapi Bunda juga tidak ingin, jauh-jauh dari kamu, Sayang. Bunda ingin, kita seperti dulu lagi.  Kita bisa sama-sama, tidak seperti ini.”

Seketika tubuh Adelia menegang. Setelah mendengar, pembicaraan antara Bunda Melati dan Zaidan. Adelia sekarang baru tahu, kalau alasan Zaidan tidak tinggal di rumah ini karena dirinya. Zaidan menghindari dirinya, karena memang ia tahu bahwa mereka bukan mahram.

Adelia lagi-lagi terhantam kenyataan, kalau ia bukan siapa-siapa di rumah ini. Dan sekarang, gara-gara dirinya, Zaidan tidak bisa tinggal di rumah ini. Padahal Zaidan yang anak kandung, dari Ayah Reyhan dan Bunda Melati. Tetapi, Zaidan yang pergi dari rumah ini.

Adelia menjadi tidak enak, karena gara-gara dirinya semuanya seperti ini. Seharusnya Zaidan yang berada di rumah ini, bukan dirinya yang hanya anak angkat.

“Maaf, Bunda! Zaidan tidak bisa, Bunda harus mengerti. Zaidan janji, akan sering-sering ke sini. Untuk menemui Ayah dan juga Bunda, Zaidan mohon Bunda agar bisa mengerti semuanya,” ujarnya.

Adelia dapat melihat, mata Bunda Melati berkaca-kaca. Hal itu juga, mampu membuat air mata Adelia juga jatuh. Hatinya sakit, saat melihat Bunda Melati sedih seperti itu. Adelia tentunya tahu, tidak ada orang tua yang ingin jauh dari anaknya.

“Kamu kenapa, Del?”

Adelia terlonjak kaget, saat tiba-tiba saja Ayah Reyhan sudah ada di sampingnya.

“Adel tidak apa-apa, Yah!” Adelia menyeka kasar air matanya.

“Kamu kenapa nangis seperti ini? Kenapa nggak ikut, gabung dengan Bunda dan juga Abang?” cecar Ayah Reyhan. Adelia memang baru saja keluar kamar, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Bunda Melati dan Abang Zaidan. Yang memang mereka berdua, sedang duduk di ruang tamu.

Ayah Reyhan melihat Adelia, sebagai seorang ayah tentunya ia tahu kalau anaknya sedang bersedih. Pandangannya tidak beralih, menatap Bunda Melati dan juga Zaidan yang berjarak beberapa meter dari hadapannya.

Ayah Reyhan penasaran, apa sebenarnya yang dibicarakan istrinya dan juga Zaidan. Kenapa sampai membuat Adelia bersedih? Ayah Reyhan mencoba mendengarkan pembicaraan itu, ingin mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi.

Ayah Reyhan terdiam. Sekarang ia tahu, kenapa Adelia jadi sedih seperti ini. Adelia sudah mengetahui semuanya, kenapa alasan Zaidan tidak tinggal di rumah ini.

“Del, dengarkan penjelasan Ayah dulu! Kamu jangan berpikir macam-macam, semua ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan,” ujar Ayah Reyhan.

“Gara-gara Adel kan, Yah? Gara-gara Adel, Abang tidak tinggal di sini? Ini semua salah Adel, Yah!”

Ayah Reyhan menggeleng. “Tidak, Del! Ini tidak salah kamu, lebih baik kita samperin Bunda dan Abang. Kita bicara baik-baik, jangan seperti ini.”

“Tapi, Yah—–”

“Kita bicarakan semuanya baik-baik! Kamu harus ingat, kamu itu juga anak Ayah dan Bunda. Kalian berdua itu sama, tidak ada yang berbeda.”

Adelia akhirnya menurut. Ia mengikuti sang ayah, untuk menghampiri Bunda Melati dan juga Zaidan.

***

Adelia dan Ayah Reyhan sekarang sudah berada di hadapan, Bunda Melati dan Zaidan. Sangat terlihat jelas, raut keterkejutan dari mereka berdua. Saat melihat sudah ada di sini, menghampiri mereka. Yang mereka takutkan, adalah kalau Adelia mendengar semua pembicara mereka tadi. Bunda Melati atupun Zaidan tidak ingin, Adelia punya pikiran yang tidak-tidak tentang yang bicarakan tadi.

“Bunda,” panggil Adelia lirih.

Bunda Melati melihat, mata Adelia sudah berkaca-kaca. Ia yakin, kalau Adelia sudah mendengar semuanya. “Kenapa, Sayang? Sini duduk di samping, Bunda.” Bunda Melati menepuk sofa di sebelahnya.

Adelia menurut, dan langsung duduk di sebelah Bunda Melati. “Maafkan Adel, Bunda. Karena kehadiran Adel, Bunda jadi tidak bisa bersama dengan Abang Zaidan,” ujarnya.

Bunda Melati menggeleng. “Kamu bicara apa sih, Sayang? Kamu nggak salah apa-apa, ini semua bukan salah kamu.”

“Tapi, Bunda. Gara-gara Adel ada di rumah ini, Abang Zaidan jadi tidak bisa tinggal di sini.”

“Itu bukan salah kamu, Del. Abang memang ingin tinggal di apartemen, itu memang kemauan Abang sendiri.” Zaidan pun ikut bersuara.

Adelia menatap sendu, ketiga orang yang sangat berarti dalam hidupnya. “Maaf! Adel sudah menyusahkan hidup kalian,” lirihnya.

“Del, Bunda mohon! Jangan pernah bicara seperti itu, kamu tidak pernah menyusahkan siapa pun.” Bunda Melati mengelus sayang kepala Adelia.

“Tapi Adel tahu, kalau Bunda tidak ingin jauh dari Abang Zaidan. Selama ini, Bunda selalu cerita ke Adel. Kalau Bunda selalu ingin, Abang Zaidan tinggal di rumah ini lagi. Adel tahu Bunda, tidak ada ibu yang ingin jauh dari anaknya.”

Bunda Melati diam. Apa yang dikatakan Adelia memanglah benar.

“Jangan bicara seperti itu, Del. Abang masih bisa ke sini, untuk menjenguk kalian. Ayah, Bunda Zaidan pamit dulu, ya. Nanti Zaidan, pasti ke sini lagi.” Zaidan hendak pergi, tapi Bunda Melati menahannya. Bunda Melati tidak ingin, anaknya tinggal jauh darinya.

“Zai, kamu tinggal di sini saja!” pinta Bunda Melati.

Zaidan menggeleng. “Zaidan janji, Bunda. Akan sering main ke sini, Bunda jangan seperti ini.”

Melihat semua itu, Adelia menghembuskan napas pelan. Ia sangat tahu, kalau bundanya dan kakaknya saling merindukan. Adelia selalu merasa bersalah, semua ini karena dirinya.

“Abang Zai tidak usah pergi dari sini! Biar Adel aja yang pergi, Adel bisa cari kost dekat sini. Abang selama ini sudah mengalah, sekarang giliran Adel yang mengalah. Abang tinggal aja di sini, biar Adel yang pergi,” ujarnya.

“Apa-apaan kamu, Del? Ayah tidak mengizinkan kamu pergi, Ayah malah khawatir kalau kamu yang tinggal sendiri. Kamu itu anak perempuan, Del. Tidak baik, kalau harus jauh dari orang tua.” Ayah Reyhan yang dari tadi diam, akhirnya ikut bicara juga.

“Tapi, Yah—–”

“Ayah benar, Del. Bunda juga tidak mengizinkan, kamu juga sudah janji sama Bunda. Kalau kamu tidak akan meninggalkan, Ayah dan Bunda.” Bunda Melati juga ikut tidak setuju.

“Adel akan cari kost dekat sini, Bunda. Kita tidak akan jauh, Adel janji tidak akan meninggalkan Ayah dan Bunda.” Adelia mencoba memberikan pengertian.

“Tidak, Del. Abang aja yang pergi, kamu di sini saja. Kamu temani Ayah dan Bunda, Abang aja yang tinggal di apartemen.” Zaidan juga tidak setuju, dengan ide yang Adelia berikan.

“Terus Adel harus, bagaimana? Jujur saja, Adel merasa tidak enak. Kalian sudah baik dengan Adel, katakan apa yang harus Adel lakukan?”

“Ayah tahu. Bagaimana, kalau Zaidan dan Adel menikah saja? Dengan begitu, tidak ada yang pergi dari rumah ini. Ayah dan Bunda, tidak akan kehilangan kalian berdua.” Entahlah, Ayah Reyhan dapat ide dari mana. Sehingga, mempunyai pikiran seperti itu.

“Apa? Menikah?” Zaidan dan Adelia kaget bersamaan.

“Tidak mungkin, Yah! Adel tidak mau, menikah dengan Abang Zai,” tolaknya.

“Zaidan juga tidak mau, Yah!”

Ayah Reyhan menghela napasnya. “Apa salahnya jika kalian menikah? Toh, kalian bukan mahram. Kalian bisa menikah, tidak ada yang salah.”

“Ayah kalian benar! Kalian sebaiknya menikah saja, Bunda sangat setuju akan hal itu.” Bunda Melati juga ikut membenarkan.

“Bunda—-” Mata Adelia berkaca-kaca, ia tidak menyangka kalau bundanya juga menyetujui hal ini.

“Bunda mohon, Sayang! Bunda tidak mau, jauh dari kalian berdua.”

“Ayah kasih kalian waktu, untuk memikirkan semuanya. Ayah harap, keputusan ini adalah jalan keluar dari masalah kita.”

Adelia bangkit dari duduknya. “Adel tidak setuju! Adel tidak ingin menikah dengan Abang!” Setelah bicara seperti itu, Adelia langsung masuk ke dalam kamar. Ia tidak memperdulikan, tatapan sendu kedua orang tuanya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here